
BANJARBARU — Di tengah riuh peringatan Hari Ulang Tahun ke-27 Kota Banjarbaru di Lapangan Murjani, Senin (20/4/2026), sebuah momen sederhana justru mencuri perhatian. Dua lagu karya Robert Hendra Sulu yang ditulis 26 tahun lalu kembali menggema di panggung utama, dibawakan oleh paduan suara pelajar dengan aransemen yang tertata rapi dan presisi.
Dalam seremoni yang dihadiri menteri, gubernur, hingga kepala daerah se-Kalimantan Selatan itu, lantunan dua lagu tersebut seolah menjadi jeda dari kemeriahan perayaan. Banjarbaru Kota Idaman dan Suara Harapan Baru hadir bukan sekadar pertunjukan, melainkan menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang cita-cita awal sebuah kota yang tengah bertumbuh pada masa pembentukannya.
Lagu yang lahir pada awal perjalanan Banjarbaru sebagai kota baru itu seolah kembali membuka ruang waktu. Bukan hanya menghadirkan nostalgia, tetapi juga menjadi jembatan antara cita-cita masa lalu dan perjalanan kota hari ini yang terus berkembang, berubah, dan bertumbuh mengikuti dinamika zaman.
Di atas panggung, IDAMAN Children Choir SMP Sanjaya Banjarbaru yang beranggotakan 35 siswa tampil di bawah arahan konduktor Rofinus Kalawasa Ketoj. Penampilan mereka tidak sekadar bernyanyi, tetapi juga menunjukkan kemampuan membaca partitur secara langsung.
Menurut Robert Hendra Sulu, hal itu menjadi kekuatan utama paduan suara tersebut.
“Mereka itu anak-anak SMP yang punya kemampuan bernyanyi sambil membaca notasi. Itu paduan suara sejati. Mereka membaca, bukan menghafal, tetapi membaca notasi balok atau partitur,” ujarnya.

Kemampuan membaca partitur secara langsung membuat harmoni tetap presisi. “Jadi tidak mungkin meleset,” tambahnya.
Di barisan tamu undangan, Robert duduk sejajar dengan para pejabat, termasuk Wali Kota Banjarbaru Erna Lisa Halaby. Dari posisi itu, ia menyaksikan kembali penggalan lirik yang pernah ia tulis puluhan tahun lalu—“Jadikanlah Banjarbaru kota metropolitan…”—yang kini terasa memiliki relevansi dalam perjalanan perkembangan kota.
“Puji Tuhan, hari ini saya bisa melihat apa yang dulu saya tulis perlahan menjadi nyata,” ujarnya.
Namun bagi Robert, momen tersebut tidak hanya menjadi nostalgia. Ia melihatnya sebagai ruang refleksi, bahwa setiap gagasan dan harapan yang pernah dituangkan dalam karya akan selalu berhadapan dengan perjalanan waktu dan dinamika perubahan sebuah kota.
Kini Banjarbaru menyandang status sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan. Perubahan ini membawa konsekuensi berupa percepatan pembangunan infrastruktur, meningkatnya mobilitas penduduk, serta ekspektasi publik yang semakin tinggi terhadap layanan dan tata kelola kota.
Seiring pertumbuhan tersebut, tantangan juga ikut hadir, mulai dari penataan ruang, pemerataan pembangunan, hingga kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi kebutuhan kota modern.
Dalam konteks itu, Banjarbaru Kota Idaman tidak hanya dipahami sebagai karya seni, tetapi juga sebagai simbol harapan yang merekam perjalanan awal sebuah kota. Sementara Suara Harapan Baru lahir dari fase kepemimpinan terkini, terinspirasi dari 100 hari kerja Wali Kota Banjarbaru, sekaligus menjadi refleksi atas perubahan status kota.

Pemerintah kota, menurut Robert, telah menerima kedua lagu tersebut beserta perangkat musiknya sebagai aset daerah, yang memiliki nilai simbolik dan kultural.
Momentum peringatan itu juga mempertemukan kembali Robert dengan sahabat lamanya, Amin, setelah hampir dua dekade. Dari pertemuan tersebut, muncul gagasan untuk merevisi Mars Banjarbaru agar lebih selaras dengan identitas kota sebagai ibu kota provinsi.
Usulan tersebut tidak hanya menyentuh aspek lirik, tetapi juga mencerminkan cara sebuah kota memaknai dirinya di tengah perubahan yang terus berlangsung. Rencana itu akan diajukan kepada Wali Kota Banjarbaru sebagai bagian dari penguatan identitas kultural daerah.
Di tengah kemeriahan perayaan, pesan-pesan itu mengalir secara halus bersama setiap bait lagu yang dibawakan dengan presisi, dibaca dari partitur, bukan sekadar dihafal.
Bagi Robert, lagu melampaui sekadar karya seni. Ia menjadi bentuk doa yang dilantunkan dalam bahasa musikal. Ia mengutip ungkapan Latin, “Qui bene cantat bis orat”—siapa yang bernyanyi dengan baik, setara dengan doa yang dipanjatkan berulang kali.
Kini, di usia ke-27, Banjarbaru tidak hanya merayakan perjalanan. Kota ini juga sedang membaca kembali jejak harapan yang pernah dituliskan 26 tahun lalu—sebuah perjalanan panjang antara mimpi, karya, dan realitas yang terus berkembang.
Tonton juga: Diskusi menarik bersama Robert Hendra Sulu mengenai fakta hukum yang jarang diketahui publik melalui tautan video ini
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.