Next Post

KPA Ulin Gelar Eksplorasi Gua Liang Udut Part I, Dokumenternya Disambut Antusias Publik

Peserta kegiatan KPA Ulin berfoto bersama di jembatan kawasan Liang Udut, Desa Bungkukan, Kabupaten Kotabaru. Jembatan ini menjadi salah satu akses menuju area karst dan objek wisata alam yang sering digunakan untuk kegiatan pendidikan alam dan petualangan.

Diikuti 22 peserta dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, kegiatan ini mengedepankan keselamatan, edukasi konservasi karst, serta memperkuat silaturahmi lintas generasi pecinta alam.

KOTABARU – Selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (30–31 Mei 2026), Kelompok Pecinta Alam (KPA) Ulin menggelar kegiatan berkemah dan eksplorasi bertajuk “Kebersamaan KPA Ulin di Alam Karst” di kawasan wisata Gua Liang Udut, Desa Bungkukan, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru.

Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan satu dekade berdirinya KPA Ulin ini diikuti sedikitnya 22 peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, di antaranya Batulicin, Banjarbaru, Pelaihari, Mantewe, Serongga, Sengayam, dan sejumlah wilayah lainnya.

Selain menjadi ajang petualangan alam, kegiatan ini juga menjadi wadah silaturahmi lintas generasi pecinta alam. Para pendiri, anggota senior, peserta baru, hingga berbagai profesi turut berbaur dalam suasana kekeluargaan yang hangat.

Kegiatan tersebut tidak hanya berisi eksplorasi kawasan karst, tetapi juga menjadi sarana berbagi pengalaman, memperkenalkan budaya organisasi, serta memperkuat nilai-nilai keselamatan yang selama ini menjadi bagian penting dalam setiap aktivitas alam bebas.

 

Suasana kebersamaan anggota KPA Ulin saat menikmati makan bersama di kawasan Liang Udut. Kegiatan sederhana seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun kekompakan dan rasa kekeluargaan antaranggota.

Pererat Kebersamaan

Suasana kebersamaan mulai terasa sejak malam pertama perkemahan. Dalam sesi perkenalan yang berlangsung santai, para peserta diberi kesempatan memperkenalkan diri, menceritakan latar belakang masing-masing, sekaligus memperkenalkan nama lapangan yang telah lama menjadi tradisi di kalangan pecinta alam.

Pendiri KPA Ulin, Agus Rianto, membuka sesi tersebut dengan memperkenalkan sejarah singkat organisasi yang telah berdiri sekitar 10 tahun. Ia juga mempersilakan seluruh peserta untuk saling berbagi pengalaman, bertanya mengenai kegiatan organisasi, serta mempererat hubungan antarsesama peserta.

Satu per satu peserta memperkenalkan diri, mulai dari Juleha, Wahda, Nurmalasari yang akrab disapa Aung, Sam, Faren, Nurhafizah, Bayu dengan nama lapangan Tikil, Muhammad Alviur (Bulet), Muhammad Zaid Abdullah, Elita, Febrianti Mayasari (Ngasik), Ahmad Zaini (Belut), Kristian Imanuel (Wagu), Ari (Katep), Yusuf Arisarjo (Alek), Ikadek Ardiko (Cebang 13), hingga Rahman Hidayat (Bandot).

Beragam nama lapangan yang unik tersebut menjadi bagian dari identitas dan tradisi yang telah lama hidup di lingkungan komunitas pecinta alam. Suasana malam itu pun sesekali diwarnai gelak tawa ketika para peserta menceritakan asal-usul nama lapangan yang mereka sandang.

Dalam sesi tersebut, Agus Rianto juga menjelaskan filosofi penggunaan nama lapangan yang telah menjadi tradisi di kalangan anggota KPA Ulin. Menurutnya, nama lapangan tidak hanya berfungsi sebagai identitas atau ciri khas setiap anggota, tetapi juga memiliki nilai keselamatan saat berkegiatan di alam bebas.

Suasana kebersamaan anggota KPA Ulin saat makan bersama di kawasan Liang Udut. Selain mempererat silaturahmi, momen ini juga dimanfaatkan untuk koordinasi dan penyampaian agenda kegiatan sebelum peserta turun ke lapangan.

Ia menuturkan bahwa umumnya hanya sesama anggota dan orang-orang terdekat dalam organisasi yang mengetahui nama lapangan masing-masing. Karena itu, ketika berada di kawasan hutan atau daerah terpencil, anggota akan lebih mudah mengenali siapa yang benar-benar memanggil mereka.

Baca Juga :  Open Recruitment MAPALA FT: Puluhan Calon Anggota Sudah Mendaftar, Kesempatan Masih Terbuka

“Salah satu tujuannya untuk safety. Kalau di hutan tiba-tiba ada yang memanggil menggunakan nama asli, sedangkan yang tahu nama asli kita tidak banyak di lokasi itu, tentu kita harus lebih waspada. Karena itu nama lapangan juga menjadi bagian dari identitas dan komunikasi sesama anggota di lapangan,” jelas Agus Rianto.

