
TANAH BUMBU – Warga Desa Pematang Ulin, Kecamatan Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu, ternyata menunjukkan ketertarikan terhadap budidaya maggot setelah mendapatkan edukasi dan demonstrasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Menariknya, ketertarikan tersebut tidak berhenti pada keinginan untuk mengetahui apa itu maggot. Sejumlah warga bahkan meminta mahasiswa Kelompok 5 KKN ULM membantu membuat rumah maggot yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan maggot sebagai pakan ternak.
Cerita itu disampaikan Ketua Kelompok 5 KKN Tematik Lingkungan Hidup ULM, Muhammad Daffa Raihan, saat berbincang mengenai kegiatan mereka selama melaksanakan KKN di Desa Pematang Ulin.
Dalam kegiatan tersebut, materi maggot dibawakan oleh Muhammad Daffa Raihan bersama Risafa Ersa Mahmudah, keduanya mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Prodi Akuakultur.
Menurut Daffa, kegiatan edukasi dan demonstrasi pengelolaan sampah tersebut dilaksanakan pada 28 Juli 2026 di Pendopo Desa Pematang Ulin. Kegiatan kemudian dilanjutkan di beberapa dusun pada 3 dan 4 Agustus 2026 agar materi dapat diterima lebih luas oleh masyarakat.
“Di desa Pematang Ulin itu belum ada yang pernah sama sekali membuat maggot,” kata Daffa.
Bahkan, menurutnya, sebagian warga pada awalnya belum mengetahui apa yang dimaksud dengan maggot.
Maggot yang diperkenalkan mahasiswa merupakan larva Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam yang dapat dimanfaatkan untuk membantu menguraikan limbah organik. Dalam edukasi tersebut, mahasiswa mencoba memperkenalkan cara sederhana memanfaatkan sisa makanan dan limbah organik rumah tangga agar tidak langsung berakhir menjadi sampah.
Bagi mahasiswa, pilihan maggot juga berkaitan dengan kondisi masyarakat Pematang Ulin yang sebagian bekerja sebagai petani dan memiliki ternak.
Daffa menjelaskan, masyarakat setempat selama ini dapat memanfaatkan sisa makanan, seperti nasi dan sayuran, untuk pakan ternak. Mahasiswa kemudian mencoba menawarkan alternatif dengan memanfaatkan limbah organik tersebut sebagai media budidaya maggot.
“Jadi hasil dari sampah warga dijadikan maggot. Maggot ini bisa digunakan lagi sebagai pakan ternak,” jelasnya.
Menurut Daffa, maggot dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pakan bagi ternak yang dipelihara masyarakat. Dengan demikian, sampah organik rumah tangga tidak hanya dibuang, tetapi dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang memiliki manfaat.

Yang membuat mahasiswa KKN cukup terkesan adalah respons warga saat mengikuti kegiatan.
Sekitar 30 orang lebih hadir dalam kegiatan pertama pada 28 Juli. Mayoritas peserta yang hadir merupakan ibu-ibu, meskipun terdapat pula sejumlah warga laki-laki serta perwakilan dari pemerintah desa.
Daffa mengatakan, warga terlihat antusias mengikuti penjelasan hingga demonstrasi pembuatan media maggot.
Setelah penyampaian materi, mahasiswa membuka sesi tanya jawab. Menurut Daffa, pertanyaan warga justru menunjukkan bahwa mereka mulai tertarik mencoba sendiri.
Ada warga yang menanyakan apakah bahan tertentu bisa diganti dengan bahan lain. Ada pula yang ingin mengetahui kemungkinan memanfaatkan berbagai jenis limbah yang tersedia di rumah.
“Kami menjawab dengan sepengetahuan kami. Alhamdulillah, warganya excited untuk datang dan juga excited untuk bertanya,” ujarnya.
Bagi Daffa, antusiasme tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama menjalankan program KKN.
Sebab, mereka tidak hanya datang untuk menyampaikan materi, tetapi juga melihat langsung bagaimana masyarakat merespons pengetahuan baru yang diberikan.

