Next Post

Awalnya Berjalan Tanpa Tujuan

 

Maret 2025. Berhenti sejenak di jalur alternatif Batulicin–Banjarbaru

Apa yang Kau Cari?

Suatu hari saya mengajak seorang sahabat, seorang fotografer. Kami membawa kamera masing-masing, dengan lensa yang menurut kami cukup mampu merekam keindahan alam—memiliki sudut lebar untuk lanskap, rentang focal length yang memungkinkan kami memotret objek dari jarak jauh tanpa harus mendekatinya, serta kemampuan menangkap detail dan tekstur alam dengan cukup tajam.

“Kita mau ke mana, Om?” tanyanya.

“Ya sudah, kamu yang bawa mobil. Nanti saya tentukan ke mana arah setir itu berputar,” kata saya sambil menunjuk ke arah jalan.

“Dasar pian ini,” katanya.

Tawa kami pun meledak. Sebab, seperti biasa, kami memang tidak pernah merencanakan perjalanan fotografi. Tiba-tiba datang, menjemput, berangkat, lalu pulang seperti dua orang yang tidak pernah benar-benar punya tujuan.

Kami berangkat dari Pagatan. Melintasi jalan nasional, kemudian memilih berbelok ke kiri, memasuki jalan yang oleh orang-orang di sini disebut Jalan 30.

Jalan itu melintasi kawasan pusat perkantoran Kabupaten Tanah Bumbu. Saat kendaraan mulai menyusuri ruas jalannya, perhatian saya tertuju pada bentuk jalan yang membelah menjadi dua jalur dengan bentang yang lebar. Dari dalam mobil, saya melihatnya seperti sebuah jalan yang sejak awal sudah disiapkan untuk sesuatu yang lebih besar.

Saya kemudian berpikir, mengapa orang-orang menyebutnya Jalan 30? Mungkin karena panjangnya sekitar 30 kilometer. Entahlah. Yang jelas, jalan ini menurut saya bukan sekadar jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya.

Saya melihatnya sebagai sebuah aset pemerintah daerah yang sangat mahal. Lebar jalannya, pembagian jalurnya, ruang yang tersedia, dan desain keseluruhannya membuat saya berpikir bahwa perancangnya seperti sedang membangun sesuatu untuk masa yang jauh lebih panjang daripada usia kita.

Ini aset paling mahal yang dimiliki Tanah Bumbu,” kata saya.

Teman yang sedang menyetir menoleh sebentar.

“Alasannya?” tanyanya.

“Yaaa… saya hanya membayangkan, suatu saat nanti Kota Simpang Empat atau Batulicin menjadi sebuah kota besar dan modern dan jalan ini sudah ada sebagai aset yang bisa saja dijadikan jalan bebas hambatan.”

Saya kembali memandang ruas jalan yang terbentang di depan kami.

“Entah 50 tahun kah, 100 tahun kah, atau mungkin bahkan 200 tahun kemudian. Yang jelas, kita-kita sudah nggak ada. Sudah mati semua.”

Gelak tawa sahabat saya pun pecah mendengar jawaban nyeleneh itu.

“Kalau ini dijadikan jalan bebas hambatan, terus pejabat-pejabat yang terhormat dan pegawainya nanti mau lewat mana?” tanya teman saya sambil tertawa kecil, membayangkan kemungkinan itu.

“Ah, gampang urusan itu,” kata saya. “Kan bisa dibuat jalan di bawahnya.”

“Jalan bebas hambatan itu kan tidak dibuat naik turun, naik turun seperti ini. Desainnya akan dibuat rata dan lurus, seperti garis horizontal, agar kendaraan bisa melaju dengan kecepatan maksimal. Tentunya akan ada titik-titik yang memerlukan peninggian, apakah dengan konstruksi tiang beton atau Box Underpass misalnya, yang bisa sekaligus difungsikan untuk putar balik,” lanjut saya.

“Dan jalan yang sekarang kita lewati ini tidak harus hilang. Tetap bisa menjadi jalan umum untuk melayani aktivitas masyarakat. Sementara jalan bebas hambatan dibangun di atasnya pada titik-titik tertentu. Yaaaa… mirip-mirip jalan tol yang melintas di kawasan permukiman padat, atau yang kita lihat di Makassar, dari kawasan sekitar pelabuhan sampai Pannampu.”

