Next Post

Ubur-ubur Desa Muara Pagatan Tembus Jepang, Korea, dan Tiongkok

Seorang nelayan menuangkan hasil tangkapan ubur-ubur ke dalam keranjang di atas kapal setelah dibawa dari laut Muara Pagatan, sabtu (6/9/2025).

BATULICIN, KALSMART.info – Sejak pagi buta, pelabuhan Desa Muara Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, Tanah Bumbu, tampak ramai. Perahu-perahu nelayan merapat membawa busket penuh ubur-ubur hasil tangkapan. “Kalau lagi musim bisa empat ratus busket sekali turun ke laut,” kata Ansar, pemuda yang membantu ayahnya menurunkan tangkapan.

Seorang nelayan menuangkan ubur-ubur hasil tangkapan ke dalam keranjang di atas kapal setelah dibawa dari laut Muara Pagatan, sabtu (6/9/2025).

Ubur-ubur dari perahu langsung diangkut ke arah papan seluncuran menuju bak penampungan berkapasitas tiga ton. “Satu busket rata-rata isinya 30 kilo. Dari sini langsung kami taburi tawas, didiamkan dulu dua hari biar awet,” jelas Acil Kanah atau biasa disapa Mama Anggi, salah satu pekerja senior di lokasi.

Sejumlah pekerja di Pelabuhan Muara Pagatan mengangkut keranjang berisi ubur-ubur segar dari kapal ke tempat penampungan, sabtu (6/9/2025).

Setelah dua hari, proses berlanjut dengan pencampuran garam dan tawas. “Ubur-uburnya diputar pakai mesin blending tiga sampai empat jam. Kalau kurang lama, kualitasnya bisa turun,” ujar Isam, pemuda yang menjaga mesin. Ia tersenyum sambil mengelap keringat, “Saya biasanya nungguin sampai selesai, baru bisa makan.”

Aliran ubur-ubur segar dari laut Muara Pagatan melewati jalur pencucian sederhana sebelum diolah lebih lanjut. sabtu (6/9/2025).

Mama Anggi menambahkan, “Setelah itu dipindah lagi ke bak lain, ditambah garam lagi, lalu didiamkan tiga hari. Proses ini berulang sampai lebih dari sepuluh hari. Sabar itu kuncinya, kalau buru-buru hasilnya tidak bisa diekspor.”

Ansar, Abdul, dan Ikbal bersama para pekerja muda di Desa Muara Pagatan terlihat sibuk mengolah ubur-ubur segar di kolam penampungan. sabtu (6/9/2025).

Di sudut gudang, ibu-ibu sibuk memilah kepala dan kaki ubur-ubur. Hikmah berkata, “Kalau bagian kakinya lebih murah, tapi tetap ada yang beli.” Lawiyah menimpali, “Kerja kami telaten saja, yang penting bersih.”

Baca Juga :  Menyapa Riuhnya Aktivitas Subuh di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Batulicin Simpang Empat
Umi, salah satu pekerja perempuan, membersihkan ubur-ubur sebelum masuk tahap pengemasan untuk kebutuhan ekspor. sabtu (6/9/2025).

Mama Anggi juga tak bosan mengingatkan pentingnya kualitas. “Kalau kotor sedikit saja, eksportir bisa menolak. Makanya di sini semua harus rapi dan bersih sebelum dimasukkan ke box packing,” katanya. Box itu nantinya dikirim lewat Banjarmasin dan Surabaya menuju Jepang, Korea, hingga Cina.

Hikmah, Lawiyah, dan pekerja wanita lainnya di Muara Pagatan tampak sibuk membantu proses awal pengolahan ubur-ubur sebelum pengepakan di pelabuhan, sabtu (6/9/2025).

Sementara itu, Ikbal, pemuda yang membantu angkat busket, menyinggung soal harga. “Nelayan jualnya Rp13 ribu sampai Rp14 ribu per kilo. Setelah dikemas untuk ekspor bisa Rp25 ribu sampai Rp30 ribu. Beda jauh, tapi kami di sini yang penting ada kerjaan,” ujarnya.

Widan bersama sejumlah anak SMP Negeri 7 Kusan Hilir tampak santai di lokasi pengolahan ubur-ubur Muara Pagatan usai membantu proses pemindahan, sabtu (6/9/2025).

Anak-anak sekolah juga tak mau ketinggalan. Saat libur Sabtu dan Minggu, mereka ikut membantu proses pengolahan. “Lumayan bisa dapat Rp100 ribu sampai Rp150 ribu sehari. Bisa buat jajan atau bantu orang tua,” kata Abdul sambil tertawa.

Hamparan ubur-ubur segar hasil tangkapan nelayan Muara Pagatan terlihat memenuhi bak penampungan sebelum masuk tahap pemilahan dan pengolahan, sabtu (6/9/2025).

Selain bekerja di pengolahan, Mama Anggi juga punya cara lain mencari rezeki. “Kalau lagi istirahat, saya siapkan teh, kopi, sama gorengan buat kawan-kawan. Harganya seribuan saja, biar mereka segar lagi kerja,” ujarnya sambil menuangkan minuman panas.

Saimah dan Umi, pekerja perempuan di Desa Muara Pagatan, tampak sibuk memilah ubur-ubur sebelum masuk tahap pengepakan untuk kebutuhan ekspor, Sabtu (6/9/2025).

Ikbal yang duduk di dekatnya menimpali, “Kalau tidak ada Mama Anggi, kami susah juga. Kerja lama begini perlu ada yang jual minum.” Beberapa pekerja lain pun tampak antre membeli gorengan sederhana buatan Mama Anggi.

Baca Juga :  Mahasiswa KKN-T FPIK ULM Angsana Hijaukan Pesisir Tanah Bumbu dengan Mangrove
Seorang pekerja di Desa Muara Pagatan terlihat tengah melakukan proses pengepakan ubur-ubur yang sudah melalui tahap pengolahan, sebelum dimasukkan ke dalam box untuk kebutuhan ekspor, Sabtu (6/9/2025).

Bagi warga Muara Pagatan, musim ubur-ubur selalu jadi berkah. “Semua orang bisa ikut merasakan. Ada yang nelayan, ada yang pengolah, ada yang dagang juga. Dari ubur-ubur inilah dapur kami tetap berasap,” ucap Mama Anggi menutup perbincangan.

Tenda biru yang berdiri di area pelabuhan Muara Pagatan menjadi pusat aktivitas pekerja mengolah ubur-ubur hingga tahapan pengepakan sebelum masuk kontainer pengiriman.
Avatar photo

Redaksi

Related posts

Newsletter

Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.

Loading

Proyek Baru - 2025-11-12T104826.198
banner kalimantansmartinfo
Iklan Berita (1)
banner kalimantansmart

Recent News