Next Post

Agroforestry Itu Apa Sih? 60 Warga Purwodadi Penasaran, Turun ke Kebun Bersama Mahasiswa KKN ULM

Mahasiswa bersama warga melakukan praktik penanaman bibit dalam penerapan program Agroforestry di salah satu kebun warga Desa Purwodadi. Kegiatan ini menjadi tahap lanjutan setelah sosialisasi.

TANAH BUMBU – “Agroforestry itu apa sih?” Pertanyaan seperti itu menjadi bagian dari rasa penasaran warga Desa Purwodadi, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, ketika mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat (KKNT-LH) Kelompok 1 Tanah Bumbu memperkenalkan program kerja Agroforestry di Kantor Desa Purwodadi, Kamis, 30 Juli 2026.

Sekitar 60 warga hadir dalam kegiatan tersebut. Namun sosialisasi tidak berhenti di dalam ruangan. Setelah materi disampaikan, mahasiswa bersama masyarakat langsung turun ke kebun untuk melihat sekaligus menerapkan pola Agroforestry melalui penanaman sejumlah bibit.

Program tersebut dibawakan oleh tiga mahasiswa Fakultas Kehutanan ULM, yakni Miftahul Norsifa, Chicka Amanda Adelia, dan Rachel Oktavia. Ketiganya menjadi pemateri dalam kegiatan Agroforestry Kelompok 1.

Miftahul mengatakan, sebelum sampai pada tahap sosialisasi dan penanaman, mahasiswa terlebih dahulu melakukan sejumlah persiapan, termasuk mencari sumber bibit dan lokasi yang sesuai.

Mahasiswa KKNT-LH Kelompok 1 Tanah Bumbu saat mengikuti kegiatan sosialisasi program Agroforestry bersama masyarakat Desa Purwodadi, Kecamatan Angsana. Kegiatan berlangsung di Kantor Desa Purwodadi dan diikuti sekitar 60 warga.

Dari Mencari Bibit hingga Menemukan Kebun yang Cocok

Menurut Miftahul Norsifa, langkah awal dimulai dengan menghubungi Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Dari sana, mahasiswa kemudian diarahkan untuk berkoordinasi dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).

“Awalnya Ulun menghubungi DLH, terus direkomendasikan DLH ke KPH untuk tanam bibit-bibit yang berbuah,” ujar Miftahul.

Dari KPH, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk meminta bibit dengan catatan setelah mahasiswa menyelesaikan KKN, penyiraman dan perawatan tanaman tetap dilanjutkan.

Persoalannya kemudian bukan hanya mendapatkan bibit, tetapi juga mencari lokasi yang sesuai sekaligus memastikan ada warga yang bersedia merawatnya.

Mahasiswa lalu berkoordinasi dengan aparat Desa Purwodadi dan diarahkan untuk menghubungi RT setempat.

Dari komunikasi tersebut, mahasiswa kemudian diajak melihat beberapa lokasi kebun di wilayah RT 1 dan RT 2.

Saat melihat kondisi kebun, mahasiswa menemukan tanaman yang sudah tumbuh di lokasi, seperti durian dan tanaman berkayu lainnya. Di bagian lain juga terdapat tanaman pertanian seperti singkong.

Kondisi tersebut dinilai cocok untuk dijadikan contoh penerapan Agroforestry.

“Jadi ini bisa untuk jadi kebun Agroforestry dengan sistem penanaman campuran,” kata Miftahul.

Bagi Miftahul, Agroforestry secara sederhana merupakan pemanfaatan satu lahan dengan menggabungkan tanaman berkayu dan tanaman pertanian.

Baca Juga :  Tak Disangka, Mahasiswa KKN di Segumbang Ubah Sampah Dapur Jadi Cairan Serbaguna

“Kalau Agro itu berarti pertanian, kalau Forestry berarti kehutanan. Jadi dalam satu lahan itu ada tanaman berkayu dan juga ada tanaman pertanian,” jelasnya.

