Next Post

Perjalanan Ini Seperti Lukisan yang Tergantung di Dinding

Lukisan di rumah Robert Hendra Sulu

“Saya sering bilang begini,” kata Robert Hendra Sulu, perjalanan ini seperti lukisan yang tergantung pada dinding. “Itu bukan kalimat puitis yang saya buat-buat. Itu lahir dari fakta hidup saya sendiri.”

Ia lalu bercerita tentang sepatu. Bukan sepatu istimewa, bukan sepatu mahal. Sepatu yang benar-benar dipakai, dilangkahi, diusangkan, sampai akhirnya koyak.

“Itu sepatu saya,” ujarnya. “Saya pakai ke mana-mana. Ke ruang perjuangan, ke pertemuan, ke jalanan waktu demo, ke titik-titik hidup yang tidak selalu nyaman. Kalau sepatu itu bisa bicara, dia akan menceritakan seluruh perjalanan hidup saya.”

Robert berhenti sejenak, lalu melanjutkan. “Buat saya sederhana saja. Sepatu itu langkah. Langkah itu perjalanan hidup. Dan sepatu yang koyak itu tanda bahwa kita setia pada perjalanan itu.”

Ia menegaskan, lukisan sepatu yang ia buat bukan tentang keindahan. “Saya tidak melukis sepatu baru,” katanya. “Saya melukis sepatu lama. Yang usang. Yang tetap menemani meski sobek. Karena di situ ceritanya ada—jatuh bangunnya, pilihannya, keberanian untuk tetap melangkah ketika jalannya tidak selalu rata.”

Robert mengaku pernah belajar melukis abstrak. Namun pada satu titik ia memilih meninggalkan yang jauh dan rumit. “Saya kembali ke yang paling dekat,” ujarnya. “Ke apa yang saya pakai setiap hari. Dari situlah saya melukis sepatu. Bukan sebagai benda, tapi sebagai saksi hidup.”

Ketika lukisan itu digantung di dinding, ia tampak diam dan tenang. Namun menurut Robert, di situlah makna sesungguhnya muncul. “Dia memang tidak bergerak,” katanya. “Tapi di balik warnanya, tersimpan riuh cerita yang tidak pernah selesai.”

Lukisan itu tidak berjalan, tetapi pernah berjalan jauh. Tidak berbicara, tetapi menyimpan suara langkah-langkah panjang yang pernah ditempuh.

Baca Juga :  Dominasi Negara atas Hutan Dipertanyakan: Jejak 7 Generasi Terabaikan, Apa yang Terjadi di Pulau Suwangi?
Robert Hendra Sulu

“Ada makna lain juga,” kata Robert. “Ada saatnya setiap orang menggantung sepatu.”

Menggantung sepatu, baginya, bukan tanda menyerah. “Itu fase,” ujarnya. “Langkah berhenti bukan karena kalah, tapi karena perjalanan sudah memberi cukup pelajaran.”

Dari pengalaman itulah ia merumuskan kalimat yang sering ia ulang. Perjalanan ini seperti lukisan yang tergantung pada dinding. Ia tenang di permukaan, namun di balik warnanya tersimpan riuh cerita yang tak pernah selesai.

Kadang ia menyampaikannya dengan rumusan lain. Perjalanan ini seperti lukisan yang tergantung pada dinding. Ia tak pernah bergerak, namun mampu mengguncang cara kita melihat hidup. Karena yang terpajang di sana bukan sekadar warna, melainkan kita di masa yang berbeda.

Robert tersenyum kecil. “Sudah lebih dari 40 tahun,” katanya. “Tapi sampai sekarang masih relevan buat saya. Dan mungkin juga buat orang lain.”

Menurutnya, kekuatan gagasan ini justru karena ia tidak bicara tentang hal besar. “Ini tentang hal paling sederhana,” ujarnya. “Sepatu yang kita pakai setiap hari, langkah yang kita jalani, dan hidup yang pelan-pelan membentuk makna.”

Ia menutup ceritanya dengan keyakinan yang selalu ia pegang. “Di bawah langit ini,” kata Robert, “adalah tempat kita belajar seumur hidup.”

Avatar photo

Redaksi

Related posts

Newsletter

Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.

Loading

Proyek Baru - 2025-11-12T104826.198
banner kalimantansmartinfo
Iklan Berita (1)
banner kalimantansmart

Recent News