
TANAH BUMBU – Serbuk kayu yang selama ini kerap dianggap sebagai bahan sisa diperkenalkan sebagai bahan yang masih bisa dimanfaatkan menjadi briket. Gagasan tersebut diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup (KKNT-LH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kelompok 7 kepada masyarakat Desa Batulicin Irigasi melalui sosialisasi dan demonstrasi pembuatan briket.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 28 Juli 2026, di sekitar pendopo Desa Batulicin Irigasi itu diikuti sekitar 20 warga, yang didominasi ibu-ibu. Materi dan demonstrasi kegiatan melibatkan Abdi Cahaya Girsang, Nabella Melani, Nathania Adzra’ Rusnita dan Muhammad Fahrizal Hasbi. Mahasiswa tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi juga memperagakan langsung proses pembuatan briket menggunakan bahan dan peralatan sederhana.

Nabella Melani, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan ULM Program Studi Akuakultur, yang membantu demonstrasi sekaligus menjadi sumber informasi kegiatan kepada media, menceritakan proses yang mereka lakukan.
Menurut Nabella, Abdi Cahaya Girsang, mahasiswa Fakultas Kehutanan Program Studi Kehutanan, menjadi mahasiswa yang paling aktif memberikan materi dalam kegiatan tersebut. Sementara Nabella membantu memperagakan proses pembuatannya.
Bahan yang digunakan berupa serbuk kayu. Serbuk tersebut terlebih dahulu dibakar secara perlahan menggunakan metode dengan sekam hingga berubah menjadi arang.
Setelah menjadi arang, bahan kemudian diayak menggunakan saringan hingga mendapatkan tekstur yang lebih halus. Nabella menyebut mahasiswa menggunakan saringan 40 mesh dan 60 mesh dalam proses tersebut.
Arang yang sudah halus kemudian dicampur dengan bahan perekat berupa tepung tapioka atau tepung kanji. Tepung dicampur dengan air dan dimasak hingga mengental seperti lem, kemudian didinginkan sebelum dicampurkan dengan arang.
Adonan selanjutnya diaduk hingga merata dan cukup padat. Untuk mencetaknya, mahasiswa memanfaatkan pipa sederhana. Adonan dimasukkan ke dalam pipa kemudian ditekan menggunakan bagian pipa yang lebih kecil hingga padat dan dapat dikeluarkan menjadi briket.“Serbuk kayunya itu kami bakar sampai menjadi arang, baru kami adon, lalu kami cetak, baru jadi briketnya.”
Karena menggunakan cetakan sederhana dengan peralatan yang terbatas, bentuk dan ukuran briket hasil demonstrasi tidak seluruhnya seragam. Namun, mahasiswa juga menunjukkan kepada warga bahwa cetakan dapat dikembangkan agar menghasilkan bentuk yang lebih seragam jika pembuatan briket ingin dilanjutkan.

Gagasan memperkenalkan briket tidak hanya berangkat dari ketersediaan bahan baku. Mahasiswa juga melihat adanya kebutuhan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Desa Batulicin Irigasi.
Di desa tersebut terdapat Pasar Jadul yang dalam aktivitas memasaknya masih menggunakan arang. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan mahasiswa untuk memperkenalkan briket sebagai alternatif bahan bakar yang dapat dibuat dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar.“Di Pasar Jadul itu biasanya nggak pakai kompor, mereka pakai arang. Jadi bisa jadi kami bikin itu supaya jadi pengganti arang, jadi mereka bisa bikin sendiri dari bahan baku yang ada.”
Menurut Nabella, briket yang diperkenalkan kepada masyarakat dapat menghasilkan panas yang cukup tahan lama dan lebih banyak menghasilkan bara ketika digunakan.
Respons warga terhadap kegiatan tersebut juga cukup positif. Selain menyaksikan demonstrasi, sejumlah warga ikut memperhatikan dan berpartisipasi dalam proses pembuatan. Ketika mahasiswa memberikan sampel hasil demonstrasi, warga terlihat antusias dan bahkan ada yang membawa sampel tersebut ke rumah.
Pertanyaan warga juga muncul mengenai kemungkinan briket dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai jual. Hal ini menunjukkan bahwa demonstrasi tersebut tidak hanya menarik perhatian dari sisi pemanfaatan limbah, tetapi juga membuka pemikiran mengenai peluang pemanfaatan bahan yang tersedia di desa.
Bagi mahasiswa KKNT-LH Kelompok 7, kegiatan tersebut menjadi pengalaman untuk memperkenalkan pemanfaatan bahan sisa melalui cara yang sederhana dan dapat dipraktikkan kembali oleh masyarakat.

1. Muhammad Ramadhani
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan
2. Abdi Cahaya Girsang
Fakultas Kehutanan
Prodi Kehutanan
3. Nabella Melani
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Akuakultur
4. Nathania Adzra’ Rusnita
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Akuakultur
5. Muhammad Arjun Wirawan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan
6. Atania Nikita Tarigan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan
7. Aisya Salsabella
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan
8. Rizka Amalia
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan
9. Reza Anindya Arifin
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Teknologi Hasil Perikanan
10. Nika Maria Dani
Fakultas Kehutanan
Prodi Kehutanan
11. Firmando Tinambunan
Fakultas Kehutanan
Prodi Kehutanan
12. Muhammad Fakhriza Hakim
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Statistik
13. Fitria
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Biologi
14. Herny Noor Aziziah
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Sosial Ekonomi Perikanan
15. Muhammad Fahrizal Hasbi
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Sosial Ekonomi Perikanan
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.