Next Post

Luar Biasa! Ibu-Ibu Desa Pematang Ulin Berebut Maju Belajar Ember Tumpuk, Sampah Rumah Tangga pun Diubah Mahasiswa KKN ULM Jadi Pupuk

Fakhrina Nur Aqila dan Bayu Atha Al-Givhary Sugianto menjelaskan cara membuat ember tumpuk kepada warga Dusun 2, Desa Pematang Ulin, Kecamatan Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu, Senin (3/8/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari edukasi pengelolaan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk oleh mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup ULM. (Sumber Foto: Muhammad Daffa Raihan)

TANAH BUMBU — Ada suasana berbeda ketika mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengajak warga Desa Pematang Ulin, Kecamatan Karang Bintang, belajar membuat ember tumpuk.

Bukan hanya mendengarkan penjelasan, ibu-ibu yang mengikuti kegiatan justru ramai ketika mahasiswa meminta mereka ikut maju dan membantu praktik.

Cerita itu disampaikan Fakhrina Nur Aqila, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ULM Program Studi Statistika, yang bersama rekannya, Bayu Atha Al-Givhary Sugianto, menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut.

“Warga di sana sangat-sangat excited, Pak. Apalagi ibu-ibu PKK-nya,” cerita Aqila saat berbincang mengenai kegiatan KKN mereka.

Program edukasi dan demonstrasi tersebut dilakukan dalam tiga kesempatan. Pertama pada 28 Juli di Dusun 3, kemudian 3 Agustus di Dusun 2, dan terakhir 4 Agustus di Dusun 1.

Materi ember tumpuk diberikan bersamaan dengan edukasi dan demonstrasi maggot yang menjadi bagian dari program Kelompok 5 KKN di Desa Pematang Ulin.

Pembagian lokasi itu dilakukan agar kegiatan bisa menjangkau warga di beberapa dusun.

Fakhrina Nur Aqila dan Bayu Atha Al-Givhary Sugianto bersama mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup ULM mengikuti kegiatan edukasi dan demonstrasi pembuatan ember tumpuk bersama warga Dusun 2, Desa Pematang Ulin, Kecamatan Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu, Senin (3/8/2026). Ember tumpuk diperkenalkan sebagai cara sederhana mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk. (Sumber Foto: Muhammad Daffa Raihan)

Dua Ember Bekas, Bukan Alat yang Sulit

Saat menjelaskan ember tumpuk kepada warga, Aqila tidak langsung berbicara soal hasil akhirnya. Ia dan Bayu membawa warga melihat bagaimana alat sederhana tersebut dibuat.

Menurut Aqila, ember tumpuk pada dasarnya menggunakan dua ember bekas.

“Untuk ember tumpuk sendiri itu tentunya menggunakan dua ember bekas,” ujarnya.

Salah satu ember kemudian dilubangi menggunakan bor. Kedua ember ditumpuk sehingga cairan yang berasal dari proses pengomposan dapat turun ke bagian bawah.

“Ember kedua itu dilubangi supaya nanti menghasilkan pupuk cair organik,” jelasnya.

Sementara bagian atas digunakan untuk menampung bahan-bahan organik yang akan diproses menjadi kompos.

Aqila kemudian menjelaskan bahan yang dapat dimasukkan ke dalamnya.

Ada sampah organik cokelat seperti daun kering, kemudian sampah organik hijau seperti sisa sayuran, kulit buah dan sisa makanan rumah tangga.

Bahan tersebut disusun berlapis.

“Pokoknya dicacah-cacah, berlapis. Baru nanti ditutup lagi pakai sampah organik hijau,” kata Aqila.

Setelah itu, bagian atas kembali ditutup menggunakan bahan organik cokelat seperti daun kering.

Baca Juga :  Dari Tutup Botol Bekas Jadi Kalender, Mahasiswa KKNT-LH ULM Ajak Pelajar SMP Berkreasi Lewat Program SULAP
Warga Desa Pematang Ulin mempraktikkan pengolahan bahan organik dalam kegiatan pembuatan ember tumpuk di Dusun 2, Desa Pematang Ulin, Kecamatan Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu, Senin (3/8/2026). Praktik tersebut merupakan bagian dari edukasi pengelolaan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk yang diberikan mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup ULM. (Sumber Foto: Muhammad Daffa Raihan)

Air Cucian Beras Pun Bisa Dipakai

Salah satu bagian yang menurut Aqila menarik adalah ketika mereka memberikan pilihan kepada warga mengenai cairan yang dapat digunakan dalam proses pengomposan.

Saat demonstrasi, mahasiswa menggunakan EM4.

