
BATULICIN — Jalan alternatif Batulicin–Banjarbaru menyimpan satu titik yang patut menjadi perhatian serius bagi pengguna jalan. Lokasinya sekitar 30 kilometer dari Mantewe menuju Banjarbaru, di kawasan perbukitan dan tidak jauh dari sebuah sekolah dasar yang baru dibangun.
Jika melintas dari arah Mantewe, sekolah tersebut berada di sisi kanan jalan. Sekitar 100 meter setelah sekolah, karakter jalan berubah. Ruas jalan yang semula terlihat lurus kemudian menurun, kembali menanjak, lalu berbelok tajam ke kiri.
Masalahnya, tikungan tersebut tidak langsung terlihat dari arah datangnya kendaraan.
Bagi pengendara yang belum mengenal jalur, kondisi itu dapat membuat jalan di depan seolah masih lurus. Apalagi setelah melewati turunan, kendaraan kembali menanjak sehingga pengendara cenderung mempertahankan kecepatan.
Di lokasi sebenarnya sudah terdapat rambu batas kecepatan 40 kilometer per jam, lengkap dengan sejumlah chevron sebagai penunjuk arah tikungan.
Namun, bagi Agus, anggota Orpala KPA Ulin yang mengenal kawasan tersebut, persoalannya bukan hanya soal rambu.
“Nanjak, turun, belok dadakan. Prediksi kita kan lurus,” kata Agus.
Menurutnya, posisi tikungan seharusnya dapat terlihat dari jarak yang lebih jauh sehingga pengendara memiliki waktu untuk mengurangi kecepatan.
“Dari sini tikungannya tidak kelihatan. Orang taunya ini lurus. Makanya ini harus dipangkas, supaya dari sini sudah kelihatan tikungannya,” ujarnya.
Pengalaman serupa juga disampaikan seorang tokoh masyarakat Tanah Bumbu yang kerap melintasi jalur tersebut. Ia mengaku pernah mengalami sendiri situasi berbahaya di titik jalan setelah sekolah dasar tersebut.
“Iya, Om, bujur ngeri di lokasi jalan itu. Pernah sekali ku terbang bawa mobil, lari ke kanan jalan. Untung kada ada orang dari arah berlawanan,” ujarnya.
Menurutnya, kejadian itu terjadi tepat setelah sekolah dasar yang berada tidak jauh dari titik rawan tersebut.
“Iya, pas benar setelah SD itu,” tambahnya.

DUA ANGGOTA KPA ULIN TERJATUH
Kondisi tersebut kembali terlihat pada Jumat, 25 September 2026.
Dua anggota Orpala KPA Ulin yang dikenal dengan panggilan Bang Wagu dan Bang Belut mengalami kecelakaan tepat sebelum kendaraan rombongan kami melintas di lokasi.
Rombongan kemudian berhenti dan memberikan pertolongan. Kondisi Bang Wagu mengalami luka hingga berdarah. Setelah mendapat pertolongan, keduanya kemudian diantar menuju rumah mereka di Mantewe.
Saat kejadian, kondisi jalan juga disebut diperparah oleh bekas tumpahan solar dari mobil tangki, yang membuat permukaan jalan menjadi licin.
Kondisi tersebut tentu menambah risiko bagi kendaraan yang melintas, terutama ketika harus menghadapi tikungan tajam.
Keberadaan anggota KPA Ulin di kawasan Bukit Manjai, Mandiangin, merupakan bagian dari dukungan terhadap kegiatan Latihan Dasar (Latdas) Mapala Fakultas Teknik yang berlangsung sejak Jumat hingga Minggu, 27 September 2026. Di sela kegiatan tersebut, mereka berbincang mengenai pengalaman melintasi jalur alternatif Batulicin–Banjarbaru, termasuk titik yang disebut rawan kecelakaan tersebut.

