Next Post

Jaga 80 Persen Keanekaragaman Hayati, Masyarakat Adat Hanya Kebagian 1 Persen Dana Iklim

Adventure.com

Torres Strait — Masyarakat adat di seluruh dunia disebut menjaga lebih dari 80 persen keanekaragaman hayati global, namun ironisnya hanya menerima kurang dari satu persen pendanaan iklim. Ketimpangan ini mendorong Tishiko King, seorang biolog kelautan dan aktivis iklim asal Kepulauan Torres Strait, untuk mengambil langkah nyata melalui pendirian inisiatif filantropi berbasis komunitas adat.

Tishiko King, perempuan adat Kulkalaig dari Pulau Masig, menegaskan bahwa komunitasnya berada di garis depan krisis iklim, meski tidak berkontribusi signifikan terhadap emisi global. Sebagaimana dilaporkan Adventure.com, wilayah Zenadth Kes (Torres Strait) mengalami kenaikan permukaan laut hampir tiga kali lebih cepat dibanding rata-rata global, mengancam pulau-pulau rendah dan memicu risiko pengungsian permanen bagi masyarakat adat.

Dalam kisah reflektifnya, King mengenang masa kecil bersama kakeknya yang mengajarkan filosofi hidup masyarakat laut. Laut bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan bagian dari identitas, pendidikan, kesehatan, dan keberlangsungan budaya. Namun, eksploitasi industri, pencemaran, dan perubahan iklim telah merusak ekosistem laut yang selama ribuan tahun dijaga masyarakat adat.

Krisis ini bukan hal baru bagi warga Torres Strait. Sejak 1937, sejumlah komunitas telah dipaksa berpindah akibat perubahan lingkungan. Kini, relokasi bukan lagi pilihan yang adil. King menegaskan masyarakat adat telah tinggal di wilayah tersebut selama lebih dari 65.000 tahun dan berhak mempertahankan tanah leluhur, budaya, bahasa, serta praktik tradisional mereka.

Berangkat dari realitas tersebut, King mendirikan Just Futures Collab, sebuah giving circle yang dipimpin masyarakat adat. Inisiatif ini memungkinkan donasi tanpa ikatan, di mana dana disalurkan langsung ke komunitas terpencil yang terdampak krisis iklim, kenaikan muka laut, banjir bandang, serta tekanan industri ekstraktif seperti pertambangan dan fracking.

Menurut King, pendekatan pendanaan konvensional sering kali sarat birokrasi dan tidak berbasis kepercayaan. Padahal, masyarakat adat merupakan penjaga ekosistem sekaligus pemilik pengetahuan tradisional yang terbukti efektif dalam konservasi dan adaptasi iklim. Kurang dari satu persen dana iklim global yang mengalir ke komunitas adat dinilai mencerminkan ketidakadilan struktural yang harus segera diperbaiki.

Baca Juga :  Trump: AS Akan Menyimpan atau Menjual Minyak Venezuela yang Disita

Ia menekankan pentingnya pendanaan tanpa syarat atau untied giving, yang memberi kebebasan penuh kepada komunitas untuk menentukan penggunaan dana sesuai kebutuhan mereka. Pendekatan ini dianggap sebagai bentuk redistribusi kekayaan dan pemulihan keadilan iklim, bukan sekadar bantuan simbolis.

Selain advokasi kebijakan dan pendanaan, King juga aktif dalam produksi film dokumenter Sea Country — Malu Lag yang mengangkat kisah perlindungan laut berbasis budaya. Film tersebut ditayangkan pertama kali di komunitasnya dan menginspirasi generasi muda perempuan adat untuk terlibat dalam perjuangan lingkungan.

King menegaskan perbedaan mendasar antara aksi iklim dan keadilan iklim. Ia memperingatkan bahwa kenaikan suhu global 1,5 derajat Celsius masih memberi peluang bertahan bagi pulau-pulau kecil, namun kenaikan dua derajat dapat menjadi ancaman eksistensial bagi komunitas adat pesisir.

Melalui Just Futures Collab, seluruh dana yang terkumpul disalurkan 100 persen langsung ke masyarakat Torres Strait Islander yang bekerja di lapangan untuk ketahanan iklim dan perlindungan lingkungan. Inisiatif ini diharapkan dapat mengubah wajah filantropi global agar lebih adil, inklusif, dan berpihak pada mereka yang paling terdampak krisis iklim.

Avatar photo

Redaksi

Related posts

Newsletter

Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.

Loading

Proyek Baru - 2025-11-12T104826.198
banner kalimantansmartinfo
Iklan Berita (1)
banner kalimantansmart

Recent News