
Nama tempatnya tidak perlu kita sebutkan, ya. Saya belum izin, dan edisi kali ini kita memang tidak sedang membuat promosi akomodasi.
Pagi itu saya sarapan di sebuah hotel di pusat Kota Banjarbaru. Restorannya berada di lantai satu.
Begitu masuk, pria yang berjaga di dekat pintu resto pun sigap menyapa.
“Silakan, Pak.”
Saya melihat hanya ada satu wadah makanan yang terlihat jelas. Wadah ini terbuat dari stainless steel mengilap. Penutup berbentuk kubahnya bisa dibuka dengan cara didorong ke belakang atau biasa disebut roll top.
Saya pun mengira sarapan pagi itu disajikan secara prasmanan.
Saya kemudian mencari nasi.
“Ini nasinya di mana? Ngambilnya di mana?”
Seorang perempuan yang mengenakan pakaian kerja warna putih dan hitam menjawab.
“Untuk kali ini kami siapkan per porsi ya, Pak.”
Oh, ternyata bukan prasmanan.
Tak lama kemudian makanan datang dalam satu nampan. Ada nasi, daging berbumbu, mi goreng, sayuran tumis, wortel, buncis, tahu, dan telur dadar.
Minuman dan Coco Crunch bisa diambil sendiri.
Saya pun mulai sarapan.
Setelah nasi dan lauk utama habis, masih tersisa kue, buah, kopi, dan beberapa minuman.
Saya kemudian bertanya lagi.
“Kalau ruang santai udara bebas di mana?”
“Di lantai dua, Pak.”
Saya menunjuk kopi yang masih ada di meja.
“Misalnya kopi ini saya bawa ke atas boleh gak?”
“Boleh, Pak. Biar kami yang antar ke atas.”
“Oh ya, nanti letakkan di meja yang dekat colokan listrik sebelah kanan.”
“Iya, Pak. Kue dan buah ini?” tawarnya.
“Boleh,” kata saya.
Tiga perempuan yang tadi melayani saya pun membawa sisa makanan dan minuman itu dengan baki coklat ke lantai dua.
Setelah semuanya diletakkan di meja, mereka bertiga tampak saling berbisik. Sesekali terdengar tawa kecil.
Saya memperhatikan mereka sebentar.
“Eh, bentar. Boleh saya tanya kalian?”
Mereka saling pandang. Sepertinya sedikit bingung. Mereka kembali berbisik sebentar, lalu salah seorang menjawab.
“Boleh, Pak,” katanya.
“Ya sudah, kalian bertiga boleh duduk di meja saya. Santai saja ya.”
Mereka kemudian duduk semeja dengan saya.
“Nih, saya mulai dari kiri. Namanya siapa?”
“Salma, Pak,” jawabnya.
Salma yang masih duduk di bangku SMKN 1 Martapura hari itu terlihat manis dan lembut. Ada sedikit senyum di wajahnya yang membuat raut mukanya terlihat berseri. Sikapnya juga tenang ketika menjawab pertanyaan saya.
“Kalau nanti lulus, mau lanjut kuliah atau bagaimana?”
“Mau lanjut kuliah, Pak.”
“Di mana?”
“Di Surabaya.”
“Jurusan apa?”
“Tata Boga.”
“Sudah ada sekolah tingginya?”
“Universitas, Pak.”
“Oh, universitas.”
“Luar biasa. Semangat ya,” kata saya.
Salma kemudian bercerita bahwa keluarganya juga suka memasak. Itu pula yang membuatnya tertarik melanjutkan pendidikan di bidang Tata Boga.
Pandangan saya kemudian beralih kepada yang duduk di sebelahnya.
“Acha, Pak. Nama saya. Acha satu sekolah dengan Salma,” katanya sambil wajahnya berpaling ke Salma.
“Kalau Acha, kenapa memilih Tata Boga?”
“Karena dari kecil saya memang suka masak.”
“Oh, gitu,” kata saya.
Acha terlihat tenang dan rapi. Cara bicaranya juga kalem, tetapi cukup percaya diri. Ia kemudian bercerita kalau dirinya juga tertarik dengan pastry.
“Pastry.”
Dalam hati saya langsung berpikir, pastry itu apa sih?
Mata saya kemudian beralih kepada yang duduk paling kanan.
“Saya Feby, Pak. Beda sekolah dengan mereka,” kata Feby. Matanya tertuju ke Salma dan Acha.
“Emang sekolah Feby di mana?”
“Saya sekolah di SMKN 1 Banjarbaru.”
Feby hari itu terlihat lebih santai dan luwes. Wajahnya juga terlihat manis, dengan kesan yang sedikit lebih dewasa.
“Apa alasan memilih Tata Boga?”
“Kalau Feby, awalnya memang ingin belajar masak?” lanjut saya.
“Loh, berarti awalnya belum bisa masak?”
“Iya, Pak,” katanya sedikit malu.
