Next Post

Pengalaman Tio, Mahasiswa KKN ULM di Desa Purwodadi

Praktik pembuatan media pertumbuhan maggot menggunakan campuran ampas tahu, pakan ayam, dan molase di Desa Purwodadi, Kecamatan Angsana, Tanah Bumbu.
Sumber foto: Miftahul Norsifa

TANAH BUMBU – Sebuah program kerja tidak selalu berakhir seperti rencana yang dibuat sejak awal. Hal itu dialami Tio saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Purwodadi, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu. Setelah turun langsung ke lapangan, melihat kondisi sampah dan mendengar persoalan warga, rencana yang semula ingin membuat ecobrick justru berubah arah.

Tio merupakan nama panggilan Christhio Advent Yogitiana, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Program Studi S1 Kimia. Ia menjadi penanggung jawab program kerja Manajemen dan Pengolahan Sampah Terpadu KKN ULM Kelompok 1 Desa Purwodadi.

Dalam program tersebut, Tio bekerja bersama Rahmad Fiky, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Program Studi S1 Fisika, yang membawakan materi Manajemen Sampah Terpadu, serta Frans Siskus Lo Han Long, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan, yang membawakan materi pengolahan dan pemanfaatan sampah organik menjadi maggot.

Kelompok ini dipimpin Sari’ah, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Program Studi Matematika.

“Kalau dari kami, kemarin itu bikin rencana kegiatannya sebenarnya bukan pengolahan maggot. Yaitu adalah pembuatan ecobrick,” kata Tio.

Mahasiswa KKN ULM Kelompok 1 Tanah Bumbu saat memberikan sosialisasi manajemen sampah terpadu kepada warga Desa Purwodadi, Kecamatan Angsana. Sumber foto: Miftahul Norsifa

Rencana Ecobrick Berubah Setelah Melihat Purwodadi

Sebelum survei, mahasiswa memperkirakan sampah anorganik akan menjadi persoalan utama. Namun setelah melihat langsung kondisi rumah warga, mereka justru menemukan sampah organik lebih dominan.

“Ternyata setelah kami datangi di sana, di Desa Purwodadi tersebut, sampah yang banyak itu adalah sampah organik. Sampah anorganiknya tidak terlalu banyak.”

Menurut Tio, rata-rata satu keluarga terdiri atas empat sampai lima orang dan timbulan sampah dari masing-masing rumah relatif kecil.

“Setelah kami data, timbulan sampah yang dihasilkan dari tiap rumah itu tidak sampai satu kilogram. Sampah anorganiknya mungkin 0,5 kilogram dan sampah organiknya malah lebih banyak, bisa satu kilogram, 800 gram, atau bahkan 700 gram.”

Kondisi tersebut membuat mereka berpikir ulang.

“Kalau kami bikin ecobrick, nggak relevan. Nggak ada keberlanjutannya.”

Mahasiswa kemudian melihat persoalan lain yang lebih dekat dengan kehidupan ekonomi warga. Banyak masyarakat memelihara ayam, bebek dan ikan lele, sementara harga pakan menjadi salah satu beban.

“Keluhan dari masyarakat Desa Purwodadi itu tingginya harga pakan. Saat mau menjual lele, mereka bingung bagaimana untungnya. Karena harga pakan yang naik, kalau dimakan sendiri malah nggak menghasilkan untung. Capek merawatnya saja.”

Dari situ muncul gagasan memanfaatkan sampah organik menjadi maggot.

“Otomatis kami putar otak kembali untuk memanfaatkan sampah organik tersebut menjadi pakan.”

“Oleh karena itu kami ambillah jalan tengah. Kita ambil jalan tengah untuk mengolah sampah organik tersebut menjadi maggot.”

Maggot dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara sisa budidayanya berupa kasgot dapat digunakan sebagai pupuk kompos.

“Dan maggot tersebut menghasilkan sisa maggotnya atau kasgot, yang kasgot tersebut dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos.”

Warga Desa Purwodadi mengikuti sesi diskusi dan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi dalam budidaya maggot.
Sumber foto: Miftahul Norsifa

Tidak Ada TPS, Sampah Sebagian Warga Dibakar

Persoalan sampah di Purwodadi juga berkaitan dengan belum adanya tempat pembuangan sampah sementara.

Baca Juga :  UNIK! Ibu-Ibu Gunung Antasari Ikut Arisan Ide Mahasiswa KKN ULM, yang Dikumpulkan Bukan Uang tapi Sampah

“Yang menjadi permasalahan di Desa Purwodadi itu adalah tidak adanya tempat pembuangan sampah sementara.”

Kondisi itu membuat sebagian warga memilih membakar sampah di sekitar rumah.

“Secara otomatis mereka membakar sampah tersebut karena mereka ini rata-rata dari transmigrasi. Mereka punya lahan pekarangan yang cukup luas, jadi mereka bisa membakar sampah di daerah kawasan rumahnya.”

Namun bagi pendatang yang tinggal mengontrak, kondisinya berbeda.

