Home / KKN ULM / Ketika Siswa SD Bertanya “Sampah Dibuang ke Mana?”, Mahasiswa KKN ULM di Sungai Danau Mengajak Mereka Belajar hingga Jadi Karya
Ketika Siswa SD Bertanya “Sampah Dibuang ke Mana?”, Mahasiswa KKN ULM di Sungai Danau Mengajak Mereka Belajar hingga Jadi Karya
Redaksi/Agustus 9, 2026/Komentar Dinonaktifkan pada Ketika Siswa SD Bertanya “Sampah Dibuang ke Mana?”, Mahasiswa KKN ULM di Sungai Danau Mengajak Mereka Belajar hingga Jadi Karya
Mahasiswa KKNT-LH 17 Desa Sungai Danau, Noor Cahaya dan Faranesa, menyampaikan materi edukasi pemilahan sampah kepada siswa SDN 4 Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu. Sumber foto: Reyna Nushofha.
TANAH BUMBU – “Tahu tidak, sampah yang kita buang itu sebenarnya pergi ke mana?”
Pertanyaan sederhana itu menjadi pembuka Noor Cahaya ketika berhadapan dengan siswa SDN 4 Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Senin, 27 Juli 2026.
Mahasiswa Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Lingkungan itu tidak langsung memenuhi ruangan dengan penjelasan panjang. Ia memilih mengajak siswa berbicara dan menggali terlebih dahulu apa yang sudah mereka ketahui tentang sampah.
“Tau nggak apa itu sampah? Sampah itu apa, contohnya kayak gimana?” tanya Cahaya kepada siswa.
Dari pertanyaan sederhana tersebut, pembicaraan kemudian bergerak pada perjalanan sampah setelah dibuang. Cahaya bertanya lagi, ke mana sampah dibawa setelah seseorang membuangnya ke tempat sampah.
Sebagian siswa mengetahui istilah TPS dan TPA. Namun ketika ditanya apa perbedaan keduanya, mereka mulai terlihat bingung.
Di situlah Cahaya memberikan penjelasan menggunakan contoh yang dekat dengan keseharian mereka.
“TPS itu tempat pembuangan sampah. Kalian biasa pagi lihat kan truk-truk sampah itu? Nah, truk-truk sampah itu ngambil sampahnya di TPS,” jelasnya.
Ia kemudian menjelaskan mengapa truk sampah tidak mengambil sampah langsung dari rumah satu per satu. Dengan ukuran truk yang besar, pengangkutan dari rumah ke rumah dinilai tidak efisien dan dapat mengganggu kelancaran jalan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari PilahKarya, program KKNT-LH Kelompok 17 Desa Sungai Danau yang memadukan edukasi pemilahan sampah dengan workshop pembuatan gantungan kunci dari tutup botol plastik bekas.
Sebanyak 30 siswa, masing-masing perwakilan kelas IV, V dan VI SDN 4 Sungai Danau, mengikuti kegiatan yang berlangsung di aula sekolah sekitar pukul 09.00 Wita.
Sebelum kegiatan dimulai, mahasiswa KKN terlebih dahulu mengikuti upacara bendera bersama warga sekolah. Mereka kemudian diperkenalkan sebagai mahasiswa KKN sebelum kegiatan dilanjutkan di aula.
Noor Cahaya menyampaikan materi mengenai perjalanan sampah, termasuk mengenalkan fungsi TPS dan TPA, kepada siswa SDN 4 Sungai Danau dalam kegiatan edukasi pemilahan sampah KKNT-LH 17 Desa Sungai Danau. Sumber foto: Reyna Nushofha.
Noor Cahaya Ajak Siswa Menelusuri Perjalanan Sampah
Sekitar 20 menit pertama digunakan Cahaya untuk membangun interaksi dengan siswa. Materi tidak disampaikan secara kaku dengan berpatokan penuh pada bahan presentasi.
Ia justru berkali-kali melemparkan pertanyaan agar siswa ikut berpikir.
Ketika membahas TPS dan TPA, misalnya, Cahaya tidak hanya meminta siswa menghafalkan kepanjangannya. Ia mengajak mereka memahami fungsi kedua tempat tersebut dalam perjalanan sampah.
Sampah yang dibuang dari rumah dikumpulkan terlebih dahulu di TPS, kemudian diangkut menggunakan truk sebelum akhirnya dibawa ke TPA.
“Kenapa truk sampahnya nggak ngambil di rumah masing-masing?” kata Cahaya dalam menjelaskan kepada siswa.
Menurutnya, jika truk harus mengambil sampah dari setiap rumah, proses tersebut tidak akan efektif karena ukuran kendaraan yang besar dan banyaknya rumah yang harus didatangi.
Setelah penjelasan selesai, mahasiswa kembali memberikan pertanyaan kepada siswa untuk mengetahui apakah materi yang disampaikan benar-benar dipahami.
Cahaya mengatakan siswa cukup mampu mengikuti materi yang diberikan.
“Alhamdulillah mereka paham aja,” ujarnya.
Bahkan setelah seluruh materi disampaikan, siswa kembali diajak menjawab sejumlah pertanyaan untuk mengingat kembali pembahasan yang telah diberikan.
“Jadi setelah kami jelaskan semua materi, kami sesi tanya jawab. Dari kami berdua nanya-nanya, nge-review lagi materi yang kami jelaskan,” kata Cahaya.
Faranesa menyampaikan materi tentang jenis dan pengelolaan sampah kepada siswa SDN 4 Sungai Danau dalam kegiatan edukasi pemilahan sampah KKNT-LH 17 Desa Sungai Danau. Sumber foto: Reyna Nushofha.
