Next Post

Publik Marah Bukan Cuma kepada Koruptor, Tapi Kesenjangan

Ilustrasi. Kopi pahit, cicak nekat, Jembatan Pagatan, Merah Putih. Manusia? Seribu dalih.

Jarang sekali saya memperhatikan kata demi kata dalam sebuah judul berita. Entah itu di media massa maupun video diskusi kebangsaan. Namun kali ini berbeda.

Judulnya sederhana. Kalimatnya kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Entah kenapa, maknanya begitu nempel di pikiran. Bahkan, tautan video tersebut langsung saya bagikan begitu saja ke beberapa grup WhatsApp.

Tadi malam, usai membaca beberapa artikel dan buku, saya tertidur di sofa. Saat terbangun pagi ini, maksud hati ingin menikmati sisa kopi hitam di gelas. Kebiasaan lama yang biasanya saya hangatkan kembali.

Namun, ternyata sudah ada penumpang gelap berenang di sana.

Seekor cicak.

Rupanya ia juga ingin mendapat sedikit bagian dari rezeki hari ini.

Tak apalah.

Mungkin kita sering lupa, ada makhluk lain ciptaan Tuhan yang juga ingin menikmati hidup. Meski bagi si cicak, kenikmatan pagi itu harus dibayar dengan secangkir kopi hitam yang pahit.

Cicak itu mengambil risiko besar dengan menceburkan diri ke dalam gelas. Padahal, sekali terjebak di dasar kaca, sulit baginya untuk naik kembali tanpa bantuan.

Mirip-mirip dengan kita sebagai manusia.

Kita sering kali tahu persis apa risikonya. Bahkan sadar bahwa dampak buruknya bukan hanya menimpa diri sendiri, tetapi juga istri dan anak-anak di rumah. Namun tindakan nekat itu tetap saja dilakukan. Tentu saja, selalu ada seribu dalih untuk membenarkannya.

Ya, saya tidak perlu menjelaskan bagian ini lebih jauh. Biasanya pembaca jauh lebih paham ke mana arah sebuah tulisan, seperti penonton yang tahu ke mana bola akan diarahkan dalam sebuah permainan sepak bola.

Begitulah.

Mari kita simak dan nikmati saja apa yang sebenarnya disampaikan dalam video berdurasi sekitar 11 menit tersebut.

Ada Apa dengan Demonstran Pati?

Pati itu membuat banyak orang patah hati. Karena kalian kabur.

Tetapi banyak juga yang panen simpati.

Ya, sebenarnya tidak membutuhkan itu. Tetapi faktanya memang begitu.

Bukan soal siapa yang benar atau siapa yang salah. Setelah peristiwa itu mereda, dua hal berlangsung bersamaan.

Ada yang panen simpati karena merasa aspirasi dan akumulasi kemarahan publik telah diuraikan dengan baik oleh kalian. Ada pula yang patah hati karena kalian kabur.

Fakta itu mesti ada dulu. Baru setelah itu kita bisa berdiskusi.

Sebab, satu peristiwa bisa diterangkan dengan dua cara berbeda dan melahirkan dua kesimpulan yang bertolak belakang. Di situlah kebingungan bermula.

Mari kita lihat contoh lain.

Ada berita tentang Lionel Messi yang mundur dari tim nasional Argentina. Apa sebenarnya penyebabnya?

Baca Juga :  Gambut Kita Keringkan, Lalu Panik Saat Terbakar

Dalam suratnya, Messi mengatakan sudah cukup memberikan apa yang bisa ia berikan untuk Argentina. Ia merasa tidak mungkin memberikan lebih dari itu.

Kemudian ia mengatakan masih banyak anak muda yang bisa meneruskan keahliannya dalam sepak bola.

Dua keterangan.

Lalu muncul keterangan lain bahwa kematian ayahnya semakin menguatkan keputusan tersebut.

Tiga keterangan dari satu peristiwa yang sama.

Namun ada satu fakta yang tidak diterangkan: surat itu ternyata sudah dibuat dua hari setelah Argentina kalah di Piala Dunia. Artinya, sebelum ayahnya meninggal, keputusan untuk mundur sudah dibuat.

Begitulah sebuah peristiwa mesti dibaca.

Tidak cukup hanya melihat apa yang diterangkan di permukaan. Kita juga perlu mencari apa yang belum diterangkan.

Karena itu, demonstrasi Pati tidak bisa dibaca hanya dengan satu variabel. Ada banyak hal yang bekerja di belakangnya.

Oke, kita cukupkan dulu pembahasan subjudul pertama.

Pertanyaan selanjutnya: mengapa lubang pada tutup panci aluminium didesain sangat kecil, sehingga kita kesulitan mencari gagang pengganti di berbagai platform belanja online?

Pertanyaan ini mendadak muncul pagi ini, tepat saat panci pemanas kopi di dapur terasa sangat sulit diangkat—kecuali jika Anda terpaksa mencungkilnya dengan ujung garpu.

Akibatnya, ketika ada satu komponen rusak, sistem modern sering memaksa kita membeli yang baru daripada merawat yang lama.

Atau, jangan-jangan ini yang disebut throwaway culture—budaya sekali pakai.

Jawabannya, terjemahkan sendiri.

Kita lanjut ke subjudul berikutnya.

