
TANAH BUMBU – Perubahan dalam mengelola sampah rumah tangga sering kali dimulai dari kebiasaan sederhana di dapur. Berangkat dari pemikiran itulah, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kelompok Tanah Bumbu 11 Desa Wonorejo, Kecamatan Kusan Hulu, mengajak masyarakat memanfaatkan sampah organik melalui penerapan LOSIDA (Lodong Sisa Dapur) dan ember komposter.
Program tersebut dikemas dalam bentuk sosialisasi sekaligus workshop yang berlangsung di Posyandu Desa Wonorejo RT 10, Jumat (24/7/2026) dan diikuti sekitar 20 peserta, yang sebagian besar merupakan kader Posyandu, PKK, dan ibu rumah tangga.
Mahasiswa KKN ULM, Hadi Rahman Zindani, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar masyarakat tidak hanya memahami konsep pengelolaan sampah organik, tetapi juga mampu mempraktikkannya secara langsung di lingkungan rumah masing-masing.
“Kegiatan kami berupa sosialisasi sekaligus workshop penerapan LOSIDA atau Lodong Sisa Dapur dan ember komposter. Jadi dua-duanya kami jelaskan, mulai dari cara membuatnya sampai cara penggunaannya,” kata Hadi Rahman Zindani kepada KalimantanSmart.Info.
Menurut Hadi, kedua metode tersebut dipilih karena sederhana, mudah dibuat menggunakan bahan yang tersedia di sekitar masyarakat, serta mampu mengurangi volume sampah organik rumah tangga.

Mengapa Menyasar Ibu Rumah Tangga
Pemilihan ibu rumah tangga sebagai peserta utama bukan dilakukan tanpa pertimbangan. Sebelum kegiatan dilaksanakan, mahasiswa terlebih dahulu berdiskusi dengan Pemerintah Desa Wonorejo mengenai kelompok masyarakat yang paling tepat menjadi sasaran edukasi.
Hadi mengatakan, hasil diskusi tersebut mengarah kepada ibu rumah tangga karena merekalah yang setiap hari berhadapan langsung dengan sampah organik dari aktivitas dapur.
“Setelah kami berdiskusi dengan pihak desa, untuk sosialisasi pemilahan dan pengelolaan sampah memang lebih bagus kalau menyasar ibu-ibu. Mayoritas bapak-bapak bekerja di luar rumah, sedangkan pengelolaan sampah organik sehari-hari lebih banyak dilakukan oleh ibu-ibu. Jadi kami ingin menyampaikan langsung kepada pelaku utama di rumah tangga,” ujarnya.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat materi yang diberikan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat.

LOSIDA dan Ember Komposter Mudah Diterapkan
Dalam workshop tersebut, penyampaian materi diawali oleh Raihan Nuur Hakim, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Statistika Universitas Lambung Mangkurat.
Raihan memperkenalkan konsep dasar LOSIDA, mulai dari pengertian, manfaat, hingga alasan metode tersebut menjadi salah satu cara yang efektif dalam mengolah sampah organik rumah tangga.
“Teman kami, Raihan Nuur Hakim, menjelaskan terlebih dahulu apa itu LOSIDA, apa manfaatnya, mengapa metode ini menjadi salah satu metode yang cukup favorit dalam pengelolaan sampah organik. Setelah itu dijelaskan bagian-bagian LOSIDA, cara penggunaannya sampai bagaimana memanen kompos yang dihasilkan,” tutur Hadi.
Menurut Hadi, salah satu keunggulan LOSIDA adalah peralatannya yang sederhana sehingga mudah diterapkan oleh masyarakat.
“Peralatannya sederhana, hanya menggunakan pipa PVC ukuran empat inci sepanjang sekitar satu meter beserta penutupnya,” jelasnya.
Selain LOSIDA, mahasiswa juga memperkenalkan ember komposter sebagai alternatif pengolahan sampah organik rumah tangga.
“Ember komposter dibuat menggunakan dua buah ember. Ember bagian atas dilubangi sebagai tempat proses pengomposan, sedangkan ember bagian bawah berfungsi menampung cairan hasil pengomposan yang nantinya bisa dipanen melalui keran,” ujar Hadi.