Menurutnya, pola tersebut memungkinkan lahan dimanfaatkan secara maksimal sekaligus tetap menjaga lingkungan agar tetap lestari.

Mahasiswa KKNT-LH Kelompok 1 Tanah Bumbu bersama warga Desa Purwodadi, Kecamatan Angsana, saat turun langsung ke kebun untuk melakukan penerapan program Agroforestry melalui penanaman bibit.

60 Warga Tak Hanya Mendengar, tetapi Ikut Turun ke Kebun

Dukungan masyarakat menjadi bagian yang tidak kalah penting dalam pelaksanaan program tersebut.

Chicka Amanda Adelia, salah satu pemateri dari Fakultas Kehutanan ULM, mengatakan masyarakat Desa Purwodadi sangat menerima kehadiran mahasiswa sejak proses awal hingga kegiatan dilaksanakan.

“Alhamdulillah, masyarakat di Desa Purwodadi sangat menerima kami. Dari awal datang sampai kegiatan dilaksanakan, mereka cukup antusias dan mau ikut terlibat,” kata Chicka.

Sekitar 60 warga mengikuti sosialisasi yang dilaksanakan di Kantor Desa Purwodadi.

Setelah penyampaian materi selesai, masyarakat tidak langsung meninggalkan lokasi.

Mereka justru ikut turun ke kebun bersama mahasiswa untuk melihat sekaligus melakukan penerapan Agroforestry.

“Sekitar 60 orang yang hadir saat sosialisasi. Setelah selesai di Kantor Desa, kami langsung turun ke kebun untuk penerapan. Jadi masyarakat tidak hanya mendengarkan materi, tetapi ikut melihat dan terlibat langsung,” ujarnya.

Bagi mahasiswa, keterlibatan masyarakat sejak awal memang penting. Sebab, tanaman yang ditanam tidak cukup hanya ditanam, tetapi membutuhkan penyiraman dan perawatan secara berkelanjutan setelah mahasiswa menyelesaikan masa KKN.

Karena itu, pembicaraan mengenai keberlanjutan perawatan tanaman sudah dilakukan sejak mahasiswa mencari lokasi.

Mahasiswa dan masyarakat Desa Purwodadi bersama-sama melakukan penanaman dan melihat langsung penerapan sistem Agroforestry di lahan warga.

Pagi Mencangkul, Sore Menanam

Setelah lokasi ditentukan dan bibit diperoleh, mahasiswa menyiapkan 15 bibit. Sebanyak 12 bibit digunakan untuk penanaman di lokasi, sementara tiga bibit lainnya diberikan kepada warga.

Bibit yang ditanam terdiri dari tabebuya, sirsak dan jengkol.

Sebelum penanaman, mahasiswa terlebih dahulu menyiapkan lubang tanam.

Miftahul mengatakan pencangkulan dilakukan pada pagi hari karena kondisi tanah cukup keras akibat musim kemarau. Untuk 12 bibit, mahasiswa harus menyiapkan 12 lubang.

Namun saat kembali ke lokasi pada sore hari, beberapa lubang ternyata masih perlu diperdalam.

“Waktu sore ke sana ternyata lubang yang kami gali itu kurang dalam. Dibantu lagi oleh Pak RT 2 untuk mencangkul kembali lubangnya,” tutur Miftahul.

Penanaman kemudian dilakukan bersama mahasiswa dan perwakilan RT serta warga.

Baca Juga :  Mahasiswa KKN ULM di Mekar Jaya Edukasi Warga Tanah Bumbu Pilah dan Manfaatkan Sampah

Penempatan tanaman juga disesuaikan dengan karakter masing-masing.

Tabebuya ditempatkan di pinggir jalan karena memiliki bunga yang menarik. Sementara sirsak ditempatkan di bagian tengah, sedangkan jengkol diberi jarak lebih jauh karena tajuknya akan berkembang dan melebar.

Dalam sosialisasi, mahasiswa juga menjelaskan kepada warga mengenai persoalan cahaya dan air ketika beberapa jenis tanaman tumbuh dalam satu lahan.