Namun kepada warga, mereka juga menjelaskan bahwa ada pilihan lain yang lebih mudah ditemukan di rumah.

“Kalau misalnya memang sulit nyarinya, atau malas juga, bisa pakai air cucian beras,” ujar Aqila.

Air cucian beras tersebut bisa dimanfaatkan untuk membantu proses pengomposan, meski menurut Aqila prosesnya dapat berlangsung lebih lama dibandingkan menggunakan EM4.

Dari proses tersebut nantinya dihasilkan dua bentuk pupuk.

Bagian atas menghasilkan pupuk organik padat atau kompos, sedangkan cairan yang terkumpul di bagian bawah dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair.

Namun Aqila mengingatkan, cairan tersebut tidak langsung digunakan begitu saja pada tanaman.

“Jangan langsung disiram ke tanaman,” jelasnya, karena pupuk cair tersebut perlu dicampur dengan air biasa sebelum digunakan.

Warga Desa Pematang Ulin berebut maju untuk ikut mempraktikkan pembuatan ember tumpuk bersama mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup ULM di Dusun 2, Desa Pematang Ulin, Kecamatan Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu, Senin (3/8/2026). Warga tampak terlibat langsung dalam proses pengolahan bahan organik rumah tangga. (Sumber Foto: Muhammad Daffa Raihan)

Ibu-Ibu Berebut Mau Maju

Bagi Aqila, bagian yang paling berkesan justru bukan ketika menjelaskan cara membuat ember tumpuk.

Yang membuatnya senang adalah respons warga ketika mahasiswa mengajak mereka ikut praktik.

“Misalnya kami mempraktikkan, terus kami bilang, siapa ibu yang mau maju buat bantu kami? Ibunya banyak yang mau, banyak yang bersedia,” cerita Aqila.

Suasana menjadi lebih cair karena warga tidak merasa sedang mengikuti kegiatan yang kaku.

Mahasiswa juga menyiapkan hadiah kecil bagi warga yang bersedia maju membantu demonstrasi.

Menurut Aqila, ibu-ibu yang hadir cukup terbuka. Mereka tidak hanya melihat mahasiswa sebagai orang yang datang membawa materi, tetapi ikut berdiskusi berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

“Kayak sama-sama belajar aja sih dari ibunya,” katanya.

Ada pula suasana bercanda selama kegiatan. Aqila mengaku tidak lagi mengingat persis salah satu kejadian lucu yang terjadi pada kegiatan pertama.

Namun satu hal yang masih diingatnya adalah suasana kegiatan yang ramai dan akrab.

“Intinya rame, pokoknya saling bercanda. Ibu-ibunya sangat-sangat terbuka juga,” ujar Aqila.

Warga Desa Pematang Ulin mempraktikkan pengolahan bahan organik dalam kegiatan pembuatan ember tumpuk di Dusun 1, Desa Pematang Ulin, Kecamatan Karang Bintang, Kabupaten Tanah Bumbu, Selasa (4/8/2026). Bagi warga yang gemar menanam di pekarangan rumah, pupuk yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik tersebut dapat dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanaman. (Sumber Foto: Muhammad Daffa Raihan)

Warga Memang Suka Menanam

Ketertarikan ibu-ibu terhadap ember tumpuk ternyata menurut Aqila berkaitan dengan kebiasaan mereka sehari-hari.

Baca Juga :  Serbuk Kayu Tak Lagi Terbuang, Mahasiswa KKN ULM Ubah Jadi Briket di Batulicin Irigasi

Ia melihat banyak warga, khususnya ibu-ibu, yang memang senang menanam tanaman di sekitar rumah.

“Rata-rata kan ini suka bertanam. Suka menanam pokoknya yang ada di pekarangan rumahnya,” katanya.

Karena itu, ketika mahasiswa menjelaskan bahwa hasil ember tumpuk dapat dimanfaatkan kembali untuk tanaman, warga lebih mudah menangkap manfaatnya.

Aqila menilai alat tersebut juga relatif sederhana karena bahan dan alat yang diperlukan mudah ditemukan.

“Karena juga mudah dicarikan bahannya, alat bahannya itu mudah didapatkan,” ujarnya.

Antusiasme itu bahkan tidak berhenti saat kegiatan berlangsung. Menurut Aqila, setelah mengetahui cara membuat ember tumpuk, beberapa ibu-ibu datang membawa ember sendiri ke posko mahasiswa KKN dan meminta dibuatkan ember tumpuk.

“Ibu-ibunya sampai bawa ember sendiri ke posko kami, minta dibikinkan,” cerita Aqila.