Penjelasan tersebut menjadi salah satu materi yang menarik perhatian peserta baru. Selain mempererat kebersamaan, malam perkenalan juga menjadi sarana mengenalkan budaya organisasi, etika berkegiatan di alam bebas, serta berbagai pengalaman lapangan yang diwariskan oleh para pendiri dan anggota senior KPA Ulin.

Momen tersebut juga memperlihatkan keberagaman latar belakang peserta. Ada pelajar, tenaga pendidik, pekerja swasta, pegiat alam bebas, hingga aparatur pemerintahan yang berkumpul dalam semangat yang sama, yakni kecintaan terhadap alam dan persaudaraan.

Salah satu peserta termuda yang turut hadir adalah Nazril yang baru berusia sembilan tahun. Dengan penuh percaya diri, ia memperkenalkan dirinya di hadapan para senior. Kehadirannya menjadi simbol bahwa kecintaan terhadap alam dan semangat petualangan dapat dikenalkan sejak usia dini.

Agus Rianto memberikan arahan kepada peserta terkait agenda kegiatan, keselamatan, dan etika berkegiatan di alam sebelum eksplorasi kawasan Liang Udut dimulai.

Keselamatan Prioritas Utama

Dalam sesi diskusi malam tersebut, Agus Rianto juga memberikan pemahaman mengenai aktivitas canyoneering yang kerap disalahpahami oleh masyarakat.

“Kegiatan canyoneering yang sebenarnya adalah menyusuri sungai dari hulu ke hilir dengan berbagai rintangan menggunakan perlengkapan keselamatan yang memadai. Dokumentasi foto maupun aksi untuk kebutuhan media sosial hanyalah bonus, bukan tujuan utama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa disiplin, kerja sama tim, dan penerapan prinsip safety first harus menjadi prioritas dalam setiap kegiatan alam bebas, terlebih di kawasan karst yang memiliki karakteristik medan berbeda dengan kawasan wisata pada umumnya.

Menurutnya, pemahaman terhadap prosedur keselamatan wajib dimiliki seluruh peserta sebelum melakukan aktivitas yang memiliki tingkat risiko tertentu.

Kegiatan tersebut juga menarik perhatian peserta dari luar lingkungan inti KPA Ulin. Di antaranya Uncit dan Ansari yang datang bersama untuk mengikuti kegiatan setelah mengetahui informasi yang dipublikasikan panitia.

Ketertarikan keduanya berawal dari keinginan untuk mengenal lebih dekat aktivitas canyoneering yang menjadi salah satu materi pembahasan dalam kegiatan tersebut. Bagi mereka, kegiatan seperti ini menjadi kesempatan untuk belajar sekaligus memperluas jaringan pertemanan sesama pecinta alam.

Bang Uncit, peserta asal Banjarbaru, saat mengikuti kegiatan Camping dan Eksplorasi Alam Part I di kawasan Liang Udut, Desa Bungkukan, Kabupaten Kotabaru.

Uncit, yang sehari-hari bertugas di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Selatan, mengaku aktivitas di alam terbuka telah menjadi bagian dari kehidupannya.

“Dalam satu bulan, kalau tidak ke alam rasanya kepala sudah pusing. Jadi ini sudah menjadi kebutuhan sebelum kembali fokus bekerja,” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga silaturahmi antarsesama pecinta alam lintas daerah dan lintas generasi.

Baca Juga :  Bendera Merah Putih Berukuran Raksasa Dikibarkan KPA Ulin di Kabupaten Tanah Bumbu

“Kalau bubuhan pian berjalan ke Banjarbaru, berhabar-habar aja,” ujarnya disambut hangat peserta lainnya.

Sementara itu, Ansari menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dalam setiap kegiatan alam bebas. Menurutnya, keindahan alam yang dinikmati saat ini merupakan titipan yang harus dijaga bersama.

“Mohon sampahnya dibawa turun kembali, jangan ditinggalkan di lokasi. Kita boleh meninggalkan jejak, tetapi jangan pernah meninggalkan sampah,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu pendiri KPA Ulin, Sam, berharap kegiatan seperti ini dapat terus menjadi ruang mempererat persaudaraan sekaligus menjaga semangat muda para anggota.

“Harapannya kita jangan cepat menua. Berkumpul di alam bersama sesama seperti ini menjadi solusi untuk melepas kejenuhan dari rutinitas pekerjaan,” katanya.

Pesan kebersamaan juga disampaikan Bang Fajar yang merupakan anggota senior KPA Ulin dari angkatan pertama. Ia mengingatkan pentingnya menjaga solidaritas dan mengesampingkan ego pribadi dalam setiap kegiatan organisasi.

