
MOSKOW — Seorang pimpinan perusahaan pertahanan Rusia melakukan aksi bakar diri di kawasan Lapangan Merah, Moskow, sebagai bentuk protes atas tekanan berat yang dihadapinya terkait pemenuhan kontrak militer di tengah perang Rusia–Ukraina.
Tokoh tersebut adalah Vladimir Arsenyev (75), ilmuwan senior sekaligus kepala Volna Central Scientific Research Institute, perusahaan yang memproduksi komponen perangkat komunikasi untuk awak tank militer Rusia. Insiden itu terjadi pada 26 Juli 2024, tak jauh dari kompleks Kremlin dan Mausoleum Vladimir Lenin.
Arsenyev dilaporkan mengalami luka bakar serius dan menjalani perawatan intensif selama beberapa pekan. Dalam keterangannya, ia menyebut aksi nekat itu dilakukan karena perusahaannya berada di ambang kebangkrutan akibat tekanan kontrak pertahanan yang dinilainya tidak realistis.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, Volna kebanjiran pesanan alat militer. Namun, lonjakan permintaan tersebut justru menjadi beban berat karena perusahaan dituntut meningkatkan produksi hingga sepuluh kali lipat dalam waktu singkat, dengan harga yang ditentukan sepihak oleh Kementerian Pertahanan Rusia.
“Kami mendapat lebih banyak pesanan, tetapi justru perusahaan sekarat. Itu berarti ada sesuatu yang salah dalam sistemnya,” ujar Arsenyev dalam wawancara setelah insiden tersebut.
Masalah semakin rumit ketika perusahaan menghadapi konflik internal, audit berlapis dari berbagai lembaga, pembekuan rekening akibat sengketa pajak, serta keterlambatan pembayaran gaji karyawan. Seorang pemegang saham minoritas bahkan melaporkan kondisi perusahaan ke otoritas negara karena khawatir berujung pidana.
Pemerintah Rusia diketahui memberlakukan aturan keras terhadap industri pertahanan. Sejak 2017, pelanggaran kontrak pertahanan negara dapat berujung hukuman penjara hingga 10 tahun. Aturan tersebut diperketat setelah perang Ukraina dimulai, termasuk sanksi pidana atas keterlambatan atau kegagalan memenuhi kontrak, meski tanpa unsur keuntungan pribadi.
Data pengadilan Moskow menunjukkan sedikitnya 34 orang, termasuk pimpinan perusahaan pertahanan, telah diproses hukum sejak perang dimulai. Beberapa di antaranya dijatuhi hukuman penjara.
Tekanan tersebut ditegaskan kembali oleh Wakil Ketua Komisi Industri Militer Rusia, Dmitry Medvedev, yang pada 2023 mengutip ancaman era Josef Stalin terhadap produsen senjata yang gagal memenuhi target produksi.
Masalah di Volna berdampak langsung pada pasokan alat komunikasi tank yang dirakit oleh Luch Factory, perusahaan lain yang terafiliasi dengan konglomerat negara Rostec. Akibat keterlambatan pasokan, Luch terpaksa mengembangkan komponen pengganti secara mandiri.
Sejumlah laporan juga menyebutkan adanya kekurangan perangkat komunikasi di unit lapangan Rusia, meski pemerintah dan militer tidak memberikan pernyataan resmi.
Rostec membantah keras anggapan bahwa industri pertahanan Rusia mengalami kemunduran. Dalam pernyataan resminya, Rostec menyebut klaim tersebut sebagai “mitos propaganda Barat” dan menegaskan bahwa produksi militer Rusia justru tumbuh pesat.
Namun, analis pertahanan Barat menilai sentralisasi kebijakan, kontrol harga ketat, serta kriminalisasi kontraktor justru menghambat inovasi dan keberlanjutan industri pertahanan Rusia dalam jangka panjang.
Meski aksi bakar diri Arsenyev mengguncang opini publik, respons resmi terbilang minim. Pada Oktober 2024, pengadilan hanya menjatuhkan denda administratif kepada Arsenyev karena dianggap melakukan demonstrasi ilegal di area sensitif negara.
Kini, Arsenyev telah kembali bekerja, meski perusahaannya menyusut drastis dan masih dibelit sengketa hukum. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menghadiri persidangan terkait kontrak pertahanan yang belum tuntas.
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.