Dalam demonstrasi tersebut, mahasiswa memperlihatkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk membuat media budidaya maggot.
Beberapa bahan yang digunakan antara lain limbah sayuran, dedak, ampas tahu, serta bahan pendukung lainnya. Bahan-bahan tersebut dicampurkan dan kemudian ditempatkan pada media yang sesuai.
Mahasiswa juga menjelaskan bahwa maggot memiliki kemampuan memanfaatkan bahan organik sebagai media pertumbuhan.
Bagi masyarakat Pematang Ulin, konsep tersebut dinilai menarik karena bahan dasarnya relatif mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Sisa sayuran dan makanan yang sebelumnya dianggap sebagai sampah dapat diarahkan untuk proses budidaya, sementara maggot yang dihasilkan nantinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Daffa mengatakan, dari kegiatan tersebut muncul keinginan warga untuk memiliki tempat budidaya yang lebih permanen.
“Ada yang minta kepada kami untuk membuat tempat rumah maggot,” ungkapnya.
Namun, keterbatasan waktu menjadi kendala bagi mahasiswa untuk mewujudkan rumah maggot tersebut secara lengkap. Masa KKN mereka hanya berlangsung sekitar satu bulan.
Karena itu, mahasiswa baru dapat membantu menyiapkan media dan memberikan pengetahuan dasar mengenai proses pembuatannya.

Daffa mengatakan, sebenarnya kelompoknya memiliki rencana membuat rumah maggot agar masyarakat dapat mengambil dan membudidayakan maggot secara berkelanjutan untuk kebutuhan pakan ternak.
Namun, waktu pelaksanaan KKN yang terbatas membuat rencana tersebut belum dapat diwujudkan sepenuhnya.
Meski demikian, permintaan warga tersebut justru menjadi tanda bahwa edukasi yang diberikan mulai mendapat tempat.
Bagi Kelompok 5 KKN Tematik Lingkungan Hidup ULM, keberhasilan program bukan semata-mata diukur dari selesainya kegiatan demonstrasi, tetapi dari munculnya keinginan masyarakat untuk melanjutkan apa yang telah mereka pelajari.
Daffa berharap pengetahuan yang diberikan selama KKN tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan desa.
Sebab, apabila warga dapat melanjutkan pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot, manfaatnya tidak hanya berkaitan dengan pengurangan sampah, tetapi juga berpotensi mendukung kebutuhan pakan ternak masyarakat.
“Dengan pemanfaatan maggot ini, warga jadi paham untuk tidak membuang sampah organik lagi,” katanya.
Bagi mahasiswa, pengalaman di Pematang Ulin juga memberikan pelajaran bahwa edukasi lingkungan akan lebih mudah diterima ketika masyarakat dapat melihat langsung manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sampah dapur yang sebelumnya dibuang, warga kini mulai melihat kemungkinan lain: mengolahnya menjadi maggot, lalu memanfaatkannya kembali untuk kebutuhan ternak.
terdiri dari 15 mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi, yakni:
1. Muhammad Daffa Raihan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi S1 Akuakultur
2. Risafa Ersa Mahmudah
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Akuakultur
3. Franssisco Herbert Wosend
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Teknologi Hasil Perikanan
4. Siti Nur Anisa
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan
5. Asri Lestari
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Sosial Ekonomi Perikanan
6. Alfira Jinggawati Tama
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Sosial Ekonomi Perikanan
7. M. Ikhsam Abbani
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan
8. Karina Firdianti
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan
9. Syarifah Nabila Said
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan
10. Elysa Rahmadani
Fakultas Kehutanan
Prodi Kehutanan
11. Dedi Muhammad Harianoor
Fakultas Kehutanan
Prodi Kehutanan
12. Raudatul Jannah
Fakultas Teknik
Prodi Teknik Lingkungan
13. Alya Nursyifa
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Biologi
14. Bayu Atha Al Ghifari Sugianto
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Farmasi
15. Fakhrina Nur Aqila
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Statistika
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.