
Tanah Bumbu — Program prioritas Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) memasuki tahap survei lapangan di beberapa wilayah pesisir Indonesia. Salah satu lokasi yang disurvei adalah Desa Satui Timur, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Survei ini menjadi bagian dari persiapan pencanangan 250 Kampung Nelayan Merah Putih pada 2026, yang direncanakan mulai direalisasikan sekitar Maret 2026.
Survei lapangan di Desa Satui Timur berlangsung dari 12 hingga 16 Desember 2025, didampingi penyuluh perikanan desa Satui Timur, Rominah, serta pendamping penyuluh lainnya, Sri Suryaningsih dan Sri Narsih, yang memudahkan komunikasi dan koordinasi dengan masyarakat. Tim surveyor yang bertugas di desa ini terdiri dari Fitriana Nurfadhila, mahasiswa IPB jurusan Agribisnis, dan Nahdah Ayatillah dari Universitas Maritim Raja Ali Haji jurusan Ilmu Kelautan.
Menurut Fitriana Nurfadhila, tim survei menginap di Hotel Satui Adigraha, cukup dekat dari desa, dan langsung bertemu kepala desa serta ketua RT setempat untuk meninjau lokasi lahan yang akan dikaji. “Jalan yang kami lalui menuju lokasi adalah di atas, bukan langsung pesisir. Rumah-rumah di sana, sebanyak 24 unit, diperuntukkan bagi nelayan laut, tapi saat survei yang dihuni hanya sekitar 10–15 rumah. Sisanya kosong atau dijual karena nelayan laut menempati rumah hanya saat musim tangkap, mulai Desember hingga Mei,” jelas Fitriana.
Mayoritas nelayan di Desa Satui Timur adalah nelayan sungai, sementara nelayan laut jumlahnya relatif sedikit. Aktivitas nelayan laut fokus pada penangkapan udang ebi, menggunakan jaring dorong dan jaring tarik, yang kemudian dikeringkan dan dijual ke pengepul. Para nelayan laut ini juga menghadapi kendala karena keterbatasan akses ke fasilitas dan dukungan terkait alat tangkap.

Menurut Fitriana, tim survei juga berdiskusi dengan nelayan laut yang menghuni rumah-rumah tersebut. Mereka berbagi pengalaman terkait kegiatan menangkap udang ebi dan kendala yang dihadapi karena fasilitas pendukung yang terbatas. Program KNMP diyakini akan membantu mereka, baik dari sisi alat tangkap maupun dukungan fasilitas.
Selain Satui Timur, tim survei juga meninjau desa tetangga Satui Ibarat, tetap didampingi penyuluh perikanan Rominah, Sri Suryaningsih, dan Sri Narsih, untuk melihat kondisi nelayan laut yang mayoritas memiliki kapal sendiri. “Kalau program KNMP dibangun di Satui Timur, ini juga akan berdampak positif ke Satui Ibarat karena jaraknya dekat. Para nelayan menyambut baik rencana ini dan bersedia mendukung aktivitas yang tidak terganggu,” ujar Fitriana.
Survei mencatat kondisi sosial dan ekonomi nelayan laut di Satui Timur. Akses ke pasar dan toko masih jauh, sehingga pembangunan fasilitas seperti cold storage, bengkel kapal, dan dukungan UMKM akan sangat membantu meningkatkan kesejahteraan mereka.
“Kami diterima dengan baik, baik di Satui Timur maupun Satui Ibarat. Kami bisa melihat langsung aktivitas nelayan, kendala yang mereka hadapi, dan potensi yang bisa dikembangkan melalui program KNMP,” tutur Fitriana

.Tim survei juga menekankan pentingnya pendampingan penyuluh perikanan dalam memfasilitasi komunikasi dengan nelayan dan perangkat desa. Kehadiran Rominah, Sri Suryaningsih, dan Sri Narsih membantu tim dalam memahami kondisi nyata di lapangan, mengumpulkan data sosial-ekonomi, serta melihat langsung aktivitas tangkap udang ebi dan kondisi sarana perikanan yang ada.
Hasil survei ini akan menjadi bahan kajian Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam menentukan lokasi Kampung Nelayan Merah Putih, serta memberikan rekomendasi untuk pengembangan sarana, prasarana, dan pemberdayaan nelayan laut di Satui Timur dan desa-desa sekitar.
@kkpgoid #KNMP #KKP #KementerianKelautanPerikanan #Nelayan #Perikanan #Pesisir
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.