“Tapi kemungkinan-kemungkinan itu hanya bisa terjadi setelah sekian puluh, bahkan sekian ratus tahun ke depan,” kata saya berandai-andai.

Saat kita sudah mati?

Ledak tawanya yang khas melengking pun pecah, sementara tangannya tetap memegang erat kemudi.

“Ini kita belok kiri atau lurus?” tanyanya saat berhenti di lampu merah, di perempatan Kilometer 6 Pelajau.

“Ambil kiri aja lah, sembari kita nyari-nyari BBM,” kata saya.

“Om, sebenarnya minyak di Pertashop itu lebih murah dari eceran yang lain,” kata dia.

“Serius?” tanya saya.

“Info-nya, Pertashop itu ternyata dapat diskon dari pihak Pertamina, jadi bisa menjual lebih murah,” katanya.

“Kalau gitu… kita cari Pertashop saja sekalian kita buktikan,” tawar saya.

Sesampai di wilayah Kecamatan Mentewe, mata saya menangkap sebuah Pertashop.

“Itu ada Pertashop, sana,” kata saya sambil menunjuk ke sisi kanan jalan.

Teman pun menepikan mobil, mengisi BBM, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

“Lumayan juga ya,” kata teman saya sambil ngangguk-ngangguk sendiri.

Apanya yang lumayan, harganya?” tanya saya.

“Penjualnya ha ha ha,” jawabnya sambil tertawa.

“Coba stop dan mundurkan mobilnya,” kata saya.

“Tujuannya?” tanya teman saya terheran.

“Mau membuktikan kalimatmu tadi kalau penjualnya lumayan,” jawab saya.

Tawanya yang melengking kini kembali meledak.

“Hahaha… dasar pian ini! Tidak usah!” katanya sambil tertawa dan terus melaju.

Sesampai di pertigaan dengan penunjuk arah menuju Paramasan dan Kandangan serta jalur alternatif Batulicin–Banjarbaru, kami kembali singgah. Kamera kami keluarkan. Beberapa sudut kami abadikan, sebelum akhirnya perjalanan kami lanjutkan.

Kami kembali singgah. Di sisi kiri jalan, terbuka pemandangan pegunungan yang sebagian lerengnya tertutup kabut. Kami turun dari mobil, memasang lensa tele untuk mengambil detail gunung dari kejauhan. Beberapa frame kami ambil dengan memanfaatkan pepohonan di bagian depan sebagai foreground, sementara gunung dan kabut menjadi objek utama di belakangnya. Setelah mendapatkan beberapa komposisi yang kami anggap cukup, kami kembali memasukkan kamera ke dalam tas dan melanjutkan perjalanan.

Tak lupa, kami abadikan momen ini. Dua pengendara melintas di depan kamera dengan latar jalan yang berkelok, sementara sebuah rumah sederhana berdiri di sisi kiri jalan.

Ruas jalan alternatif Batulicin–Banjarbaru, Maret 2025.

Kami kembali berhenti. Dari posisi yang lebih tinggi, kamera kami arahkan ke ruas jalan yang berkelok turun-naik membelah perbukitan. Pola jalan yang meliuk di antara rimbunnya pepohonan menjadi komposisi utama, dengan beberapa bangunan sederhana di bagian bawah sebagai pembanding skala. Beberapa frame kami abadikan sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Di salah satu titik perjalanan, saya berhenti sejenak di sisi jalan. Sahabat saya mengangkat kameranya dan mengabadikan saya bersama kendaraan, dengan lanskap perbukitan dan kabut pagi sebagai latarnya.

Kemudian perhatian saya tertuju pada sebuah mobil tangki berwarna biru-putih yang melaju di ruas jalan tersebut. Dari dalam mobil, saya sempat mengabadikannya dengan kamera.

“Mestinya mobil-mobil tangki besar begini jangan lewat jalan ini dulu dong. Tuh kan, dia kesulitan saat tanjakan tinggi,” kata saya sambil berusaha mengabadikannya dari belakang.

Baca Juga :  Sudah Sampai Mana Proses Pemakzulan Bupati Gowa?

