Next Post

Cerita Survei Seleksi Nasional KNMP di Desa Rantau Panjang Hilir

Surveyor Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) bersama penyuluh perikanan setempat melakukan pendataan dan pengamatan aktivitas nelayan di Desa Rantau Panjang Hilir, Kecamatan Kusan Tengah, Kabupaten Tanah Bumbu, Minggu 14 Desember 2025

Tanah Bumbu — Program prioritas Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) memasuki tahapan krusial berupa survei lapangan di sejumlah wilayah pesisir Indonesia. Di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Desa Rantau Panjang Hilir, Kecamatan Kusan Tengah, menjadi salah satu lokasi yang disurvei.

Survei ini merupakan bagian dari persiapan pencanangan 250 Kampung Nelayan Merah Putih pada 2026, yang direncanakan mulai direalisasikan sekitar Maret 2026. Penilaian lapangan dilakukan oleh tim bentukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Di Desa Rantau Panjang Hilir, Mulpiyanti dari Universitas Indonesia, jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial, bersama Rianto Rafid Subakti dari IPB, jurusan Teknologi Hasil Ternak, ditugaskan untuk melakukan survei lapangan. Mereka didampingi oleh penyuluh perikanan setempat, Noor Jennah, yang membantu pendataan, pendampingan masyarakat, serta pengenalan kondisi sosial dan kelembagaan nelayan.

Survei lapangan berlangsung selama lima hari, mulai Jumat 12 Desember hingga Selasa 16 Desember 2025.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bersama surveyor dan penyuluh perikanan, disambut Sekretaris Desa saat melakukan kunjungan di kantor Desa Rantau Panjang Hilir, Kecamatan Kusan Tengah, Kabupaten Tanah Bumbu, Minggu, 14 Desember 2025.

Menariknya, Desa Rantau Panjang Hilir bukan desa pesisir. Wilayah ini tidak memiliki garis pantai langsung dengan laut, tetapi jumlah nelayannya cukup banyak. Aktivitas perikanan tangkap tetap berjalan aktif, memanfaatkan Sungai Kusan sebagai jalur utama untuk menuju laut yang bermuara di kawasan Muara Pagatan, dengan jarak hampir satu jam dari desa.

Baca Juga :  Menelusuri Dua Muara di Kampung Nelayan Sungai Dua Laut

Dalam pelaksanaan survei, tim turun langsung ke lapangan untuk menggali kondisi sosial, ekonomi, aktivitas perikanan, kelembagaan nelayan, serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung.

Mulpiyanti bercerita tentang pengalamannya selama di lapangan:

“Untuk wawancara dengan para nelayan, alhamdulillah mereka sangat antusias dengan program Kampung Nelayan Merah Putih. Tapi ada beberapa momen ketika kami harus menggunakan bahasa ibu mereka, jadi tidak semuanya bisa langsung kami pahami. Akhirnya, kami menggunakan pendampingan dari tim Merah Kudim dulu. Dari kata-perkata mereka, sebagian besar bisa kami pahami, alhamdulillah.”

Mulpiyanti, Rianto Rafid Subakti, dan Nadiah saat mengunjungi bagang tancap nelayan pada Senin, 15 Desember 2025.

Ia menambahkan, pendampingan dari penyuluh sangat membantu, terutama untuk memahami struktur kelompok nelayan. “Dari awal sampai akhir survei, pendampingan sangat membantu. Beliau benar-benar merangkul para nelayan, sampai hafal kelompok mereka masing-masing, aktivitasnya apa, dan bagaimana administrasinya,” jelas Mulpiyanti.

Menurut Mulpiyanti, sebagian besar nelayan sudah memiliki kelengkapan administratif, termasuk kartu nelayan, dan keterlibatan perempuan cukup menonjol. Ibu-ibu nelayan terlibat dalam kelompok kebudayaan dan Koperasi Desa Merah Putih, yang berperan aktif dalam operasional perikanan.

“Kalau cara wawancaranya, kami saling sapa dulu, menanyakan apa yang sedang dikerjakan. Kemudian ngobrol santai, sambil mencatat semua informasi,” lanjut Mulpiyanti. “Beberapa kepala keluarga nelayan juga ikut sosialisasi, sebagian diwakilkan.”

Dari sisi pendidikan, sebagian besar nelayan tidak menamatkan SD. Namun pengalaman mereka dalam melaut rata-rata lebih dari 30 tahun, sehingga meski pendidikan rendah, kemampuan dan pengalaman lapangan sangat tinggi.

Dalam desa telah terbentuk 8 Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan. KUB ini berfungsi untuk berbagi informasi, penguatan modal, dan solidaritas antaranggota. Modal awal berasal dari pribadi masing-masing, meski kemudian banyak dibantu Dinas Perikanan, termasuk BBM untuk operasional.

Baca Juga :  Tengok Aktivitas Nelayan Bagang di Jembatan Betung Hasilkan Ratusan Kilogram Ikan Segar Setiap Hari
Mulpiyanti, surveyor KNMP untuk Desa Rantau Panjang Hilir (kiri) dan Nadiah, surveyor KNMP dari Desa Beringin (kanan), tampak mengabadikan momen di atas bagang tancap nelayan saat mengunjungi lokasi pada Senin, 15 Desember 2025.

Potret kehidupan nelayan terlihat lebih nyata saat malam hari di bagang.

“Pada Senin malam, saya bersama rekannya ikut meninjau salah satu bagang di Kecamatan Kusan Hilir bersama surveyor lain. Lampu-lampu di bagang menyoroti aktivitas memasang jaring untuk menangkap ikan. Saat hujan deras turun, mereka tetap bekerja. Di atas bagang, kami juga menyaksikan proses menyiangi cumi-cumi, dipandu oleh penyuluh perikanan, yang menjelaskan tahapan kerja,” cerita Mulpiyanti.

Secara umum, Desa Rantau Panjang Hilir dinilai memiliki potensi perikanan yang cukup besar, meski tidak berada langsung di pesisir. Hasil survei awal menunjukkan perlunya penguatan sarana transportasi air, prasarana perikanan, serta dukungan kelembagaan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Hasil survei ini akan menjadi bahan kajian dan pertimbangan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam menentukan lokasi Kampung Nelayan Merah Putih yang akan dicanangkan mulai 2026.

Surveyor mengabadikan hasil tangkapan dari jaring nelayan bagang pada malam hari, Senin, 15 Desember 2025

@kkpgoid #KNMP #KKP #KementerianKelautanPerikanan #Nelayan #Perikanan #Pesisir

Avatar photo

Redaksi

Related posts

Newsletter

Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.

Loading

Proyek Baru - 2025-11-12T104826.198
banner kalimantansmartinfo
Iklan Berita (1)
banner kalimantansmart

Recent News