“Tapi sekarang sudah bisa masak tentunya, ya?”
“Sudah bisa, Pak.”
“Alhamdulillah,” kata Feby sambil tersenyum sipu.
Dari obrolan singkat itu saya kemudian berpikir, kemampuan memasak jangan dianggap sebagai keterampilan biasa.
Kalau terus dilatih, keterampilan itu bisa menjadi bekal untuk bekerja. Bahkan bisa menjadi peluang usaha.
Peluangnya juga tidak hanya di Banjarbaru atau Banjarmasin. Bisa saja nanti ke Jakarta, Surabaya, bahkan ke luar negeri.
Sekarang belajar memasak juga semakin mudah. Banyak tutorial di YouTube. Tinggal mau mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba lagi.
Saya sendiri meskipun sudah menyelesaikan pendidikan sarjana, masih tertarik belajar soal makanan.
Sebab belajar tidak berhenti hanya karena seseorang sudah mendapatkan gelar.
Setelah obrolan itu selesai, mereka bertiga berdiri dan bersiap kembali bekerja.
Sebelum pergi, mereka sempat kembali berbisik-bisik. Wajah mereka seperti sedang menahan tawa.
Saya hanya tersenyum melihatnya.
Mereka kemudian kembali turun ke lantai satu.
Saya kembali duduk di lantai dua, melanjutkan pekerjaan saya.
Perhatian saya kembali kepada makanan yang tadi mereka bantu bawa ke atas.
Kali ini bukan lagi soal siapa yang menyajikan.
Tetapi soal porsi.
Tentang Porsi
Selama ini kita mengenal makanan prasmanan dan makanan yang disiapkan per porsi. Keduanya bukan sesuatu yang asing.
Dalam hajatan atau acara syukuran, makanan per porsi maupun prasmanan punya tempatnya masing-masing.
Tetapi prasmanan memang punya daya tarik tersendiri.
Ada rasa istimewa ketika di hadapan kita tersedia begitu banyak pilihan. Kita merasa dilayani secara maksimal dan bebas memilih.
Banyaknya hidangan juga sering menjadi bagian dari cara kita menghormati tamu.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Tetapi saya kemudian bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah banyaknya pilihan otomatis berarti kita membutuhkan semuanya?”
Kemampuan kita tetap terbatas.
Perut kita tidak ikut bertambah hanya karena pilihan makanan di depan mata semakin banyak.
Kadang kita mengambil karena ingin mencoba. Karena terlihat menarik. Atau karena berpikir, mumpung tersedia.
Masalahnya, tidak semua yang kita ambil akhirnya kita makan.
Kalau tersisa dan dibuang, makanan itu menjadi food waste.
Padahal di balik sepiring makanan ada bahan pangan, tenaga, biaya, air, energi dan proses yang cukup panjang.
Dari situ saya mulai melihat porsi dengan cara yang sedikit berbeda.
Porsi bukan semata-mata soal banyak atau sedikit.
Porsi adalah soal proporsional dan sesuai kebutuhan.
Lalu saya kembali bertanya kepada diri sendiri:
“Kenapa kita tidak membiasakan porsi?”
Bukan berarti semua makanan harus dibatasi. Bukan pula berarti pilihan harus dihilangkan.
Mungkin kita hanya perlu lebih terbiasa mengambil makanan sesuai kebutuhan.
Sebab banyak belum tentu cukup.
Sedikit belum tentu kurang.
Ukurannya adalah kebutuhan.
Dari soal porsi itu, pikiran saya kemudian bergerak kepada persoalan yang lebih besar.
Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Dari Seporsi Sarapan ke MBG
Saya tidak sedang menyamakan sarapan di hotel dengan MBG. Konteksnya jelas berbeda.
Yang menarik perhatian saya hanya satu:
Porsi.
Kita sering melihat program ini dengan pertanyaan yang terlalu sederhana.
Apakah makanan yang terlihat banyak otomatis berarti cukup?
Atau makanan yang terlihat sedikit otomatis berarti kurang?
Menurut saya, tidak sesederhana itu.
Ukuran keberhasilan tidak cukup hanya dari seberapa penuh wadahnya atau berapa banyak kotak yang dibagikan.
Kita perlu melihat kualitas makanan, komposisinya, kecukupan gizinya, keamanannya, distribusinya, sampai tata kelolanya.
Dan yang tidak kalah penting:
Apakah makanan itu benar-benar dikonsumsi dan tidak banyak yang terbuang?
Dalam MBG, cukup harus punya ukuran yang jelas. Harus sesuai dengan kebutuhan gizi penerimanya.
Untuk memastikan hal tersebut, saya kemudian menghubungi seorang sahabat, teman sekelas saya sejak SD yang kini menjadi ahli gizi, Risma Ernawati.
“Risma, apakah di setiap dapur makanan MBG itu harus didampingi oleh ahli gizi seperti Risma?”