“Pokoknya, mobil besar sebaiknya jangan dulu lah lewat jalan ini,” protes teman saya.

“Jangan-jangan kita sampai ke Banjar lagi ini, Om,” tawanya kembali meledak.

“Tenang aja. Kalau akhirnya sampai ke Banjar, ya kita kembali lagi hari ini atau besok subuh,” kata saya.

Saat itu bulan Maret 2025. Kami sendiri belum terlalu hafal batas-batas wilayah yang kami lewati. Gerimis mulai turun. Tak terasa mata saya pun terpejam, mungkin karena perjalanan yang cukup panjang.

Tiba-tiba saya dikejutkan suara teman saya.

Kecelakaan, Om… foto Om! … foto Om!

Mobil melaju sangat pelan. Tetapi kamera yang sudah tersimpan di dalam tas tidak sempat saya keluarkan.

Di tepi jalan, sesosok tubuh tergeletak dan tertutup daun-daun. Beberapa pengendara tampak berhenti untuk melihat keadaan. Gerimis masih turun, membuat suasana di sekitar lokasi terasa semakin sunyi.

“Kecelakaan apa itu?” tanya saya yang masih setengah sadar.

“Kecelakaan sepeda motor,” jawab teman saya.

“Terjatuh atau tabrak lari?” tanya saya.

Saya mencoba melihat kembali ke arah lokasi ketika mobil perlahan melewatinya.

“Bisa jadi tabrak lari,” kata teman saya lagi. “Tidak ada mobil yang terlihat di lokasi.”

Memang, posisi kecelakaan berada di sebuah tikungan. Dari arah berlawanan, pandangan pengendara tidak bisa melihat jauh ke depan. Bisa saja sebuah kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan, kemudian terjadi benturan dan kendaraan tersebut terus melaju sebelum orang-orang datang menolong.

Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami pun memilih tidak berhenti. Hanya melintas perlahan, menyaksikan beberapa orang sudah berada di sekitar korban. Kamera tidak sempat saya keluarkan saat melintas tadi karena sudah tersimpan rapi di dalam tas di jok belakang.

Belakangan saya baru mengetahui bahwa kecelakaan yang kami lihat hari itu merenggut nyawa seorang Kepala BPP Kusan Hulu. Menurut informasi yang kemudian saya dengar, korban sedang dalam perjalanan pulang setelah menghadiri agenda Apel Siaga Pangan atau Apel Siaga Pertanian yang diselenggarakan Kementerian di wilayah Banjarbaru/Banjar.

Salah satu jejak pemberitaan KKN Fakultas Perikanan ULM 2025 yang pernah saya abadikan melalui KalimantanSmart.info.

Ceritanya Sudah Berbeda

Saat mendapat kabar ada kegiatan KKN yang mengambil tema Tematik Lingkungan Hidup 2026, terus terang saya tidak terlalu memikirkannya. Bukan karena tidak peduli, tetapi saya mengira lokasinya tentu berbeda dengan kegiatan KKN Fakultas Perikanan tahun 2025.

KKN Fakultas Perikanan tahun sebelumnya terasa lebih dekat dengan keseharian saya. Lokasinya berada di kawasan pesisir yang tentu tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Hampir semua PPL yang bertugas di Tanah Bumbu juga cukup saya kenal.

Saat itu, para PPL yang juga sudah menjadi sahabat-sahabat saya berkomunikasi dengan cukup nyaman dan kooperatif. Ketika saya membutuhkan data terkait kegiatan KKN Fakultas Perikanan 2025, mereka dengan mudah membantu dan memberikan informasi yang saya perlukan untuk pemberitaan.

Selain itu, secara rutin saya memang memberitakan berbagai kegiatan perikanan di Tanah Bumbu melalui tulisan-tulisan dengan tema Kampung Nelayan, Kampung Pembudi Daya, dan Pengolahan Hasil Perikanan. Karena hubungan yang sudah terbangun itu, kegiatan KKN Fakultas Perikanan 2025 memang terasa dekat dengan saya.

Sementara untuk KKN Tematik Lingkungan Hidup 2026, saya tidak terlalu memikirkannya. Saya mengira semuanya akan berjalan seperti kegiatan KKN pada umumnya, hanya dengan lokasi dan tema yang berbeda.

