
BATULICIN — Keterbatasan fasilitas perikanan masih menjadi persoalan utama nelayan di Desa Sungai Cuka, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, meski desa ini menyimpan potensi kelautan yang besar. Kondisi tersebut terungkap dalam kegiatan survei Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang dilakukan tim survei bentukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan lembaga penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB).
Survei lapangan di Desa Sungai Cuka dilaksanakan selama lima hari dan berakhir pada Selasa, 16 Desember 2025, sebagai bagian dari survei serentak di ratusan desa pesisir di berbagai wilayah Indonesia.
Salah satu surveyor, Naila Alifah Isvita, alumni Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Sudirman, menyebut sekitar 30 persen warga Sungai Cuka berprofesi sebagai nelayan. Rentang usia nelayan sangat beragam, dari usia muda hingga lanjut, dengan sebagian besar telah melaut sejak usia sekolah dasar.

Naila bersama rekannya Galuh Intan Sabrina, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, melakukan pengumpulan data sosial, ekonomi, infrastruktur, hingga aktivitas perikanan masyarakat nelayan setempat.
“Beberapa nelayan yang saya wawancarai pendidikan terakhirnya SD. Mereka sudah melaut sejak kecil karena memang ini mata pencaharian turun-temurun,” ujar Naila.
Dari sisi wilayah, Desa Sungai Cuka memiliki lahan yang luas, termasuk lahan hibah dari pemerintah desa untuk pengembangan kawasan. Lokasi lahan usulan KNMP berada di dekat bibir pantai, sementara dermaga nelayan terletak di muara sungai.
“Dermaga kayu yang ada saat ini lebarnya sekitar 2 meter dengan panjang mencapai 50 meter. Dermaga kayu ulin hanya terdapat di muara sungai, namun menghadapi kendala pendangkalan muara. Sementara itu, jumlah kapal nelayan di Sungai Cuka hampir mencapai ratusan unit,” jelasnya.

Di desa ini telah berkembang jasa pembuatan dan perbaikan kapal, namun untuk perbaikan mesin, nelayan masih harus menuju Desa Sungai Danau karena fasilitas tersebut belum tersedia di Sungai Cuka.
Persoalan krusial lainnya adalah akses BBM subsidi. Saat ini nelayan tidak lagi dapat memperoleh BBM subsidi akibat adanya penyalahgunaan oleh oknum warga yang memperjualbelikan kembali BBM bersubsidi, sehingga pasokan dihentikan. Kondisi tersebut memaksa nelayan menempuh jarak sekitar 20 kilometer untuk mendapatkan BBM.
“Nelayan kecil di Sungai Cuka membutuhkan sekitar 50–75 liter BBM setiap kali melaut, untuk aktivitas penangkapan selama satu hari satu malam,” ungkap Naila.
Dari sisi produksi, hasil tangkapan nelayan Sungai Cuka didominasi ikan kakap merah. Pada musim tangkap tinggi, satu kapal dapat menghasilkan hingga 200 kilogram per trip. Namun, ketiadaan tempat pelelangan ikan (TPI) membuat nelayan menjual hasil tangkapan kepada pengumpul dengan harga lebih rendah. Sebagian nelayan mengolah ikan menjadi ikan asin untuk mempertahankan nilai jual.

Selain itu, Desa Sungai Cuka juga belum memiliki cold storage, pabrik es, bengkel mesin, maupun sentra kuliner. Meski demikian, mulai tumbuh UMKM olahan hasil laut, seperti usaha amplang yang didukung pendanaan dari PT Pama Persada, meski produksinya masih berbasis pesanan.
Survei di Desa Sungai Cuka merupakan bagian dari proses seleksi nasional program KNMP. Dari ribuan proposal yang masuk ke KKP, hanya hampir 300 desa yang dikunjungi tim survei. Selanjutnya, 250 desa akan ditetapkan sebagai lokasi terpilih berdasarkan peringkat hasil survei lapangan, yang dilakukan oleh tim surveyor dengan pendampingan peneliti KKP berpengalaman.
Program Kampung Nelayan Merah Putih dirancang untuk mentransformasi desa nelayan tradisional menjadi kawasan pesisir yang modern, produktif, dan terintegrasi, dengan penguatan infrastruktur, ekonomi, dan sumber daya manusia guna meningkatkan kesejahteraan nelayan secara berkelanjutan.
@kkpgoid #KNMP #KKP #KementerianKelautanPerikanan #Nelayan #Perikanan #Pesisir
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.