
Resapan Indra Dengar Metalurgi
(Medar Gamelan Gobal Gabul Local Wisdom)
Oleh: Yuri Muryanto Soedarno
Malam itu, sambil duduk di gazebo pada sudut barat daya rumah dekat jalan aspal, melintaslah sebuah vespa tua dengan suaranya yang khas. Saya jadi teringat seorang teman yang memang gandrung dengan motor vespa.
Esok harinya, entah seperti ada telepati, teman itu mengontak saya pada pagi hari Jum’at. Usai bercukur karena rambut mulai gondrong, dan karena tidak ada agenda, saya pun singgah di pedepokannya — begitulah dia menyebut tempat tinggalnya. Kebetulan masih satu lintasan jalan pulang ke rumah.
Setelah menyampaikan bahwa pesanan pupuk organik, pupuk “kokam” (kotoran kambing), sudah tersedia, kami pun mulai mengobrol ngalor-ngidul.
Obrolan kami mengalir dari tema lokal, nasional, hingga internasional.
Pada tema lokal, kami membicarakan rencana jembatan penghubung Pulau Laut dan Pulau Kalimantan — pulau terbesar ketiga di dunia — yang konon akan menjadi jembatan terpanjang di Indonesia.
Kami juga menyinggung kabar burung tentang aktivitas pertambangan yang carut-marut tanpa izin, mobil plat merah yang diprivatkan menjadi plat pribadi, hingga maraknya gejala sosial berupa meningkatnya jumlah peminta-minta di traffic light menjelang Lebaran.
Dari tema nasional, pembicaraan beralih pada harga barang yang mulai merangkak naik menjelang Lebaran, program MBG (Makanan Bergizi Gratis) beserta dinamikanya, serta cuaca yang makin sulit diprediksi.
Pada tema internasional, diskusi kami menyentuh isu yang sedang hangat, yaitu konflik di Timur Tengah (Iran vs Israel). Disebut-sebut Iran mendapat dukungan Rusia dan China, sedangkan Israel didukung Amerika.
Kami juga menyinggung tentang BOP (Board of Peace), Selat Hormuz, kemungkinan naiknya isu kelangkaan BBM (Bahan Bakar Minyak), hingga spekulasi tentang perang dunia ketiga.
Dari warnasari obrolan ngalor-ngidul yang gobal-gabul itu, akhirnya sampailah kami pada topik seni.
Teman saya, “si tua nyentrik” yang pernah duduk di bangku kuliah seni, tiba-tiba bertanya:
“Mas, pernah dengar suara neng ning nung nang?”
“Maksudnya bagaimana itu?” tanya saya.
“Kalau mendengar tentang suara neng ning nung nang dalam perspektif Mas, itu tentang apa ya?”
“Bisa jadi itu suara musik gamelan, atau orang yang sedang menimang anak,” jawab saya, mulai tertarik dengan arah obrolan.
Ia lalu berkata,
“Menurut saya, Mas, menurut keyakinan saya, itu seperti simbolik seni.
Seperti dosen Budaya Dasar yang mengkombinasikan dengan Kearifan Lokal (Local Wisdom).”
Sambil mengobrol, pandangan saya tertuju pada sebuah lukisan di dinding. Katanya ia sendiri yang melukisnya, dengan judul “Face to Face.”

Selanjutnya, Supriyono Singo Mulangjoyo — begitulah ia menamakan dirinya — mulai mendongeng.
Seolah-olah:
NENG = Meneng = Diam = Berkonsentrasi.
NING = Wening = Bening, jernih pikiran, jauh dari anasir buruk atau jahat.
NUNG = Dumunung = Paham dan mengerti dari mana berasal serta hendak ke mana nantinya.
NANG = Menang = Mengalahkan diri sendiri, menang melawan hawa nafsu.
Kemudian ia mengurai penjelasan semaunya.
Bahwa gamelan yang terbuat dari besi kuningan menghasilkan bunyi indah setelah ditempa panas oleh api.
Demikian pula besi yang ditempa dapat menjadi pisau, parang, atau cangkul sebagai alat bantu pertanian.
Bukankah itu sebuah proses peradaban local wisdom dalam bidang metalurgi (budaya api)?
Namun dalam perjalanan peradaban, metalurgi berkembang pula menjadi roket atau rudal sebagai alat pembunuh massal.
Lalu sekarang, katanya sambil tertawa sambil mengangkat telepon genggamnya, seolah-olah manusia sedang memasuki peradaban udara.
Sambil tersenyum saya bertanya kepadanya,
“Dulu waktu mata kuliah Budaya Dasar atau Sosial Dasar, dapat nilai apa Kang?”
Ia tertawa.
“Karena saya orang sederhana, ya nilai C.
Cukuplah bagi saya. Bukankah hidup itu lebih baik cukup daripada serakah.”
Akhirnya sekitar 11.00 WITA, Jum’at 23 Ramadhan 1447 H, obrolan silaturahmi gobal-gabul kami tutup dengan mesam-mesem bagai Semar mendem.
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”
(Q.S. Al Isra / Perjalanan Malam : 17 ; 7)
“Bumi menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap manusia, tetapi tidak untuk memenuhi keserakahan setiap manusia.”
— Mahatma Gandhi
(Mohandas Karamchand Gandhi : Porbandar 1869 – New Delhi 1948)
Catatan
Medar: Menjabarkan suatu hal, ide, cerita.
Local Wisdom: Kearifan lokal.
Global Gabul: Berantakan atau semaunya (bisa jadi sakahandak atau mangalabui dalam bahasa Banjar).
Ngalor Ngidul: Ke utara ke selatan.
Mesam Mesem: Senyum-senyum.
Semar Mendem: Semar mabuk.
Metalurgi: Pemrosesan logam.
Tentang Penulis
Alumni FISIP ULM, pernah mengajar di SMK dan beberapa perguruan tinggi serta menjadi Kepala LP3M di salah satu perguruan tinggi. Pernah bekerja di beberapa perusahaan konsultan/swasta, juga menjuarai beberapa lomba karya ilmiah, fiksi, dan sastra. Salah satu pelopor Mahasiswa Pecinta Alam Fisipioneer. Kini tinggal di Pulau Laut, mengerjakan apa yang ia suka.
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.