
Melihat Sampah Masih Bercampur di TPS, Mahasiswa Memilih Mengolahnya dari Sumber
TANAH BUMBU — Pilihan mahasiswa KKN Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk mengajak warga Desa Baroqah mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos ternyata berawal dari persoalan sederhana yang mereka temukan di lapangan.
Saat bersama Kepala Desa Baroqah melakukan uji coba pemilahan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS), mahasiswa melihat masih banyak sampah organik yang bercampur dengan sampah lainnya.
Kondisi itu kemudian membuat mereka berpikir untuk mengurangi sampah organik langsung dari sumbernya, sebelum semuanya berakhir dan bercampur di TPS.
“Karena sebenarnya melihat kemarin pada saat sama Pak Kades uji coba pemilahan sampah di TPS, banyak sampah-sampah organik yang tercampur,” ujar Rizki Ardiana, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan ULM Program Studi Perikanan Tangkap.
Menurut Rizki, dari kondisi tersebut mahasiswa kemudian memilih mengenalkan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos kepada masyarakat.
“Jadi kami mau mengurangi sampah organik langsung di sumbernya. Makanya kami sosialisasikan untuk menjadikan pupuk kompos,” katanya.
Sosialisasi sekaligus praktik pembuatan kompos itu dilaksanakan pada 4 Agustus 2026 di halaman Kantor Desa Baroqah, Kecamatan Simpang Empat, Tanah Bumbu.
Sekitar 20 orang mengikuti kegiatan tersebut. Peserta terdiri dari ibu-ibu PKK, kader Posyandu dan ibu-ibu dari perangkat desa.
Kegiatan berlangsung sekitar pukul 14.00 hingga 15.00 WITA.
Mahasiswa tidak hanya memberikan penjelasan mengenai kompos.
Mereka membawa langsung bahan-bahan yang digunakan dalam praktik.
Rizki menjelaskan, bahan yang disiapkan terdiri dari limbah kering dan limbah basah.
Limbah kering antara lain daun-daun kering dan serbuk kayu hasil penggergajian.
Sementara limbah basah berupa sisa sayuran, buah-buahan dan sisa makanan rumah tangga.
Bahan lain seperti dedak, tahu dan cangkang telur juga diperkenalkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan dalam proses pengomposan.
Mahasiswa kemudian menyiapkan bahan pendukung lainnya, termasuk EM4 dan molase.

Saat praktik berlangsung, Rizky tidak hanya menyebut nama bahan.
Ia memperlihatkannya langsung kepada peserta.
Rizky menjelaskan bahwa molase yang digunakan dalam praktik tersebut terbuat dari gula merah.
Ia juga menunjukkan botol EM4 yang digunakan sebagai salah satu bahan pendukung dalam proses pengomposan.
Setelah itu, Rizky memperlihatkan media yang digunakan untuk praktik.
Mahasiswa menggunakan box transparan berukuran sekitar 25 liter. Pada bagian atas box dibuat beberapa lubang sebagai tempat sirkulasi udara selama proses pengomposan.
Menurut Rizky, pembuatan kompos tidak harus menggunakan wadah khusus.
“Bisa pakai box, bisa pakai karung,” ujarnya.
Setelah semua bahan disiapkan, mahasiswa mulai mempraktikkan proses pencampuran.
Beberapa ibu kemudian ikut maju dan membantu mencampurkan bahan bersama mahasiswa.
Suasana pun terasa lebih cair.
Salah seorang ibu yang ikut mencampurkan bahan bahkan tertawa sambil berkata,
“Kayak bemainan kayak itu nah…”
Ucapan spontan tersebut disambut tawa kecil ibu-ibu lainnya yang duduk menyaksikan.
Bagi Rizky, keterlibatan warga menjadi salah satu hal yang membuat kegiatan berjalan lebih hidup.
Ia mengatakan, ibu-ibu yang mengikuti kegiatan cukup cepat memahami materi karena langsung ikut dalam praktik.
“Alhamdulillah cepat memahami juga, Pak, karena kan langsung ikut praktik juga ibu-ibunya. Ada yang ikut maju ke depan,” katanya.