Setahun lebih kemudian, tepatnya akhir Juli 2026, setelah pulang dari Jakarta, saya kembali melewati jalur alternatif tersebut. Kali ini saya mengendarai travel dan duduk di kursi depan. Seperti biasa, perjalanan panjang membuat saya tertidur pulas.

Tepat sebelum tanjakan Gunung Papua, di jalur alternatif itu, saya terbangun ketika sopir bercerita bahwa beberapa saat sebelumnya ia baru saja melihat mayat tergeletak di tengah jalan. Tubuh korban ditutupi kertas kardus, sementara beberapa warga yang berada di sekitar lokasi menyaksikan kejadian tersebut.

Belum hilang ingatan saya tentang cerita itu, perjalanan kembali mempertemukan kami dengan kecelakaan lain. Tepatnya setelah Desa Tamunih, masih di jalur alternatif, terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan tiga kendaraan sekaligus.

Yang masih saya ingat, ada sebuah mobil berwarna merah, sebuah mobil pikap, dan satu kendaraan lagi yang sudah tidak begitu saya ingat jenisnya. Bagian depan kendaraan-kendaraan itu terlihat hancur berantakan akibat benturan.

Belum hilang rasa lelah setelah tiba di rumah, saya kembali membaca kabar di beberapa grup WhatsApp. Kali ini, beredar foto sebuah mobil tangki yang terlihat mengalami kecelakaan cukup parah dengan kendaraan lain di jalur yang sama, jalan alternatif Batulicin–Banjarbaru.

Saya kembali terdiam.

Dalam perjalanan pulang, saya sudah mendengar cerita tentang mayat yang tergeletak di jalan dan melihat dengan mata sendiri kecelakaan beruntun tiga kendaraan. Kini, setelah sampai di rumah, kabar kecelakaan kembali muncul di layar telepon genggam saya.

Semua kabar itu tentu mengingatkan saya pada tulisan yang saya buat pada Maret 2025 tentang betapa berbahayanya jalur ini. Saat itu saya memberi judul yang cukup keras: “Jalan Alternatif Batulicin-Banjarbaru Indah tapi Mematikan.”

Tulisan itu kemudian viral hanya beberapa hari setelah diterbitkan dan hingga kini menjadi tulisan dengan jumlah pembaca terbanyak di website kami.

Saya tidak pernah menyangka tulisan yang lahir dari sebuah perjalanan fotografi tanpa tujuan itu justru menjadi tulisan yang paling banyak dibaca. Lebih dari itu, saya juga tidak pernah menyangka bahwa lebih dari setahun kemudian, perjalanan di jalur yang sama kembali mempertemukan saya dengan begitu banyak cerita tentang kecelakaan.

Tulisan yang kemudian viral dan menjadi artikel dengan jumlah pembaca terbanyak di KalimantanSmart.info.

Saat Jemari ini terasa Kaku di Ruang Ketikan

Beberapa hari kemudian, barulah saya mengetahui bahwa kecelakaan maut itu menimpa rombongan mahasiswa KKN.

Kabar itu terasa lain bagi saya.

Sepanjang 2025, cukup banyak kegiatan mahasiswa KKN yang saya terbitkan di KalimantanSmart.info. Saya berkali-kali menulis tentang mereka ketika berada di desa-desa, menjalankan program, membantu masyarakat, membuat kegiatan, memotret hasil pekerjaan mereka, dan kemudian kembali ke kampus.

Kali ini beritanya berbeda. Sangat berbeda.

Kecelakaan di jalan alternatif Batulicin–Banjarbaru itu ternyata merenggut tujuh nyawa. Lima di antaranya adalah mahasiswa yang sedang menjalankan KKN.

Baca Juga :  Gambut Kita Keringkan, Lalu Panik Saat Terbakar

Saya membaca kabar itu beberapa kali.

Tiba-tiba ingatan saya kembali kepada perjalanan beberapa hari sebelumnya. Tentang cerita sopir travel mengenai mayat yang tergeletak di jalan. Tentang kecelakaan beruntun setelah Desa Tamunih. Tentang mobil tangki yang kemudian kembali saya lihat dalam kabar di grup WhatsApp.