“Ketika orang-orang pendatang ke Desa Purwodadi, yang tidak memiliki pekarangan dan mereka mengontrak, itu menjadi permasalahan utama. Mereka biasanya membuang sampah di kebun sawit.”

Akibatnya, sampah menumpuk di kawasan perkebunan.

“Sampah-sampah itu tertumpuk di kebun sawit. Nah, itu juga menjadi concern utama kami. Bagaimana caranya agar manajemen sampah terpadu ini dapat berjalan.”

Dari Memilah Sampah hingga Mengenal Maggot

Sosialisasi Manajemen Sampah Terpadu dan Pengelolaan/Pemanfaatan Sampah Organik menjadi Maggot dilaksanakan Minggu, 26 Juli 2026. Kegiatan dimulai dengan registrasi sekitar pukul 13.30 WITA dan pembukaan sekitar pukul 14.00 WITA.

Materi Manajemen Sampah Terpadu dibawakan Rahmad Fiky. Warga dikenalkan pada empat jenis sampah, yakni organik, anorganik, B3 dan residu.

“Sampah organik dari sisa makanan, sampah anorganik dari kertas, dari bekas bungkus makanan. Lalu ada sampah B3, bahan berbahaya dan beracun, itu ada seperti aki, baterai dan lain sebagainya. Dan terakhir ada sampah residu berupa popok, pembalut yang telah digunakan.”

Setelah itu, materi berlanjut pada pemanfaatan sampah organik melalui budidaya maggot yang dibawakan Frans Siskus Lo Han Long.

Ternyata, sejumlah warga Purwodadi sudah pernah mencoba beternak maggot. Persoalannya, mereka belum memahami seluruh siklus hidup lalat BSF.

“Mereka ada beberapa warga yang sudah memiliki ternak maggot. Namun mereka kebingungan, kenapa lalat itu tiba-tiba hilang?”

Menurut Tio, penjelasan mengenai siklus BSF kemudian menjawab persoalan tersebut.

“Ternyata setelah dipaparkan jawabannya oleh teman kami yang bernama Frans tersebut, ternyata siklus hidup dari lalat BSF itu tidak lama.”

Salah seorang warga bahkan menyampaikan langsung persoalannya.

“Kata Pak RT 2 kemarin, yang beliau sudah mulai beternak maggot, ‘Tapi kok lalatnya tiba-tiba hilang?’ Ternyata lalatnya mati.”

Frans Siskus Lo Han Long menjelaskan siklus hidup dan tahapan budidaya maggot BSF kepada warga Desa Purwodadi, Kecamatan Angsana.
Sumber foto: Miftahul Norsifa

Mahasiswa Juga Sempat Gagal

Pengalaman mahasiswa sendiri tidak langsung berhasil. Mereka sempat mencoba menggunakan sampah organik biasa.

“Kami kemarin coba dari sampah organik biasa. Ternyata itu gagal.”

Menurut Tio, berbagai jenis sampah organik perlu dipilah karena bahan tertentu justru mengundang lalat lain.

“Ketika kita tidak memisahkan antara sampah organik yang dari buah-buahan atau sayur-sayuran dengan sampah organik yang dari makanan berlemak, seperti bekas makanan, tulang-tulangan, itu malah mengundang lalat hijau.”

Setelah itu mahasiswa mencoba menggunakan ampas tahu.

“Kami coba menggunakan ampas tahu. Kami minta di situ, ada pabrik tahu. Kami minta ampasnya.”

Ampas tahu kemudian dicampur dengan bahan lain dan molase.

“Kami campurkan dengan ayam pat dan molase. Kami bikin tidak terlalu encer dan tidak terlalu keras juga.”

Media tersebut ditutup dengan jaring. Kardus dan tumpukan kayu ditempatkan agar lalat BSF dapat bertelur di sela-selanya.

“Kami taruh kardus dan tumpukan-tumpukan kayu agar ketika lalat BSF mau bertelur, dia bertelur di sela-sela kardus atau tumpukan kayu tersebut. Jadi bukan di media pertumbuhannya.”

Maggot Mulai Tumbuh

Sosialisasi berlangsung pada 26 Juli. Sekitar satu minggu kemudian, mahasiswa melanjutkan praktik budidaya maggot di luar agenda sosialisasi, sekitar Minggu, 2 Agustus 2026.

Baca Juga :  Dari Daun Kering hingga Kotoran Sapi, Warga Batulicin Irigasi Belajar Membuat Pupuk Kompos

Praktik dilakukan dengan memperlihatkan proses budidaya mulai dari tahap awal.

“Kalau dimulai dipelajari dari nol, tentunya kan dia paham bagaimana cara merawatnya lagi.”

Karena masa KKN terbatas, mahasiswa tidak dapat menunggu seluruh siklus budidaya hingga selesai. Namun hasil awal sudah terlihat.

“Sebenarnya sudah ada, Bapak. Kami sudah lihat, sudah ada maggotnya.”

Tio bahkan melihat langsung hasil budidaya tersebut.

“Maggotnya besar-besar, Bapak, yang dari hasil budidaya kami itu.”

