Next Post

UNIK! Ibu-Ibu Gunung Antasari Ikut Arisan Ide Mahasiswa KKN ULM, yang Dikumpulkan Bukan Uang tapi Sampah

Ibu-ibu Desa Gunung Antasari tampak serius menyimak penjelasan mahasiswa KKNT-LH ULM Kelompok 19 Aksara dalam kegiatan edukasi pemilahan sampah, sebelum mengikuti program Arisan Pilah Sampah. Sumber foto: Herny Noor Aziziah

TANAH BUMBU – Ada yang berbeda dari arisan yang berlangsung di Desa Gunung Antasari, Kecamatan Simpang Empat. Para ibu tidak mengumpulkan uang sebagaimana arisan pada umumnya, melainkan memilah dan mengumpulkan sampah dari rumah masing-masing.

Program Arisan Pilah Sampah tersebut merupakan ide mahasiswa KKNT-LH Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kelompok 19 Aksara sebagai tindak lanjut edukasi pemilahan sampah kepada masyarakat. Kegiatan berlangsung selama delapan hari, mulai 25 Juli hingga 1 Agustus 2026, dan diikuti 33 warga dari RT 01, RT 07 dan RT 10, terdiri dari 32 perempuan dan satu laki-laki.

Norhikmah, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan ULM Program Studi Akuakultur, menjadi salah satu mahasiswa yang menjelaskan program tersebut. Menurutnya, Arisan Pilah Sampah muncul setelah mahasiswa melakukan edukasi kepada warga mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya.

“Arisan pilah sampah ini merupakan tindak lanjut program kami dari edukasi pilah sampah di Desa Gunung Antasari, di RT 1, RT 7, dan RT 10 yang diikuti oleh 33 orang.”

Edukasi tersebut dilakukan di rumah Ibu Dahlia, wakil ketua RT. Di sana mahasiswa mencoba mengetahui terlebih dahulu bagaimana pandangan warga terhadap sampah.

“Kami ajukan pertanyaan sama ibu-ibu di sana, apa dalam pikiran ibu-ibu terkait sampah. Kata ibu-ibunya, sampah itu kotor, tidak berguna.”

Mahasiswa kemudian mencoba memperkenalkan sudut pandang berbeda bahwa sampah tertentu masih dapat dimanfaatkan dan bahkan memiliki nilai ekonomi.

“Jika diolah menjadi produk yang baik, sampah organik maupun anorganik itu dapat dijadikan bahan produk yang bermanfaat, bisa menambah pendapatan masyarakat juga.”

Mahasiswa KKNT-LH ULM Kelompok 19 Aksara berdiskusi dengan warga Desa Gunung Antasari dalam pelaksanaan program Arisan Pilah Sampah. Kegiatan ini mendorong warga memilah dan menimbang sampah dari rumah sebelum dilaporkan melalui grup WhatsApp. Sumber foto: Herny Noor Aziziah

Dari Edukasi Sampah hingga Muncul Ide Arisan

Dalam edukasi tersebut, warga dikenalkan pada empat jenis sampah, yaitu organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu.

Norhikmah menjelaskan sampah organik sebagai sampah yang mudah terurai, seperti sisa makanan dan sayuran.

“Sampah organik itu adalah sampah yang mudah terurai. Contohnya sisa makanan ibu, habis makan sayur, itu sampah organik.”

Baca Juga :  Dari Daun Kering hingga Kotoran Sapi, Warga Batulicin Irigasi Belajar Membuat Pupuk Kompos

Sementara sampah anorganik membutuhkan waktu lebih lama untuk terurai. Contohnya antara lain botol plastik, berbagai kemasan dan kardus yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menjelaskan bahaya sampah B3, mahasiswa menggunakan baterai sebagai salah satu contoh. Warga diajak memahami bahwa baterai tidak semestinya dibuang sembarangan karena dapat mencemari lingkungan.

“Kalau baterainya dibuang sembarangan, misalnya jatuh ke sungai, sungai itu tercemar oleh logam merkuri. Logam merkuri itu akan terakumulasi di dalam tubuh ikan. Terus siapa yang makan ikan? Kami.”

Sedangkan sampah residu merupakan sampah yang tidak dapat didaur ulang, seperti puntung rokok dan popok sekali pakai.

Mahasiswa juga menjelaskan bahwa sampah organik dan anorganik yang telah dipilah dapat dimanfaatkan kembali. Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi kompos, media maggot maupun ekoenzim. Sementara sampah anorganik dapat dimanfaatkan menjadi ecobrick atau dijual melalui fasilitas pengelolaan sampah.

Menurut Norhikmah, dari edukasi tersebut mahasiswa menemukan bahwa warga sebenarnya sudah terbiasa membuang sampah pada tempatnya, tetapi belum terbiasa memilah berdasarkan jenisnya.

“Kata ibu-ibunya, sudah buang sampah itu pada tempat sampah, namun belum dipilah mana sampah organik, mana sampah anorganik.”

Kondisi tersebut kemudian mendorong mahasiswa membuat program Arisan Pilah Sampah sebagai pemicu agar kebiasaan memilah sampah mulai dilakukan dari rumah.