Dan tanpa saya sadari, semuanya kembali membawa ingatan saya ke Maret 2025—ketika saya pertama kali melihat dengan mata sendiri kecelakaan di jalur yang sama, kamera masih tersimpan di dalam tas di jok belakang, dan beberapa hari kemudian saya menulis “Jalan Alternatif Batulicin–Banjarbaru Indah tapi Mematikan.”

Kali ini, yang membuat saya benar-benar terdiam adalah satu kata: KKN.

Berita itu membuat tangan saya kaku, tidak mampu digerakkan di ruang ketikan. Saya tidak sanggup menulis berita tentang tragedi yang menimpa anak-anak KKN itu. Mereka bukan sekadar korban kecelakaan bagi saya. Mereka adalah adik-adik angkatan saya di Universitas Lambung Mangkurat.

Saya benar-benar tidak tega menulis kronologi kecelakaan itu, karena jauh hari sebelumnya saya sudah pernah mengingatkan betapa berbahayanya jalan tersebut melalui tulisan yang saya buat.

Saya bahkan tidak ingin melihat dan membaca berita tentang mereka, sementara teman-teman media lain ramai memberitakannya. Bahkan, dengan berbagai headline yang seolah berlomba mencari siapa yang salah.

Saya memilih tidak membaca lebih jauh. Saya juga memilih tidak membuat berita.

Saya memilih berduka cita dengan cara saya.

Dalam suasana berduka itu, entah berapa hari kemudian tiba-tiba masuk sebuah pesan WhatsApp dari nomor yang tidak saya kenal.

“Om, salam kenal. Saya mahasiswa KKN Tematik ULM. Bisa minta tolong kegiatan kami dijadikan berita?”

Saya terdiam sejenak. Entah dari mana mahasiswa itu mendapatkan nomor saya.

Setelah berpikir, saya mengiyakan, “Kirim semua kegiatan yang ingin ditonjolkan. Kirim beberapa foto dan cukup judul kegiatannya. Nanti saya akan WhatsApp untuk menanyakan kepada pemateri atau ketua kelompok yang bisa menjelaskan.”

Saat itu saya sebenarnya hanya tidak sanggup menolak.

Saya mulai membuat naskah berita kegiatan kelompok ini. Setelah berita itu terbit, saya mulai merenung. Saya melihat hampir tidak ada media yang menulis kegiatan KKN mereka di desa-desa. Entah karena lokasinya yang tersebar jauh, atau mungkin karena situasi di Kabupaten Tanah Bumbu yang sedang berduka.

Dari situ saya mulai berpikir, mungkin bukan hanya kelompok ini yang membutuhkan ruang untuk menceritakan kegiatan mereka. Bisa jadi masih banyak kelompok KKN lainnya yang kegiatannya berjalan di desa-desa, tetapi tidak terdengar dan tidak diberitakan.

Saya kemudian berpikir, mungkin inilah cara saya mengalihkan kesedihan sebagai alumni Universitas Lambung Mangkurat atas tragedi beberapa hari sebelumnya. Bukan dengan menulis tentang kecelakaan itu, tetapi dengan menyibukkan diri memberitakan kegiatan KKN 2026.

Jejak pemberitaan kegiatan KKN ULM 2026 di KalimantanSmart.info

Bergerak dengan Semangat 45

Maka saya bergerak dengan semangat 45.

Saya menghubungi semua camat dan hampir semua kepala desa dan Lurah yang ada di nomor saya. Saya meminta mereka mengabarkan kepada seluruh adik-adik mahasiswa KKN agar mengirimkan materi kegiatan mereka ke redaksi.

Publikasinya saya gratiskan. Meskipun demikian, saya tetap meminta kepada setiap kelompok untuk memberikan sumbangsih gocap per kelompok—bukan per berita— untuk membantu meringankan biaya server website berita yang saya tanggung. Menurut saya, jumlah itu tidak akan membebani mahasiswa, karena rata-rata satu kelompok beranggotakan sekitar 15–16 orang.

Ada pula seorang kepala desa yang menyarankan agar biaya gocap itu biar pihak desa saja yang membayarnya.

Saya menolak.