Cara Kita Berdiskusi

“Itu pentingnya diskusi. Marah ke segala arah artinya marah tanpa arah.”

Bagi saya, kalimat ini penting. Kemarahan publik bukan masalah. Yang perlu kita pastikan adalah ke mana arah kemarahan itu.

Mari kita ambil contoh Undang-Undang Perampasan Aset. Jika Anda menuntut agar undang-undang itu segera disahkan, saya setuju. Apalagi DPR sudah menandatangani surat komitmen tertulis di hadapan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu untuk mengesahkannya paling lambat Desember 2026.

Tetapi ketika tuntutan itu ditambah hukuman mati, saya tidak setuju.

Mengapa?

Karena satu tuntutan bisa melahirkan persoalan lain.

Begitu pula ketika kita membedah isi drafnya. Aturan ini memuat konsep hukum baru, seperti perampasan aset tanpa menunggu putusan pidana terhadap pelakunya (in rem). Ketika instrumen ini masuk, kita tidak lagi hanya bicara soal efek jera, tetapi juga soal kemanusiaan dan kemungkinan kesalahan sistem: salah tangkap, salah duga, salah hitung, hingga potensi kesewenang-wenangan dalam penyitaan.

Maka kompleksitasnya harus dibongkar.

Begitu pula ketika kita bicara pembuktian terbalik. Jangan hanya berhenti pada istilahnya. Mekanisme penerapannya harus jelas.

Baca Juga :  Model Pilkada Murah - Meninjau Ulang Sistem Pemilihan Kepala Daerah di Indonesia

Kalau pembuktian terbalik hanya diterjemahkan secara sederhana sebagai, “siapa yang kaya harus diperiksa lebih dulu”, tentu persoalannya menjadi lain.

Di sinilah pentingnya diskusi.

Bukan untuk memperbesar kemarahan, tetapi untuk mempertajam persoalan.

Publik Marah Bukan Cuma kepada Koruptor

“Sekarang soalnya adalah, publik marah bukan pada koruptor. Tapi pada kesenjangan ekonomi itu.”

Ini bagian yang menurut saya paling menarik.

Kalau koruptornya sepuluh ribu, sementara pendapatan Anda juga sepuluh ribu, mungkin tidak ada yang terlalu marah.

Tetapi ketika kesenjangannya begitu lebar, kemarahan publik menjadi berbeda.

Public outcry lahir karena disparitas yang tinggi.

Karena itu, suara masyarakat sipil harus dijaga. Jangan sampai energi kemarahan yang awalnya lahir dari keresahan rakyat justru dibajak menjadi kendaraan kepentingan politik.

Gerakan Pati datang dengan suara yang sama: suara masyarakat sipil.

Kemarahan kalian bisa dipahami. Bahkan saya mendukungnya.

Tetapi perhitungan di belakang gerakan itu tetap harus dibaca.

Di sinilah pikiran taktis dan strategis diperlukan.

Kita boleh marah. Tetapi jangan sampai kemarahan itu justru menjadi jalan bagi seseorang untuk mengambil alih kekuasaan atau memperpanjang kekuasaan.

Kita bebas menyuarakan apa saja.

Namun akal sehat harus selalu mendahului kemarahan.

Kecurigaan Lebih Penting daripada Kejujuran

Ada satu kalimat yang menurut saya layak direnungkan:

“Kecurigaan lebih penting daripada kejujuran hari ini. Kecurigaan akan menyelamatkan kita. Kejujuran akan membuat kita jadi aktivis palsu.”

Kalimat ini terdengar ganjil.

Bukankah kejujuran seharusnya menjadi pegangan?

Tetapi mungkin yang dimaksud bukan mengajak kita menjadi tidak jujur. Kecurigaan di sini adalah kewaspadaan.

Dalam politik, sesuatu yang terlihat baik hari ini belum tentu berakhir baik.

Karena itu, kita perlu bertanya: siapa yang diuntungkan? Kepentingan apa yang bekerja? Ke mana arahnya?

Bukan untuk mencurigai semua orang.

Tetapi agar kita tidak terlalu cepat percaya.

Sebab ketika kemarahan publik sedang besar, selalu ada kemungkinan seseorang datang membawa kepentingannya sendiri.

Kalau itu terjadi, rakyat bisa saja hanya menjadi penonton dari permainan yang sebenarnya bukan miliknya.

Dan di situlah akal sehat kembali diperlukan.

Mari kita hitung mundur menuju Desember.

Di sana ada janji kursi parlemen dan ada UU Perampasan Aset yang ditunggu publik.

Apakah janji itu benar-benar akan menjadi kenyataan, atau kembali berhenti sebagai sebuah janji?

Kita tunggu saja.

Kopinya saya buang, cicaknya saya biarkan hidup. Pelaku tidak dihukum mati, hartanya saja yang dirampas. Mungkin, seperti itu maksud video tersebut.

— Penulis

Ia tinggal di Pagatan. Barangkali separuh lebih kepala desa di sana mengenalnya dengan baik, gitu aja deh biar gak ribet menjelaskan.

Avatar photo

Redaksi

Related posts

Newsletter

Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.

Loading

Proyek Baru - 2025-11-12T104826.198
banner kalimantansmartinfo
Iklan Berita (1)
banner kalimantansmart

Recent News