Pengomposan Dimulai dari Bahan yang Tepat
Pada sesi berikutnya, peserta diberikan pemahaman mengenai bahan-bahan yang diperlukan agar proses pengomposan berlangsung dengan baik.
“Kami menjelaskan bahwa sampah organik terdiri dari sampah hijau yang mengandung nitrogen dan sampah cokelat yang mengandung karbon. Keduanya harus seimbang sebelum dicampur dengan tanah atau kompos yang sudah matang agar bakteri di dalamnya dapat mempercepat proses pengomposan,” kata Hadi.
Selain itu, mahasiswa juga mengenalkan penggunaan EM4 sebagai aktivator untuk mempercepat proses pembusukan bahan organik.
“Kami menggunakan EM4 yang dicampur air dan molase sebagai makanan bagi bakteri pembusuk sehingga proses pengomposan berlangsung lebih cepat. EM4 juga mudah didapat karena dijual di toko pertanian yang ada di desa, kecamatan maupun kabupaten,” jelasnya.
Menurut Hadi, seluruh materi yang diberikan dalam workshop disusun agar mudah dipahami masyarakat dan dapat langsung dipraktikkan tanpa memerlukan peralatan yang mahal.

Harapan Setelah Program KKN Berakhir
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berharap masyarakat semakin mudah menerapkan pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga. Dengan memanfaatkan LOSIDA maupun ember komposter, sampah dapur tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman sekaligus mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat penampungan.
Program sosialisasi dan workshop tersebut merupakan salah satu kegiatan Mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat Kelompok Tanah Bumbu 11 Desa Wonorejo yang diketuai Muhammad Thoriq Ash Shidiq dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Program Studi Akuakultur bersama mahasiswa lintas fakultas.
Bagi mahasiswa KKN ULM, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari terlaksananya sosialisasi dan workshop, tetapi juga dari kebiasaan masyarakat yang terus berlanjut dalam mengelola sampah organik di rumah masing-masing setelah masa KKN berakhir.
“Harapan kami, pengetahuan yang telah dibagikan kepada masyarakat tidak berhenti pada saat sosialisasi saja. Kami berharap LOSIDA dan ember komposter bisa terus dimanfaatkan warga sehingga pengelolaan sampah organik menjadi kebiasaan di lingkungan rumah tangga,” ujar Hadi menutup wawancara.

Anggota Kelompok Tanah Bumbu 11 terdiri atas:
1. Muhammad Thoriq Ash Shidiq
– Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
– Program Studi Akuakultur
2. Amelia Deas Putri
– Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
– Program Studi Teknologi Hasil Perikanan
3. Sapnah
– Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
– Program Studi Perikanan Tangkap
4. Muhammad Naufal Muzakki
– Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
– Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan
5. Arbainah
– Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
– Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan
6. Khaila Nazila Shofa
– Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
– Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan
7. Ilhamsyah
– Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
– Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan
8. Azra Nayla Madyna
– Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
– Program Studi Ilmu Kelautan
9. Bayu Setiadi
– Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
– Program Studi Ilmu Kelautan
10. Norhaidatul Aulia
– Fakultas Kehutanan
– Program Studi Kehutanan
11. Regita Rahma Aulia
– Fakultas Kehutanan
– Program Studi Kehutanan
12. Mira Asmawati
– Fakultas Teknik
– Program Studi Teknik Lingkungan
13. Hadi Rahman Zindani
– Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
– Program Studi Matematika
14. Zusnia Khalifatus Sakadia
– Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
– Program Studi Ilmu Komputer
15. Raihan Nuur Hakim
– Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
– Program Studi Statistika
16. Muhammad Seman
– Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
– Program Studi Biologi
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.