
TANAH BUMBU – Daun kering, tandan kosong kelapa sawit, kotoran sapi hingga abu pembakaran dimanfaatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup (KKNT-LH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk memperagakan pembuatan pupuk organik padat di Desa Batulicin Irigasi.
Kegiatan yang dilaksanakan Kamis, 23 Juli 2026 itu berlangsung di rumah kompos Desa Batulicin Irigasi. Muhammad Ramadhani, Nika Maria Dani dan Atania Nikita Tarigan terlibat dalam kegiatan penyampaian materi dan demonstrasi pengolahan pupuk organik tersebut.
Atania Nikita Tarigan, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan ULM Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, menceritakan pengalaman mereka saat memperagakan proses pembuatan kompos di rumah kompos yang saat itu masih tergolong baru.
“Kami mendemonstrasikan cara pengolahannya dari takaran bahan coklat, itu dari bahan daun kering, sama tandan kosong sawit yang sudah terurai. Kemudian ada kotoran sapi, terus ada abu, sama arang bubuk,” ujar Atania.
Menurutnya, bahan-bahan tersebut bukan sesuatu yang sulit ditemukan di sekitar desa.
“Semua itu sudah tersedia di rumah kompos itu. Untuk kotoran sapi itu kayak sudah ada di desanya. Mereka ada peternakan sapi yang cukup banyak, kemudian di sana dekat sama kebun sawit. Nah, itu jadi banyak tandan kosong sawit yang tidak dimanfaatkan,” tuturnya.

Salah satu bagian yang cukup menarik dalam praktik tersebut adalah penggunaan arang bubuk yang terlebih dahulu direndam atau difermentasi menggunakan pupuk organik cair (POC).
Atania mengatakan perlakuan tersebut dilakukan untuk membantu mempercepat proses pematangan kompos.
“Arang bubuknya ini yang sudah direndam atau difermentasi, Bapak. Supaya cepat proses untuk pematangan komposnya sendiri,” katanya.
Ia menjelaskan, kompos yang dibuat dalam kegiatan tersebut merupakan kompos dalam skala kecil yang dapat diterapkan untuk kebutuhan rumah tangga.
“Kami membuat kemarin itu skala kecil, untuk yang 50 kilo yang bisa dibuat untuk skala rumahan.”
Dalam praktiknya, bahan tidak langsung dicampur sekaligus. Mahasiswa menyusunnya secara berlapis, mulai dari bahan cokelat, kotoran sapi, abu pembakaran daun, hingga arang bubuk yang telah difermentasi.
“Untuk pencampurannya itu harus berlapis, Bapak. Jadi bahan coklat terlebih dahulu, kemudian kotoran sapi, kemudian baru abu, kemudian abunya itu abu bakaran daun. Kemudian baru dilapis dengan arang bubuk yang sudah dibacem tadi.”
Abu yang digunakan pun harus berasal dari pembakaran bahan organik.
“Abu bakaran daun tersebut tidak boleh tercampur dengan bahan plastik. Jadi itu memang harus bakaran abu.”
Setelah semua bahan tersusun, campuran kemudian diaduk hingga merata sambil diberi air secukupnya.
Untuk mengetahui apakah kadar airnya sudah tepat, mahasiswa menunjukkan cara sederhana yang bisa dilakukan tanpa alat khusus.
“Saat untuk mengetahui kadar air yang dicampurkan itu pas, kita bisa digenggam. Kalau digenggam itu campurannya tidak meneteskan air, berarti kelembapan dalam campuran komposnya cukup pas.”

Kegiatan di rumah kompos tersebut tidak hanya menjadi demonstrasi mahasiswa. Sejumlah warga turut mengikuti prosesnya dan beberapa di antaranya mengajukan pertanyaan mengenai pengolahan kompos.
Atania mengatakan pertanyaan warga antara lain berkaitan dengan penggunaan arang yang sebelumnya direndam atau difermentasi menggunakan POC.
“Ada beberapa bapak-bapaknya juga menanyakan dari segi cara pengolahan untuk arang bacemannya ini, karena yang dominan dan uniknya itu arangnya difermentasi atau direndam menggunakan POC, pupuk organik cair.”
Setelah campuran selesai dibuat, kompos kemudian ditutup selama sekitar satu minggu untuk membantu proses fermentasi.
“Satu minggu pertama itu, kalau komposnya tercampur rata, itu ditutup rapat supaya fermentasinya lebih cepat.”
Setelah satu minggu, bahan dibuka dan dibalik kembali. Proses tersebut kemudian dilakukan secara berkala sambil tetap menjaga kelembapan campuran.
Atania menyebut proses pematangan dapat berlangsung sekitar satu bulan apabila kompos dirawat dengan baik.
“Satu bulan atau 30 hari itu sudah bisa matang, kalau sering dibolak-balik dan disiram air.”
Tanda kompos telah matang juga dapat dilihat dari perubahan fisiknya.
“Pupuk kompos yang matang itu dipegang sudah tidak panas lagi. Sudah tidak panas, kemudian warnanya lebih hitam, cokelat kayak tanah humus.”
Bagi mahasiswa KKNT-LH Kelompok 7, praktik tersebut menjadi cara sederhana untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar masih dapat dimanfaatkan kembali.
Rumah kompos yang baru dibangun pun mulai dimanfaatkan sebagai tempat praktik, sehingga masyarakat dapat melihat langsung bagaimana bahan organik yang ada di sekitar dapat diolah menjadi pupuk yang bermanfaat.

1. Muhammad Ramadhani
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan
2. Abdi Cahaya Girsang
Fakultas Kehutanan
Prodi Kehutanan
3. Nabella Melani
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Akuakultur
4. Nathania Adzra’ Rusnita
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Akuakultur
5. Muhammad Arjun Wirawan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan
6. Atania Nikita Tarigan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan
7. Aisya Salsabella
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan
8. Rizka Amalia
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan
9. Reza Anindya Arifin
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Teknologi Hasil Perikanan
10. Nika Maria Dani
Fakultas Kehutanan
Prodi Kehutanan
11. Firmando Tinambunan
Fakultas Kehutanan
Prodi Kehutanan
12. Muhammad Fakhriza Hakim
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Statistik
13. Fitria
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Biologi
14. Herny Noor Aziziah
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Sosial Ekonomi Perikanan
15. Muhammad Fahrizal Hasbi
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Sosial Ekonomi Perikanan
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.