Saat menjelaskan proses pembuatan kompos, Rizky juga menerangkan bahwa tidak semua bahan organik bisa langsung dimasukkan begitu saja.
Ada bahan yang perlu diperkecil terlebih dahulu agar lebih mudah terurai.
Salah satunya kulit pisang.
Menurut Rizky, daun pisang justru tidak terlalu disarankan karena membutuhkan waktu lebih lama untuk terurai.
“Kalau kulit pisang bisa dicacah atau digiling,” jelas Rizky saat mendemonstrasikan pembuatan kompos bersama teman-temannya.
Namun, ketika hendak menyebut kata digiling, Rizky sempat kesulitan mengucapkannya.
“Di…,” ujar Rizky.
Spontan, salah seorang ibu menyahut,
“Di-blender… di-blender.”
Rizky kemudian melanjutkan,
“Digiling, digiling.”
Ucapan tersebut langsung disambut tawa kecil ibu-ibu dan mahasiswa perempuan yang mendampinginya.
Suasana praktik yang semula berlangsung serius pun menjadi lebih santai.
Warga tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan. Mereka ikut mencoba, bertanya dan berinteraksi langsung dengan mahasiswa.
Sebelum materi dimulai, peserta terlebih dahulu diberikan pre-test.
Setelah materi selesai, mereka kembali diberikan post-test.
Menurut Rizky, pertanyaan tersebut berkaitan dengan pengetahuan peserta mengenai sampah organik dan dampaknya terhadap lingkungan serta pengetahuan dasar tentang kompos.
“Pre-test itu untuk mengasah pengetahuan masyarakat terkait kompos sama sampah organik sebelum memulai materi,” jelasnya.
Menariknya, meski kegiatan diarahkan kepada ibu-ibu, Kepala Desa Baroqah Markuwat juga sempat diberikan lembar pre-test dan post-test.
“Karena kan di situ ada Bapak Kades juga, padahal kan tujuannya arahnya ke ibu-ibu, jadi sempat dikasih juga Bapak Kades kemarin terkait pre-test dan post-test-nya,” cerita Rizky.
Bagi Rizky, momen tersebut menjadi salah satu cerita yang cukup seru selama kegiatan berlangsung.

Bagi mahasiswa KKN ULM, alasan memilih kompos bukan semata karena cara pembuatannya relatif sederhana.
Ada persoalan yang mereka lihat lebih dulu.
Sampah organik masih bercampur dengan sampah lainnya di TPS.
Karena itu, mereka mencoba mengajak warga mengelolanya dari rumah.
Sisa sayuran, kulit buah, daun dan sisa makanan yang biasanya langsung dibuang diharapkan bisa diperlakukan berbeda sehingga memiliki manfaat kembali.
Hasil pengolahan tersebut nantinya dapat digunakan untuk tanaman dan membantu kesuburan tanah.
Rizky mengatakan, hal itu cukup relevan bagi masyarakat yang memiliki tanaman atau senang bertanam di halaman rumah.
Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai dari TPS.
Menurut mahasiswa, langkahnya justru bisa dimulai dari rumah, tempat sampah itu pertama kali dihasilkan.
Menjalankan kegiatan tersebut juga tidak sepenuhnya mudah.
Rizky mengatakan, salah satu kendala mahasiswa selama KKN adalah mengumpulkan masyarakat.
Menurutnya, banyak warga Desa Baroqah merupakan pendatang dan memiliki kesibukan bekerja.
“Karena kan kebanyakan masyarakat di Desa Baroqah itu pendatang semua dan sibuk bekerja juga,” ujarnya.
Karena itu, mahasiswa kemudian menggandeng ibu-ibu PKK untuk mengikuti sosialisasi pembuatan kompos.
Selain kegiatan tersebut, mereka juga melakukan sosialisasi pemilahan sampah secara rumah ke rumah di tiga RT.
Namun, Rizky menegaskan kegiatan door to door tersebut merupakan kegiatan berbeda dengan sosialisasi pembuatan kompos.
Untuk pembuatan kompos, kegiatan dilaksanakan satu kali bersama ibu-ibu PKK.
Pada akhirnya, kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan cara membuat pupuk kompos.
Mahasiswa mencoba mengajak warga melihat kembali sampah yang setiap hari mereka hasilkan.
Apa yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata masih bisa dipilah dan dimanfaatkan.
Di halaman Kantor Desa Baroqah, proses itu berlangsung sederhana.
Ada bahan yang dicampurkan, ada warga yang ikut maju, ada pertanyaan yang muncul, dan ada tawa kecil yang muncul di sela-sela praktik.
Dari sampah yang bercampur di TPS, mahasiswa mencoba mengajak warga memulainya dari rumah.
Bukan dengan cara yang rumit, tetapi dengan mengenali sampah organik, memilahnya dan mengolahnya menjadi sesuatu yang kembali bermanfaat.

Kegiatan pengolahan sampah organik tersebut merupakan bagian dari program kelompok KKN ULM Desa Baroqah yang diketuai Fajar Sidiq, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Program Studi Statistika.
Kelompok ini beranggotakan mahasiswa dari sejumlah fakultas dan program studi di ULM yang selama berada di Desa Baroqah menjalankan berbagai kegiatan bersama masyarakat.
1. Fajar Sidiq
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Statistika
2. M. Alwi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Matematika
3. Maulida Hayati
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan
4. Nabela Aulia Rahman
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Fisika
5. Najwa Zulaiha
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Akuakultur
6. Septa Kamiar
Fakultas Kehutanan
Prodi S1 Kehutanan
7. Netha Nurhaliza Taraya Syayani
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan
8. Salma Najima
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Sosial Ekonomi Perikanan
9. Fauzan Muhammad Hafidz
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan
10. Lucky Lusty ‘Alaina
Fakultas Kehutanan
Prodi S1 Kehutanan
11. Nasywa Alifa
Fakultas Teknik
Prodi Teknik Lingkungan
12. Rizki Ardiana
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Perikanan Tangkap
13. Herwin Dhafi A. N.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Akuakultur
14. Aurora Nabila Yuriandani Putri
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan
15. Tasnida
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Teknologi Hasil Perikanan
16. Aulia Rahmah
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Farmasi
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.