Faranesa Jelaskan Perbedaan Sampah Organik dan Anorganik
Setelah Cahaya membahas perjalanan sampah, materi dilanjutkan Faranesa, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan.
Faranesa kembali memulai dengan pertanyaan sederhana.
Ia bertanya kepada siswa mengenai jumlah jenis sampah yang mereka ketahui.
“Tau lah jenis sampah itu ada berapa?” tanyanya.
“Dua,” jawab siswa.
“Dua itu apa aja?” lanjut Faranesa.
“Organik dan anorganik,” jawab mereka.
Jawaban tersebut menunjukkan bahwa siswa sudah mengetahui bahwa sampah terbagi menjadi dua kelompok. Namun ketika ditanya apa yang dimaksud dengan sampah organik dan anorganik, sebagian siswa masih belum dapat menjelaskannya.
Faranesa kemudian memberikan contoh yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Sampah anorganik itu sampah yang tidak bisa terurai atau sampah buatan manusia, hasil olahan pabrik,” jelasnya.
Sementara sampah organik dijelaskan sebagai sampah yang mudah terurai, seperti buah dan nasi. Ia juga menjelaskan bahwa sampah organik dapat dimanfaatkan kembali, salah satunya menjadi pupuk.
Di tengah penjelasan tersebut, muncul pertanyaan spontan dari seorang siswa yang justru membuat suasana semakin hidup.
“Kenapa sampahnya bisa bau?”
Faranesa menjawab bahwa bau dapat muncul karena sampah sudah bercampur dan dibiarkan selama beberapa hari.
“Karena sudah tercampur, sudah berhari-hari dan tercampur, jadi ada bau,” jelasnya.
Pertanyaan tersebut kemudian menjadi pintu masuk untuk menjelaskan kembali pentingnya pemilahan sampah sejak awal.
Faranesa juga memperkenalkan warna tempat sampah kepada siswa, yakni hijau untuk sampah organik dan kuning untuk sampah anorganik.
Dengan cara tersebut, siswa tidak hanya mengenal istilah organik dan anorganik, tetapi juga mengetahui contoh dan cara sederhana membedakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa KKNT-LH 17 Desa Sungai Danau mendampingi siswa SDN 4 Sungai Danau dalam praktik pembuatan gantungan kunci dari bahan bekas. Sumber foto: Reyna Nushofha.
Tutup Botol Bekas Disulap Jadi Gantungan Kunci
Setelah siswa mendapatkan pemahaman mengenai sampah dan pemilahannya, kegiatan berlanjut ke bagian yang lebih praktis.
Mahasiswa mengajak siswa memanfaatkan tutup botol plastik bekas untuk dibuat menjadi gantungan kunci atau ganci.
Siswa mengikuti proses pembuatan mulai dari pemilahan bahan, pembersihan, pembentukan hingga penyelesaian karya dengan pendampingan mahasiswa.
Kegiatan praktik tersebut menjadi kelanjutan dari materi yang sebelumnya mereka terima. Jika pada sesi pertama siswa diajak menelusuri perjalanan sampah dan mengenali jenisnya, pada sesi berikutnya mereka melihat secara langsung bahwa sebagian limbah plastik masih dapat dimanfaatkan.
Dengan demikian, konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R) tidak hanya disampaikan sebagai teori, tetapi langsung diperlihatkan melalui sebuah kegiatan yang bisa dilakukan siswa.
Bagi mahasiswa KKNT-LH Kelompok 17, pendekatan seperti ini diharapkan membuat pesan mengenai lingkungan lebih mudah diterima anak-anak.
Sebab, dari pertanyaan sederhana seperti “sampah dibuang ke mana?” hingga pertanyaan polos “kenapa sampahnya bisa bau?”, siswa sebenarnya sudah menunjukkan rasa ingin tahu terhadap persoalan yang mereka temui setiap hari.
Dari situlah mahasiswa mencoba mengajak mereka memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: mengenali, memilah, dan memanfaatkan kembali sampah yang masih memiliki nilai guna.
Kegiatan PilahKarya diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan siswa mengenai pemilahan sampah, menumbuhkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekolah dan rumah, serta mendorong kreativitas melalui pemanfaatan limbah plastik.
Mahasiswa KKNT-LH 17 Desa Sungai Danau bersama-sama mengikuti rangkaian kegiatan edukasi pemilahan sampah di SDN 4 Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu. Sumber foto: Reyna Nushofha.
Mahasiswa KKNT-LH Kelompok 17 Desa Sungai Danau terdiri dari 15 mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi, yakni:
1. Dita Eka Yulia
Fakultas Kehutanan
Program Studi Kehutanan
2. Yuliana
Fakultas Kehutanan
Program Studi Kehutanan
3. Gilang Rezky Ramadhan
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Program Studi Matematika
4. Oktavio Dypananda
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Program Studi Ilmu Komputer
5. Nova Adely
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Program Studi Statistika
6. Rizki M Iqbal
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Akuakultur
7. Desi Nurfatmawati
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
8. Kelvin
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Perikanan Tangkap
9. Faranesa
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan
10. Reyna Nurshofha
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan
11. Sintya NurlaIla
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan
12. Muhammad Fikri Haikal
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan
13. Muhammad Hafid Anwari Rahman
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Ilmu Kelautan
14. Muhammad Ilham Agus Priyanto
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Ilmu Kelautan
15. Noor Cahaya
Fakultas Teknik
Program Studi Teknik Lingkungan