Bagi Aqila, hal tersebut menjadi salah satu cerita menarik selama kegiatan KKN. Warga tidak hanya tertarik mendengarkan penjelasan, tetapi mulai menunjukkan keinginan untuk mencoba menerapkannya di rumah.

Keinginan tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak sesi diskusi. Beberapa ibu-ibu menyampaikan kepada mahasiswa bahwa mereka memiliki ember bekas di rumah dan meminta bantuan untuk dibuatkan ember tumpuk.

“Beberapa ibu-ibunya mau minta kami bikinkan ember tumpuknya karena mereka ada ember bekas di rumahnya. Terus kami jawab, bisa aja, nanti datang ke posko kami bikinkan,” cerita Aqila.

Di situlah menurutnya ember tumpuk menjadi menarik bagi warga.

Sampah yang biasanya berakhir di tempat pembuangan dapat diproses kembali. Hasilnya kemudian kembali digunakan oleh keluarga yang menghasilkannya.

“Jadi sampah-sampah yang ada di rumah mereka tuh bisa terkelola,” kata Aqila.

Ia bahkan menggambarkan manfaatnya dengan sederhana.

“Anggapannya kada dibuang sia-sia aja sih, gitu. Kembali bermanfaat untuk warganya sendiri,” ujarnya.

Ibu-ibu warga mengikuti kegiatan edukasi dan praktik pengolahan sampah organik menjadi pupuk, didampingi mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup ULM di Dusun 1, Desa Pematang Ulin, Kecamatan Karang Bintang, Tanah Bumbu, Selasa (4/8/2026). (Sumber Foto: Muhammad Daffa Raihan)

Dari Rumah, Kembali ke Tanaman

Bagi Aqila, inti dari edukasi ember tumpuk bukan sekadar mengajari warga membuat alat dari dua ember bekas.

Ada kebiasaan baru yang ingin diperkenalkan: sampah rumah tangga dipilah, diproses, kemudian hasilnya dimanfaatkan kembali.

Terlebih bagi warga yang memiliki tanaman di pekarangan rumah.

Pupuk organik padat maupun cair yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk tanaman mereka.

Dengan begitu, sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna justru memiliki nilai guna baru.

“Enggak perlu beli pupuk lagi di luar, anggapannya,” kata Aqila.

Cerita Aqila tentang kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa edukasi lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang rumit.

Di Pematang Ulin, mahasiswa KKN ULM datang membawa dua ember bekas, beberapa bahan organik dan pengetahuan yang mereka miliki.

Selebihnya, warga yang membuat kegiatan itu hidup.

Ada ibu-ibu yang maju membantu, ada yang bertanya, ada yang bercanda, dan ada pula yang mulai melihat sampah rumah tangga dari sudut pandang berbeda.

Bagi mahasiswa KKN, ember tumpuk mungkin hanya salah satu program kerja. Tetapi bagi warga yang sehari-hari menanam di pekarangan, pengetahuan sederhana itu bisa menjadi cara baru memanfaatkan sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai sampah..

Warga bersama mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup ULM mengikuti rangkaian kegiatan edukasi pengelolaan sampah rumah tangga di Dusun 2, Desa Pematang Ulin, Kecamatan Karang Bintang, Tanah Bumbu, Senin (3/8/2026).

Mahasiswa KKNT-LH Kelompok 5 Tanah Bumbu, Desa Pematang Ulin, Kecamatan Karang Bintang

terdiri dari 15 mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi, yakni:

1. Muhammad Daffa Raihan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi S1 Akuakultur

2. Risafa Ersa Mahmudah
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Akuakultur

3. Franssisco Herbert Wosend
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Teknologi Hasil Perikanan

4. Siti Nur Anisa
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan

5. Asri Lestari
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Sosial Ekonomi Perikanan

6. Alfira Jinggawati Tama
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Sosial Ekonomi Perikanan

7. M. Ikhsam Abbani
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan

8. Karina Firdianti
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan

9. Syarifah Nabila Said
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan

10. Elysa Rahmadani
Fakultas Kehutanan
Prodi Kehutanan

11. Dedi Muhammad Harianoor
Fakultas Kehutanan
Prodi Kehutanan

12. Raudatul Jannah
Fakultas Teknik
Prodi Teknik Lingkungan

13. Alya Nursyifa
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Biologi

14. Bayu Atha Al Ghifari Sugianto
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Farmasi

15. Fakhrina Nur Aqila
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Statistika

Avatar photo

Redaksi

Related posts

Newsletter

Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.

Loading

Proyek Baru - 2025-11-12T104826.198
banner kalimantansmartinfo
Iklan Berita (1)
banner kalimantansmart

Recent News