Saya jelaskan, bukan jumlah uang itu yang saya kejar. Bagi saya, gocap tersebut bukan persoalan besar. Yang ingin saya lihat justru sejauh mana tanggung jawab dan kekompakan adik-adik mahasiswa KKN ketika dihadapkan pada persoalan empati.

Sekali lagi saya tidak menetapkan biaya per berita. Gocap itu untuk seluruh berita kegiatan satu kelompok.

Satu per satu kelompok mulai menghubungi saya. Ada yang mengirim foto kegiatan, ada yang mengirim informasi singkat, dan ada pula yang bertanya apa saja yang perlu disiapkan.

Saya pun berupaya agar semua nama kelompok, nama program studi, dan nama fakultas dicantumkan dengan lengkap.

Ada yang bertanya, “Buat apa, Om? Bukannya cukup narasi atau naskah berita saja?”

“Agar nama kalian semua tercatat meski letaknya di bagian bawah, biar orang tua kalian bisa melihat nama anaknya. Bayangkan betapa bangganya mereka jika nama anaknya disebutkan, meskipun hanya dalam sebuah daftar,” jawab saya.

“Siap, Omku!” kata mahasiswi yang tadi dengan riang. “Alhamdulillah, terima kasih banyak ya, Om,” katanya.

Ada juga yang mengirimkan naskah berita yang mereka buat.

Saya menjawab, “Tidak perlu. Kalian tidak usah repot-repot bikin narasi atau naskah berita, apalagi pakai teknologi kecerdasan AI. Nanti saya telepon saja lewat WhatsApp. Saya tidak perlu naskah secara utuh dan terlihat sempurna dari adik-adik.”

Yang ingin saya tulis adalah cerita kalian secara nyata. Kalian kuliah nyata, turun ke lapangan nyata, bertemu masyarakat nyata. Jadi ceritakan saja apa adanya kepada saya.

Biar lah saya yang menyusunnya menjadi sebuah artikel berita yang menarik dan dapat dipertanggungjawabkan dengan kaidah jurnalistik.

Dan akhirnya, semua paham apa yang saya maksud.

Satu per satu berita kemudian terbit. Dari satu kelompok menyusul kelompok berikutnya, dari satu desa kemudian desa lainnya. Dalam waktu sekitar dua minggu, Alhamdulillah saya mampu menyelesaikan 35 berita kegiatan KKN ULM 2026 dari berbagai desa se-Kabupaten Tanah Bumbu.

Setelah semuanya selesai, saya pun berpikir bahwa berita-berita itu sebaiknya tidak berhenti sebagai publikasi di website. Saya kemudian membagikannya kepada enam dekan fakultas yang nomor kontaknya ada di HP saya, yakni Fakultas Teknik, Fakultas Perikanan, Fakultas Kehutanan, Fakultas Pertanian, Fakultas MIPA, dan Fakultas Ekonomi ULM.

Kepada masing-masing saya kirim pesan:

“Izin, Pak Dekan. Saya ingin membagikan seluruh berita online kegiatan KKN Mahasiswa ULM Tahun 2026 di Kabupaten Tanah Bumbu, untuk dapat dimanfaatkan sebagai arsip kampus.”

Pesan itu kemudian saya kirim satu per satu ke semua petinggi fakultas, termasuk koordinator/dosen penanggung jawab kegiatan KKN ULM 2026 dan juru bicara Rektor ULM. Respons yang datang pun sangat baik. Alhamdulillah, semuanya memberikan apresiasi atas seluruh artikel berita kegiatan KKN Tematik ULM tersebut.

Terima kasih telah membaca, dan sampai jumpa di kegiatan KKN 2027 mendatang.

— Penulis

Ia memilih Pagatan sebagai tempat berpijak—sebuah kota kecil yang sarat cerita perjuangan di pesisir tenggara Kalimantan. Dari sana, ia memandang Indonesia dengan mata seorang jurnalis; bukan hanya melalui berita dan peristiwa, tetapi melalui manusia, kekuasaan, perubahan, serta cerita-cerita yang kerap luput dari perhatian..

Avatar photo

Redaksi

Related posts

Newsletter

Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.

Loading

Proyek Baru - 2025-11-12T104826.198
banner kalimantansmartinfo
Iklan Berita (1)
banner kalimantansmart

Recent News