Next Post

MAPALA: Belajar Mengukur Diri Sebelum Mengarungi Kehidupan

YouTube

Open recruitment MAPALA mungkin terlihat sederhana.

Mahasiswa datang, mengambil formulir, mengisi beberapa data, lalu pulang. Setelah itu ada seleksi, pendidikan, latihan dan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan alam bebas.

Selesai.

Tetapi apakah memang sesederhana itu?

Saya kira tidak.

Justru dari sesuatu yang terlihat sederhana itulah sebuah perjalanan panjang bisa dimulai.

Lalu, apa yang sebenarnya didapatkan mahasiswa ketika bergabung dengan MAPALA?

Apakah hanya kemampuan bertahan di alam?

Tentu tidak.

Ada keseruan. Ada tawa di perjalanan. Ada cerita yang mungkin tidak akan pernah muncul di ruang kuliah. Ada rasa lelah yang justru menyenangkan karena dijalani bersama. Dan, tentu saja, ada kesempatan untuk keluar sebentar dari rutinitas kampus dan melepas penat.

Bagi mahasiswa, itu penting.

Tetapi menurut saya, keseruan hanyalah bagian kecil dari apa yang sebenarnya bisa didapatkan dari MAPALA.

Sebab setelah perjalanan selesai, tenda dibongkar, sepatu dibersihkan dan seseorang kembali ke kampus, ada sesuatu yang ikut terbawa pulang:

pengalaman.

Dan pengalaman itulah yang sering kali baru terasa nilainya setelah seseorang menjalaninya.

MAPALA sering dilihat dari gunung yang didaki, hutan yang dimasuki, sungai yang diseberangi atau medan yang harus dilewati.

Seolah-olah semakin jauh berjalan, semakin tinggi mendaki, semakin hebat pula seseorang.

Saya kira juga tidak sesederhana itu.

Alam bukan arena untuk menunjukkan siapa yang paling kuat.

Alam justru tempat seseorang mengetahui bahwa dirinya punya batas.

Di sana yang diuji bukan hanya kaki, tetapi juga kepala. Bukan hanya otot, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan. Bukan hanya keberanian, tetapi juga kemampuan mengetahui kapan keberanian harus dihentikan.

“Mendaki itu menguji eksistensi seseorang.”

Sebab ketika seseorang berada di alam, ia berhadapan dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Cuaca bisa berubah. Medan bisa berbeda dari perkiraan. Tubuh bisa kehilangan tenaga. Dan keputusan yang beberapa menit sebelumnya dianggap benar, bisa menjadi keputusan yang salah ketika keadaan berubah.

Alam tidak pernah menandatangani kontrak dengan manusia untuk berjalan sesuai rencana.

Sebagus apa pun persiapan, selalu ada sesuatu yang berada di luar perhitungan.

Di situlah manusia mulai berhadapan dengan dirinya sendiri.

Ia mulai tahu bahwa tubuhnya mempunyai batas. Mentalnya mempunyai batas. Bahkan pengetahuannya pun mempunyai batas.

Dan pada titik tertentu, manusia mungkin harus mengakui sesuatu yang tidak selalu mudah diakui manusia modern:

bahwa dirinya tidak menguasai semuanya.

“Ada saatnya kita harus pasrah dan menyerahkan kemampuan fisik, mental dan intelektual kepada daya alamiah yang tidak mungkin sepenuhnya kita hitung.”

Pasrah bukan berarti kalah.

Kadang pasrah justru menunjukkan bahwa seseorang mulai memahami keadaan.

Manusia boleh merencanakan. Boleh menghitung. Boleh mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Baca Juga :  Bendera Merah Putih Berukuran Raksasa Dikibarkan KPA Ulin di Kabupaten Tanah Bumbu

Tetapi tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan.

Mungkin di situlah salah satu pelajaran penting MAPALA dimulai.

Bukan soal bagaimana terlihat kuat, tetapi bagaimana mengetahui seberapa kuat diri sendiri.

Kita sering sibuk mengukur jarak, ketinggian, waktu dan kecepatan.

Tetapi ada satu hal yang sering lupa kita ukur:

diri sendiri.

Seberapa kuat saya?

Seberapa siap saya?

Seberapa jauh kemampuan saya?

Dan yang paling penting, apakah saya siap menanggung akibat dari keputusan yang saya ambil?

Pertanyaan seperti itu mungkin tidak tertulis dalam modul pendidikan MAPALA.

Tetapi alam bisa mengajarkannya dengan cara yang jauh lebih keras.

Di sinilah intuisi mulai bekerja.

Tidak semua bahaya datang dengan papan bertuliskan AWAS, BAHAYA.

Ada sesuatu yang kadang hanya bisa dirasakan.

Ada perubahan yang belum bisa dijelaskan, tetapi terasa.

Ada keadaan yang secara logika terlihat biasa, tetapi hati mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.

YouTube

Itulah kepekaan.

Dan kepekaan tidak lahir hanya dari membaca buku.

Ia tumbuh dari pengalaman. Dari memperhatikan. Dari melakukan kesalahan. Dari menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan teori. Dari berkali-kali berada dalam situasi yang memaksa seseorang mengambil keputusan.

Karena itu, manusia tidak cukup hanya mempunyai pengetahuan.

Ia juga membutuhkan kepekaan.

Ada pengetahuan yang lahir dari ruang kuliah. Ada yang lahir dari buku. Ada yang lahir dari laboratorium. Ada yang lahir dari penelitian dan disertasi.