“Perkuat niatnya, perdalam materinya, jaga kebersamaannya, jaga kekompakannya. Kesampingkan ego dan tetap jalin solidaritas,” pesannya kepada peserta.

Anggota KPA Ulin berfoto bersama di halaman Polsek Kelumpang Barat.

Untuk memastikan kegiatan berjalan aman dan tertib, panitia terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan aparat kepolisian setempat sebelum keberangkatan peserta menuju Gua Liang Udut.

Kapolsek Kelumpang Barat, IPTU Hendrie Ade Asfiatmono, menyambut baik kegiatan tersebut dan menyatakan kesiapan jajarannya untuk membantu pemantauan selama kegiatan berlangsung. Ia juga mengingatkan pentingnya koordinasi dengan pemerintah desa dan aparat setempat guna mengantisipasi potensi risiko di lapangan.

“Silakan dikabari agar bisa kami monitor melalui Bhabinkamtibmas. Koordinasi dengan desa juga penting karena ada daerah-daerah yang rawan maupun yang tidak diperbolehkan untuk dimasuki, sehingga peserta bisa mendapat arahan yang tepat,” ujarnya.

Menurut Hendrie, komunikasi antara penyelenggara kegiatan, pemerintah desa, dan aparat keamanan merupakan langkah penting untuk mendukung keselamatan peserta sekaligus memastikan aktivitas berlangsung sesuai ketentuan yang berlaku.

Sinergi antara komunitas pecinta alam, masyarakat desa, dan aparat setempat menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kegiatan yang aman dan tertib.

Video dokumenter “Liang Udut Kotabaru – Part I | Kebersamaan KPA Ulin di Alam Karst” yang menampilkan peserta kegiatan camping dan eksplorasi alam di kawasan Liang Udut, Desa Bungkukan, Kabupaten Kotabaru.

Dokumenter Part I Disambut Antusias Publik

Hanya sehari setelah dipublikasikan pada 1 Juni 2026, dokumenter berjudul “Liang Udut Kotabaru – Part I | Kebersamaan KPA Ulin di Alam Karst” telah meraih 597 penayangan di kanal YouTube RIK Network Indonesia. Berdasarkan data analitik kanal, capaian tersebut tercatat 392 penayangan lebih tinggi dibanding rata-rata performa tayangan yang biasanya diraih dalam periode yang sama.

Kegiatan tersebut terdokumentasi dalam video dokumenter yang diproduksi dan dirilis oleh RIK Network Indonesia. Dokumenter tersebut menampilkan suasana perkemahan, malam keakraban, edukasi keselamatan, serta eksplorasi kawasan luar karst Gua Liang Udut.

Keindahan alam karst Bungkukan dipadukan dengan kisah kebersamaan para peserta sehingga menghadirkan tayangan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat pesan edukasi lingkungan.

Respons positif tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap konten dokumenter bertema petualangan alam, kebersamaan komunitas, dan pelestarian lingkungan yang dikemas secara sederhana namun autentik.

Eksplorasi yang ditampilkan dalam dokumenter ini merupakan Part I yang berfokus pada aktivitas perkemahan, malam keakraban, edukasi keselamatan, serta penelusuran kawasan luar karst Gua Liang Udut.

Sementara itu, Part II yang sedang dipersiapkan akan menampilkan penelusuran ke bagian yang lebih dalam dari kawasan Gua Liang Udut, termasuk lorong-lorong gua, tantangan medan bawah tanah, serta berbagai formasi karst yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.

Rencana eksplorasi lanjutan tersebut mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Bahkan Kapolsek Kelumpang Barat, IPTU Hendrie Ade Asfiatmono, menyatakan ketertarikannya untuk turut hadir dalam agenda berikutnya sebagai bentuk dukungan sekaligus mempererat hubungan dengan komunitas pecinta alam.

Melalui semangat kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta komitmen terhadap keselamatan, KPA Ulin berharap kegiatan seperti ini dapat terus menjadi sarana edukasi, pengembangan kapasitas anggota, dan pelestarian alam. Di sisi lain, Gua Liang Udut diharapkan semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam unggulan di Kabupaten Kotabaru yang menyimpan keindahan, tantangan, serta nilai edukasi bagi masyarakat luas.

Saksikan juga video keseruan dan tantangan kegiatan Canyoneering ke-7 KPA Ulin di Air Terjun Mandin Damar, Ketuk foto untuk melihat video selengkapnya 🎥👇

Video dokumenter “JELAJAH & ALAM | Mandin Damar Waterfall | Cinematic Canyoneering Escape” yang menampilkan aktivitas canyoneering di Air Terjun Mandin Damar, Desa Gunung Raya, Kabupaten Tanah Bumbu.
Avatar photo

Redaksi

Related posts

Newsletter

Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.

Loading

Proyek Baru - 2025-11-12T104826.198
banner kalimantansmartinfo
Iklan Berita (1)
banner kalimantansmart

Recent News