Salah satu teknik yang diperkenalkan adalah pruning, atau pemangkasan cabang dan tajuk yang berlebihan agar pertumbuhan tanaman tetap terkontrol dan cahaya masih dapat masuk ke tanaman di bawahnya.

“Cutting dahan, tapi tidak secara berlebihan agar pohonnya tetap hidup,” kata Miftahul.

Selain persoalan cahaya, warga juga menanyakan bagaimana mengurangi biaya dalam kegiatan pertanian.

Menurut Miftahul, pupuk dan bahan-bahan kimia yang mahal menjadi salah satu persoalan yang dipikirkan masyarakat.

Mahasiswa kemudian menyarankan pemanfaatan sampah dapur sebagai bahan kompos atau melalui lubang biopori yang nantinya dapat menghasilkan pupuk alami.

“Sampah-sampah dapur seperti sisa makanan itu dikumpulkan, dibuat kompos ataupun dibuat lubang biopori yang nantinya itu akan jadi pupuk alami untuk tanaman,” ujarnya.

Program Agroforestry tersebut akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan menanam bibit.

Bagi mahasiswa KKNT-LH Kelompok 1, prosesnya dimulai dari mencari bibit, mencari lahan, berdiskusi dengan warga, memahami kondisi kebun, menentukan jenis dan posisi tanaman, hingga memikirkan bagaimana tanaman tersebut tetap dirawat setelah mahasiswa meninggalkan desa.

Sementara bagi masyarakat, kegiatan tersebut memberi gambaran bahwa satu lahan tidak selalu harus digunakan hanya untuk satu jenis tanaman.

Ada ruang untuk memadukan tanaman berkayu dengan tanaman pertanian, selama kondisi lahan, kebutuhan cahaya, air, jarak tanam dan perawatannya diperhatikan.

Program Agroforestry KKNT-LH Kelompok 1 Tanah Bumbu di Desa Purwodadi tersebut dibawakan oleh Miftahul Norsifa, Chicka Amanda Adelia, dan Rachel Oktavia, ketiganya dari Fakultas Kehutanan ULM, Program Studi S1 Kehutanan.

Mahasiswa KKNT-LH Kelompok 1 Tanah Bumbu bersama perangkat desa dan masyarakat Desa Purwodadi usai pelaksanaan sosialisasi dan praktik Agroforestry. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pemanfaatan lahan dengan memadukan tanaman kehutanan dan tanaman pertanian.

Mahasiswa KKNT-LH Kelompok 1 Tanah Bumbu, Desa Purwodadi, Kecamatan Angsana, terdiri dari 15 mahasiswa dari berbagai fakultas dan program studi, yakni:

1. Miftahul Norsifa
Fakultas Kehutanan
Prodi S1 Kehutanan

2. Christhio Advent Yogitiana
Fakultas MIPA
Prodi S1 Kimia

3. Sintha Maharani
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Teknologi Hasil Perikanan

4. Rosalia Wiratama
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Perikanan Tangkap

5. Ervan Anshary
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan

6. Rachel Oktavia
Fakultas Kehutanan
Prodi S1 Kehutanan

7. Nor Hikmah Rahmadana
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan

8. Rahmad Fiky
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi S1 Fisika

9. Try Mahita Febrianti Saragih
Fakultas Kehutanan
Prodi S1 Kehutanan

10. Nisrina Nur Azizah
Fakultas Teknik
Prodi Teknik Lingkungan

11. Siti Nursahida
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan

12. Frans Siskus Lo Han Long
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Sosial Ekonomi Perikanan

13. Sari’ah
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Matematika

14. Dimas Chandra
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan

15. Chicka Amanda Adelia
Fakultas Kehutanan
Prodi S1 Kehutanan

Avatar photo

Redaksi

Related posts

Newsletter

Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.

Loading

Proyek Baru - 2025-11-12T104826.198
banner kalimantansmartinfo
Iklan Berita (1)
banner kalimantansmart

Recent News