PRAPTO, SALAH SATU KORBAN DI TIKUNGAN ITU
Saat ditemui di objek wisata Bukit Manjai, Mandiangin, Agus bersama anggota KPA Ulin berbincang santai di basecamp. Dalam perbincangan itu, Agus kembali menceritakan sejumlah kecelakaan yang pernah terjadi di titik rawan tersebut, termasuk kecelakaan yang menimpa temannya bernama Prapto.
“Prapto itu meninggal tahun kemarin kayaknya, Bang. Yang meninggal di sana bukan cuma satu dua, Bang, rasanya,” kata Agus.
Agus menuturkan, Prapto sempat dibawa ke RS Marina Jhonlin untuk mendapatkan penanganan setelah mengalami kecelakaan.
“Prapto dibawa ke RS Marina. Orangnya pingsan, nggak sadar. Terakhir sempat sadar sebentar, tidak lama kemudian meninggal. Cuma saya tidak ingat berapa lama waktunya. Yang turut menangani saat itu Bang Pendi, yang bekerja di bagian IGD RS Marina, itu loh Bang, rumah sakit dekat Jhonlin. Dia juga anggota Divisi P3K KPA Ulin,” lanjut Agus.
Kesaksian lain datang dari Gusti Juhdi, wartawan Pelopor Krimsus yang juga Ketua IPJI Tanah Bumbu. Ia menyebut titik tersebut juga pernah menjadi lokasi kecelakaan yang dialami keponakannya.
“Mobil Terios putih keponakan saya juga linsak atau hancur akibat kecelakaan tunggal di situ, Om,” kata Gusti Juhdi.

CERITA KECELAKAAN BERULANG
Cerita mengenai banyaknya kecelakaan di lokasi tersebut juga disampaikan Imut, anggota KPA Ulin. Saat berada di Basecamp Bukit Manjai, Mandiangin, Imut menceritakan kembali informasi yang ia dengar dari Acil Warung, salah seorang warga yang berada di sekitar lokasi.
Berdasarkan cerita yang disampaikan Imut dari Acil Warung, kecelakaan di titik tersebut disebut cukup sering terjadi. Dalam sebulan, menurut cerita yang didengarnya, bisa terjadi hingga sepuluh kali kecelakaan.
Bahkan, pernah terjadi lima kecelakaan dalam satu hari. Ada pula kecelakaan yang melibatkan tiga mobil sekaligus, dengan dua kendaraan datang dari satu arah dan satu kendaraan dari arah berlawanan hingga kendaraan di belakang ikut terdampak.
“Pernah juga ada kejadian suami istri berkendara beriringan. Suaminya di depan luka-luka, istrinya di belakang. Pahanya robek, sampai kelihatan tulangnya,” kata Imut.
Cerita lain yang disampaikan Imut adalah kecelakaan yang melibatkan seorang anggota TNI.
“Ada yang kepalanya bocor, pecah. Tentara. Kepalanya bocor. Lain lagi tuh, beda juga. Kepalanya pecah meninggal di tempat dia,” tuturnya.
Menurut cerita yang diterimanya, kendaraan tersebut bahkan sempat terbalik beberapa kali.
“Yang tentara itu juga ada kan pake mobil tentara, nah terus mereka itu mungkin laju jadi mereka ini terbang, Bang, sampai terlempar dari mobil. Mobilnya katanya tiga kali terbalik,” kata Imut.

Kisah kecelakaan tersebut bahkan membuat warga di sekitar warung disebut telah terbiasa menghadapi kejadian serupa.
“Nah terus yang bilang 50 orang, 50 kecelakaan sudah di sini. Itu tentang warungnya juga, rumah itu sudah… korban kecelakaannya,” ujarnya.
Menurut Imut, kecelakaan juga pernah terjadi hingga larut malam.
“Terus ada yang katanya sampai jam 1 malam itu masih ada kecelakaan. Acil warungnya itu kadang bukannya sampai jam 2. Soalnya takut ada kecelakaan lagi,” katanya.
Imut mengatakan, sebelum kecelakaan yang dialami Bang Wagu dan Bang Belut, lokasi tersebut sempat disebut tidak mengalami kecelakaan selama sekitar satu bulan.
“Ini kemarin katanya udah sebulanan gak ada kecelakaan,” ujarnya.

“MAU TUNGGU BERAPA KORBAN LAGI?”
Agus berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang memiliki kewenangan terhadap ruas jalan tersebut segera mengambil tindakan.
Menurutnya, penanganan tidak cukup hanya dengan memasang rambu jika bentuk jalan tetap membuat tikungan sulit terlihat dari kejauhan. Ia mengusulkan agar bagian jalan tersebut dipangkas atau dilakukan cutting pada kontur jalan, sehingga pengendara dapat melihat tikungan lebih awal.
“Mau tunggu berapa korban lagi baru jalan itu diperbaiki?” tegas Agus.
Bahkan, jika perbaikan belum dapat segera dilakukan, ia mengusulkan agar ruas tersebut ditutup sementara dan pengguna jalan diarahkan melalui jalan tembus Loksado.
“Kalau perlu jalan itu ditutup dulu. Biar lewat jalan tembus Loksado, daripada korban berjatuhan terus,” pungkasnya.
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.