“Bukan seperti arisan pada umumnya. Ini arisan di mana kami mengajak para ibu-ibu untuk ikut memilah sampah dari sumbernya.”

Norhikmah, mahasiswa KKNT-LH ULM Kelompok 19 Aksara, menjelaskan mekanisme Arisan Pilah Sampah kepada warga Desa Gunung Antasari. Sumber foto: Herny Noor Aziziah.

33 Warga Berlomba Pilah Sampah Selama Delapan Hari

Arisan Pilah Sampah dilaksanakan secara daring melalui grup WhatsApp. Peserta terlebih dahulu memilah sampah organik dan anorganik dari rumah, kemudian memotret, menimbang dan mengirimkannya ke dalam grup sesuai format yang telah ditentukan.

“Ibu pilah dulu sampah mana. Tadi kan sudah dijelaskan mana jenis-jenis sampah. Jadi ibu itu harus pilih dulu, foto sampah organik, terus ibu timbang. Habis timbang itu kirim di grup, disertakan format yang telah kami tentukan.”

Agar kegiatan berjalan teratur, mahasiswa menetapkan batas waktu pengiriman mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WITA. Setiap peserta juga maksimal mengirimkan dua kali foto dalam sehari.

“Jika lebih dari jam tersebut, maka gambar tersebut tidak kami hitung dalam lomba arisan pilah sampah.”

Baca Juga :  Pengalaman Tio, Mahasiswa KKN ULM di Desa Purwodadi

Penentuan pemenang tidak hanya berdasarkan jumlah sampah. Ada empat indikator yang digunakan, yakni kesesuaian format pengiriman, keaktifan peserta, berat sampah yang dikumpulkan dan ketepatan waktu pengiriman.

“Indikator keaktifan ibu-ibu dalam mengirimkan sampah setiap harinya. Kami maksimalkan dalam satu hari itu setiap orang cuma boleh mengirimkan dua kali gambar sampahnya.”

Berat sampah juga menjadi salah satu bagian penilaian.

“Kami juga indikator berat, itu berapa banyak ibu-ibu dalam sehari dalam memilah sampah. Jadi berat juga termasuk dari indikator pemenang.”

Menariknya, seluruh 33 peserta ikut mengirimkan dokumentasi selama program berlangsung.

“Kami dari 33 orang itu semuanya mengirimkan gambar.”

Setelah seluruh data direkap, ditetapkan tiga pemenang. Juara pertama diraih Ibu Emi dari RT 01, dengan 43,2 kilogram sampah anorganik dan 27,3 kilogram sampah organik atau total 70,5 kilogram.

Juara kedua diraih Ibu Nurdiana dari RT 07, dengan total 31,5 kilogram, terdiri dari 4,5 kilogram sampah anorganik dan 27 kilogram sampah organik.

Sementara Ibu Zainab atau Mama Acha dari RT 07 meraih juara ketiga dengan total 14,8 kilogram, terdiri dari 11,1 kilogram sampah anorganik dan 3,7 kilogram sampah organik.

Bagi mahasiswa KKNT-LH Kelompok 19 Aksara, Arisan Pilah Sampah bukan sekadar perlombaan untuk menentukan siapa yang mengumpulkan sampah paling banyak. Program tersebut menjadi cara untuk memulai kebiasaan memilah sampah dari rumah.

Selama delapan hari, sampah yang biasanya langsung dibuang justru dipilah, ditimbang, didokumentasikan dan dikirimkan oleh warga. Dari kebiasaan sederhana itulah mahasiswa mencoba mendorong perubahan cara masyarakat memperlakukan sampah sejak dari sumbernya.

Warga Desa Gunung Antasari bersama mahasiswa KKNT-LH ULM Kelompok 19 Aksara berfoto bersama setelah pelaksanaan program Arisan Pilah Sampah yang berlangsung selama delapan hari.
Sumber foto: Herny Noor Aziziah.

Anggota Kelompok 19 AKSARA terdiri atas:

1. Ahmad Fadhil Azhim
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan

2. Almas Diya Nathifa
Fakultas Teknik
Program Studi Teknik Lingkungan

3. Alya Norhaida
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan

4. Aulia Khairunisa
Fakultas Kehutanan
Program Studi Kehutanan

5. Elki Septrila Wijaya
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan

6. Hasna Ridha Luthfiyani
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Ilmu Kelautan

7. Indah Budi Astuti
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Program Studi Farmasi

8. Maulana Malik Ibrahim
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Perikanan Tangkap

9. Muhammad Madhan
Fakultas Kehutanan
Program Studi Kehutanan

10. Muhammad Nashir
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Program Studi Matematika

11. Norhikmah
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Akuakultur

12. Paquita Sandy Avenani Tarigan
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Program Studi Biologi

13. Parni Pratama
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan

14. Putri Nayla Alifah Kurniawan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Ilmu Kelautan

15. Riyyan Wahyu Nispada
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Teknologi Hasil Perikanan

16. Talina Pranoto
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan

Avatar photo

Redaksi

Related posts

Newsletter

Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.

Loading

Proyek Baru - 2025-11-12T104826.198
banner kalimantansmartinfo
Iklan Berita (1)
banner kalimantansmart

Recent News