Next Post

Jangan-Jangan Kelangkaan BBM Ada Kaitannya dengan Maraknya Kendaraan Listrik?

Prohaba.co

JAKARTA — Jangan-jangan kelangkaan BBM yang belakangan dirasakan masyarakat ada kaitannya dengan perubahan besar dalam industri otomotif dunia?

Pertanyaan ini muncul di tengah semakin kuatnya perkembangan kendaraan listrik di berbagai negara. Saat masyarakat di sejumlah wilayah harus menghadapi antrean panjang untuk mendapatkan BBM, pasar otomotif global justru menunjukkan arah berbeda: kendaraan listrik dan hybrid terus mengambil porsi kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel.

Fenomena tersebut sebelumnya disoroti CNBC Indonesia dalam artikel berjudul “Mobil Bensin Bakal Tamat, Tandanya Sudah Muncul di Mana-Mana” yang terbit 24 Juli 2026.

CNBC mengutip perkembangan di China dan Eropa sebagai indikator semakin kuatnya pergeseran menuju kendaraan listrik.

China Mulai Mengurangi Ketergantungan BBM

Di China, sekitar separuh dari 1,3 juta armada taksi telah menggunakan kendaraan listrik. Di sejumlah kota besar, angkanya bahkan mendekati 100 persen.

Penggunaan kendaraan listrik juga berkembang pesat dalam layanan transportasi daring.

Pada Mei 2026, masyarakat China melakukan sekitar 3,05 miliar perjalanan melalui layanan ride-hailing. Pada periode yang sama, konsumsi bensin turun sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan konsumsi solar turun 14 persen.

Penurunan tersebut menarik karena terjadi ketika aktivitas transportasi masih tinggi.

Volume angkutan barang melalui jalan raya meningkat sekitar 2 persen dan perjalanan darat selama libur May Day mencapai rekor.

Artinya, berkurangnya konsumsi BBM tidak semata-mata disebabkan masyarakat mengurangi mobilitas. Perubahan jenis kendaraan yang digunakan juga menjadi salah satu faktor.

Didi, salah satu perusahaan transportasi daring terbesar China, disebut menambah sekitar 2 juta kendaraan hybrid dan listrik pada tahun sebelumnya. Total armada non-fosilnya mencapai sekitar 8 juta kendaraan, dengan kendaraan listrik menyumbang sekitar 75 persen dari total jarak perjalanan.

Baca Juga :  Spanduk "Makassar Tidak Tunduk Pada Raja Jawa" dan Gelombang Protes di Sulsel

Eropa Mengikuti Arah yang Sama

Perubahan serupa terlihat di Eropa.

Data European Automobile Manufacturers’ Association atau ACEA menunjukkan kendaraan listrik berbasis baterai mencapai 20,7 persen pasar mobil baru Uni Eropa pada semester pertama 2026.

Hybrid bahkan mencapai 37,3 persen.

Sebaliknya, gabungan mobil bensin dan diesel turun menjadi 29,7 persen, dari 37,8 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. (acea.auto)

Registrasi mobil bensin juga turun 17,2 persen pada semester pertama.

Angka tersebut belum berarti kendaraan berbahan bakar minyak akan segera hilang. Namun arah pasar kendaraan baru semakin menunjukkan perubahan.

Indonesia Mulai Menyiapkan Perubahan

Indonesia memiliki kondisi yang berbeda.

Kendaraan berbahan bakar minyak masih mendominasi jalan raya dan BBM tetap menjadi kebutuhan utama masyarakat.

Namun pemerintah juga mulai membangun ekosistem kendaraan listrik.

Perpres Nomor 79 Tahun 2023 mengatur percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Regulasi tersebut juga memungkinkan SPBU menjadi salah satu lokasi penyediaan SPKLU.

Pertamina pun mengembangkan konsep Green Energy Station, yang menggabungkan layanan energi konvensional dengan infrastruktur kendaraan listrik.

Dengan demikian, transisi energi tidak serta-merta berarti SPBU harus ditutup.

Justru SPBU dapat mengalami perubahan fungsi.

Bagaimana Masa Depan SPBU Pertamina?

Jika jumlah kendaraan listrik terus bertambah, kebutuhan terhadap BBM untuk transportasi dapat berubah secara bertahap.

Saat ini, kendaraan datang ke SPBU terutama untuk mengisi bensin atau solar.

Di masa depan, sebagian kendaraan dapat datang untuk mengisi daya baterai.

Jika perkembangan tersebut semakin besar, komposisi layanan di SPBU pun berpotensi berubah.

Karena itu, pertanyaan mengenai masa depan SPBU menjadi relevan.

Apakah suatu hari seluruh SPBU Pertamina akan berakhir?

Belum ada kebijakan yang menyatakan demikian.

Baca Juga :  Haji Isam Sambut Positif Danantara: Langkah Strategis Menuju Indonesia Emas 2045

Arah kebijakan yang tersedia justru menunjukkan bahwa SPBU dapat menjadi bagian dari jaringan pengisian kendaraan listrik.

Dengan kata lain, yang mungkin berubah bukan keberadaan SPBU, melainkan jenis energi yang menjadi layanan utamanya.

Antrean BBM dan Perubahan Energi

Di satu sisi, masyarakat masih menghadapi persoalan ketersediaan BBM dan antrean panjang di sejumlah daerah.

Di sisi lain, industri otomotif dunia sedang bergerak menuju elektrifikasi.

Dua fenomena tersebut tidak bisa begitu saja dianggap memiliki hubungan sebab-akibat.

Belum ada bukti bahwa kelangkaan BBM sengaja dibuat untuk mendorong masyarakat membeli kendaraan listrik.

Namun perubahan struktural dalam sektor transportasi memang sedang berlangsung.

China menunjukkan pertumbuhan kendaraan listrik dalam layanan taksi dan transportasi daring.

Eropa mencatat peningkatan kendaraan listrik dan hybrid sekaligus penurunan pangsa bensin dan diesel.

Indonesia mulai membangun SPKLU dan memasukkannya ke dalam ekosistem SPBU.

Maka persoalan yang menarik untuk diamati bukan semata-mata apakah mobil bensin akan hilang.

Pertanyaan yang lebih besar adalah seberapa cepat ketergantungan transportasi terhadap BBM akan berkurang, dan seperti apa bentuk SPBU ketika kendaraan listrik semakin banyak digunakan.

Mobil bensin belum tamat.

SPBU juga belum akan berakhir.

Tetapi arah perubahan teknologi dan kebijakan energi menunjukkan bahwa keduanya mungkin tidak akan terlihat sama seperti sekarang dalam beberapa tahun mendatang.

Avatar photo

Redaksi

Related posts

Newsletter

Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.

Loading

Proyek Baru - 2025-11-12T104826.198
banner kalimantansmartinfo
Iklan Berita (1)
banner kalimantansmart

Recent News