Jawabannya singkat.
“Iye.”
Jawaban singkat itu membuat saya semakin yakin bahwa soal makanan MBG tidak cukup hanya dilihat dari banyak atau sedikitnya makanan. Ada kebutuhan gizi yang harus diperhatikan.
Pada titik ini saya teringat seorang akademisi muda, peneliti dan ekonom. Tutur katanya kalem, tenang, berbasis data, tetapi sangat tajam saat mengkritisi sebuah kebijakan. Namanya Dr. Media Wahyudi Askar.
Dalam RDPU bersama Komisi IX DPR RI, pernyataannya tentang MBG cukup keras.
Ia mengatakan:
“Jadi kalau ada survei di dunia, bisnis apa yang paling menjanjikan abad ini, tahun 2026 hingga 2029, maka jawabannya itu adalah MBG.
Tidak perlu inovasi, tidak perlu kreativitas, ini pasti balik modal. Risikonya cuma satu, masuk penjara dan masuk neraka.”
Kalimat yang cukup menggelitik. Membuat banyak orang tersenyum, bahkan mungkin tertawa.
Saya tidak melihat pernyataan itu sebagai sesuatu yang harus dilawan.
Justru kritik seperti itu penting.
Sebuah program dengan anggaran negara yang besar memang tidak cukup hanya dilihat dari niat baiknya.
Ada uang negara yang dikelola. Ada proses pengadaan. Ada penyedia. Ada distribusi. Ada pelaksana di lapangan.
Semua itu membutuhkan transparansi dan pengawasan.
Jangan sampai program yang tujuan awalnya baik justru membuka ruang bagi rente atau keuntungan kelompok tertentu.
Tetapi di sisi lain, saya juga tidak ingin melihat MBG hanya dari sudut pandang bisnis.
Ada anak-anak yang memang membutuhkan makanan bergizi.
Ada persoalan gizi yang tidak bisa kita abaikan.
Ada pula harapan agar anak-anak tumbuh lebih sehat dan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk belajar.
Jadi menurut saya, mendukung tujuan MBG dan mengkritisi tata kelolanya bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
Tujuannya boleh kita dukung. Pelaksanaannya tetap harus kita awasi.
Semakin besar anggaran yang dikelola, semakin besar pula tuntutan transparansi dan akuntabilitasnya.
Dan kembali lagi kepada soal porsi.
Cukup bukan berarti sedikit.
Dalam MBG, cukup harus punya ukuran yang jelas. Harus sesuai dengan kebutuhan gizi penerimanya.
Sebab kalau porsinya terlalu sedikit sampai tidak memenuhi kebutuhan, itu bukan cukup.
Itu kekurangan.
Sebaliknya, kalau porsinya berlebihan dan akhirnya banyak yang tidak dimakan, tentu ada persoalan lain yang perlu dilihat.
Jadi ukurannya bukan sekadar banyak atau sedikit.
Tetapi sesuai kebutuhan.
Pagi itu saya datang ke hotel hanya untuk sarapan.
Tetapi dari seporsi makanan, obrolan dengan tiga siswa SMK, sampai pembicaraan tentang MBG, saya justru menemukan pertanyaan yang lebih sederhana tentang diri sendiri.
Mungkin selama ini kita terlalu mudah menganggap banyak sebagai lebih baik.
Padahal belum tentu.
Begitu juga dengan sedikit. Belum tentu kurang.
Yang penting adalah tahu kebutuhan kita.
Dan belajar memahami kapan sesuatu sudah cukup.
Karena pada akhirnya, memahami arti cukup bukan berarti mengambil sesedikit mungkin.
Tetapi tahu kapan harus mengatakan:
“Ini sudah cukup.”
Malamnya, karena terburu-buru ingin menyelesaikan tulisan, saya sempat meminta air putih di restoran untuk minum obat pereda nyeri gusi yang baru saya beli dari apotek terdekat.
“Eh, terima kasih ya air putihnya.”
“Siap, Bapak.”
Karena suasananya sudah santai, saya kemudian iseng bertanya,
“Eh, ngomong-ngomong besok menu sarapan apa nih?”
“Menu sarapan maksudnya, Bapak?”
“Iya,” kata saya.
“Untuk besok kami belum bisa memastikan, Pak.”
“Kan per porsi?”
“Bukan per porsi, Pak. Untuk besok kita pelayanan buffet.”
Saya agak bingung.
“Buffet itu apa?”
“Buffet itu istilah untuk prasmanan, Pak.”
“Oh, begitu.”
Saya kemudian bertanya lagi,
“Berarti yang per porsi itu kondisional aja, ya?”
“Betul, Pak. Kalau jumlah tamunya ramai atau melebihi yang ditentukan, kami menggunakan sistem buffet. Kalau tidak mencapai, kami gunakan per porsi.”
“Oh ya?” kata saya sambil tersenyum.
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.