Hasil itu kemudian diperlihatkan kepada warga.

“Kami sampaikan kepada teman-teman bahwa, ‘Ini loh, sudah ada hasil dari budidaya maggot yang kita lakukan.’”

Frans Siskus Lo Han Long menjelaskan pemanfaatan sampah organik menjadi maggot dalam kegiatan sosialisasi di Desa Purwodadi, Kecamatan Angsana, Tanah Bumbu. Sumber foto: Miftahul Norsifa

Sekitar 40 Warga Hadir

Sosialisasi pada 26 Juli diikuti sekitar 40 orang, dari RT 1 hingga RT 17 serta perangkat desa.

“Karena kami mengundang tiap RT, 1 sampai 17, dan ada yang hadir. Lumayan banyak sih dari tiap RT itu, dan dari perangkat juga hadir.”

Meski berlangsung hari Minggu, warga tetap datang.

“Walau di hari Minggu, ya, kami menyita waktu mereka-mereka itu, mereka itu hadir terus.”

Salah seorang warga yang cukup aktif adalah Pak Katmono dari RT 2.

“Beliau setiap kami kegiatan bertanya terus, Bapak, dan sangat tertarik. Beliau dan istrinya juga sering hadir.”

Purwodadi Membuat Mahasiswa Merasa Jadi Keluarga

Di luar program kerja, Tio juga menceritakan bagaimana masyarakat Purwodadi menerima mahasiswa KKN.

“Menariknya, Bapak, sebenarnya Purwodadi ini tempatnya sudah bersih dan tertata. Dari RT-RT-nya tersusun dan mereka sangat aktif di setiap kegiatannya.”

Menurutnya, kegiatan gotong royong dan kebersamaan warga masih kuat.

“Setiap minggunya itu ada gotong royong bersama. Lalu setiap malam Jumat itu mereka ada kegiatan yasinan, dan serentak di setiap RT.”

Penerimaan warga membuat mahasiswa merasa nyaman.

“Sehingga dari warganya yang welcome kepada kami. Dan kami juga sebagai mahasiswa dianggap keluarga oleh mereka.”

“Jadi kami enjoy, Bapak, di sana.”

Suasana desa yang dikelilingi perkebunan sawit dan karet juga menambah kenyamanan.

“Lumayan adem, Bapak. Suasananya itu tenang. Motor-motor itu jarang lewat. Di atas jam 8 nggak ada lagi motor lewat.”

Anak-anak desa bahkan kerap datang ke posko mahasiswa.

“Malah yang anak-anak sering datang ke posko kami. Diantarkan oleh orang tuanya. Ada yang datang sendiri.”

Pada akhirnya, pengalaman Tio di Purwodadi bukan hanya tentang maggot. Ia tentang bagaimana sebuah rencana berubah ketika berhadapan dengan kenyataan.

Mereka datang untuk membuat ecobrick. Setelah melihat kondisi desa, mereka menemukan sampah organik lebih dominan, warga menghadapi persoalan biaya pakan lele, dan sebagian warga sudah mencoba budidaya maggot tetapi belum memahami siklus hidup BSF.

Dari situlah program Manajemen dan Pengolahan Sampah Terpadu berkembang menjadi rangkaian yang menghubungkan sampah organik, maggot, pakan ternak dan kasgot.

“Kalau kami bikin ecobrick, nggak relevan. Nggak ada keberlanjutannya.”

Mahasiswa KKN ULM Kelompok 1 Tanah Bumbu bersama warga Desa Purwodadi seusai kegiatan sosialisasi manajemen dan pengolahan sampah terpadu.
Sumber foto: Miftahul Norsifa

Mahasiswa KKN ULM Kelompok 1 Desa Purwodadi

1. Miftahul Norsifa
Fakultas Kehutanan
Prodi S1 Kehutanan

2. Christhio Advent Yogitiana
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi S1 Kimia

3. Sintha Maharani
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Teknologi Hasil Perikanan

4. Rosalia Wiratama
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Perikanan Tangkap

5. Ervan Anshary
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Ilmu Kelautan

6. Rachel Oktavia
Fakultas Kehutanan
Prodi S1 Kehutanan

7. Nor Hikmah Rahmadana
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan

8. Rahmad Fiky
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi S1 Fisika

9. Try Mahita Febrianti Saragih
Fakultas Kehutanan
Prodi S1 Kehutanan

10. Nisrina Nur Azizah
Fakultas Teknik
Prodi Teknik Lingkungan

11. Siti Nursahida
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan

12. Frans Siskus Lo Han Long
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Sosial Ekonomi Perikanan

13. Sari’ah
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Prodi Matematika

14. Dimas Chandra
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan

15. Chicka Amanda Adelia
Fakultas Kehutanan
Prodi S1 Kehutanan

Avatar photo

Redaksi

Related posts

Newsletter

Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.

Loading

Proyek Baru - 2025-11-12T104826.198
banner kalimantansmartinfo
Iklan Berita (1)
banner kalimantansmart

Recent News