Tetapi ada pula pengetahuan yang baru muncul setelah seseorang mengalaminya sendiri.

Tidak semua yang penting dalam kehidupan memiliki footnote.

Mungkin ini salah satu hal yang tidak banyak dipahami tentang MAPALA.

Bahkan mungkin tidak selalu disadari oleh anggotanya sendiri.

Mereka merasa sedang belajar navigasi, survival, teknik perjalanan, organisasi atau menghadapi medan.

Padahal tanpa mereka sadari, mereka sedang belajar menghadapi ketidakpastian kehidupan.

Mereka belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak mengenal bahaya.

Orang yang berani justru harus tahu apa yang sedang dihadapinya.

Mereka belajar bahwa kecerdasan bukan berarti mengetahui semua jawaban.

Sebab kehidupan tidak selalu memberikan soal yang sudah memiliki jawaban.

Mereka juga belajar bahwa kuat bukan berarti tidak pernah lemah.

Justru orang yang mengetahui kelemahannya mempunyai peluang lebih besar untuk mengambil keputusan dengan benar.

Tetapi ada satu hal yang menurut saya jauh lebih penting dari semuanya:

tanggung jawab.

Organisasi memang mengajarkan kebersamaan.

Tetapi pada akhirnya, setiap orang tetap akan berhadapan dengan dirinya sendiri.

Ada keputusan yang tidak bisa selamanya dititipkan kepada kelompok.

Ada risiko yang tidak bisa terus-menerus dibebankan kepada orang lain.

Dan ada pilihan yang pada akhirnya harus diakui sebagai pilihan diri sendiri.

Baca Juga :  Mapala Fakultas Teknik ULM Tunjukkan Taring, Gilang Ramadhan Naik Podium IRC 2026 Kalimantan Region

“Hal yang paling otentik dari seseorang adalah ketika ia mengambil tanggung jawabnya sendiri.”

Di situlah karakter mulai terbentuk.

Bukan karena seseorang sering mendengar nasihat tentang karakter.

Bukan pula karena ada tulisan tentang disiplin yang ditempel di dinding.

Karakter muncul ketika seseorang berhadapan langsung dengan pilihan, risiko dan akibat dari pilihannya sendiri.

Kadang dari jalan setapak yang licin.

Dari tubuh yang mulai lelah.

Dari keputusan untuk terus berjalan atau kembali.

Dari keadaan yang tidak bisa diprediksi.

Atau dari sebuah perjalanan yang membuat seseorang bertanya kepada dirinya sendiri:

Saya sebenarnya mampu sampai di mana?

Setelah keluar dari hutan, gunung dan sungai, persoalannya ternyata belum selesai.

Medannya hanya berubah.

Di luar sana tidak ada peta yang benar-benar lengkap.

Tidak ada GPS yang bisa menunjukkan seluruh jalan kehidupan.

Kita bisa belajar. Kita bisa menghitung. Kita bisa membuat rencana. Kita bisa mempersiapkan diri.

Tetapi tetap saja ada sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan.

Karena itu, mungkin yang perlu dibawa pulang dari pengalaman di alam bukan sekadar kemampuan bertahan hidup.

Tetapi kemampuan memahami kehidupan.

Kemampuan mengukur diri.

Kemampuan membaca keadaan.

Kemampuan menggunakan akal.

Kemampuan mendengarkan intuisi.

Dan keberanian untuk bertanggung jawab terhadap keputusan sendiri.

Pada akhirnya, MAPALA bukan tentang menaklukkan alam.

Alam tidak pernah meminta untuk ditaklukkan.

Alam hanya memperlihatkan kepada manusia betapa kecil dirinya.

Dan mungkin justru di situlah pendidikan yang sebenarnya berlangsung.

Keseruan boleh menjadi bagian dari perjalanan.

Melepas penat juga boleh.

Tawa dan cerita tentu akan menjadi kenangan.

Tetapi setelah semua itu selesai, ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk dibawa pulang:

pengalaman tentang diri sendiri.

Sebab gunung mungkin menguji seberapa kuat kaki kita.

Hutan menguji seberapa peka kita membaca keadaan.

Perjalanan menguji seberapa berani kita mengambil keputusan.

Tetapi kehidupan menguji semuanya.

Dan pada akhirnya, kita akan kembali kepada pertanyaan yang paling sederhana sekaligus paling sulit:

seberapa jauh kita mengenal diri sendiri?

Mungkin itulah makna terdalam dari MAPALA.

Bukan sekadar belajar menghadapi alam.

Tetapi belajar menghadapi diri sendiri.

Sebab yang paling sulit ditaklukkan manusia bukanlah gunung. Melainkan dirinya sendiri.

Terima kasih telah membaca, dan sampai jumpa di Latdas ke-44, tanggal 25–27 September 2026 mendatang, di Bukit Pematon.

— Penulis

Ia menjadi bagian dari MAPALA FT dan mengikuti Latdas X pada 1992. Ia memilih Pagatan sebagai tempat berpijak—sebuah kota kecil di pesisir tenggara Kalimantan. Dari sana, ia memandang Indonesia dengan mata seorang jurnalis; bukan hanya melalui berita dan peristiwa, tetapi melalui manusia, kekuasaan, perubahan, serta cerita-cerita yang kerap luput dari perhatian.

Avatar photo

Redaksi

Related posts

Newsletter

Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.

Loading

Proyek Baru - 2025-11-12T104826.198
banner kalimantansmartinfo
Iklan Berita (1)
banner kalimantansmart

Recent News