
Argentina tidak datang ke medan perang dengan 11 pemain yang berlari tanpa komando. Mereka datang dengan pasukan yang terlatih, disiplin, dan tahu persis kapan harus menyerang serta kapan harus bertahan. Di situlah kekuatan Argentina. Mereka memiliki gelandang-gelandang dengan tenaga besar, agresivitas, pengalaman, dan kemampuan teknis tinggi, tetapi semua itu tidak dimainkan secara liar. Setiap pemain memiliki tugas, mulai dari mengatur tempo, menekan lawan, menjaga keseimbangan, menutup ruang, hingga menunggu momen untuk menghantam pertahanan lawan.
Selama ini, perhatian sering tertuju kepada Lionel Messi dan para penyerang Argentina. Namun, sebelum bola sampai ke kaki para penyerang, Argentina terlebih dahulu harus memenangkan pertempuran di lini tengah. Untuk tugas itu, Lionel Scaloni memiliki pasukan dengan karakter luar biasa: Enzo Fernández, Alexis Mac Allister, Rodrigo De Paul, Leandro Paredes, Giovani Lo Celso, Exequiel Palacios, Valentín Barco, Nicolás González, Giuliano Simeone, Thiago Almada, dan Nico Paz. Sebelas pemain, sebelas karakter, dan sebelas senjata yang dapat digunakan untuk menghadapi berbagai situasi pertandingan.
Hampir seluruh gelandang Argentina juga memiliki kemampuan menembak dari luar kotak penalti. Inilah salah satu senjata yang membuat lini tengah mereka semakin berbahaya. Ketika pertahanan lawan terlalu rapat dan ruang di dalam kotak penalti tertutup, Argentina tidak harus selalu memaksakan diri menerobos masuk. Satu bola liar di depan kotak penalti sudah cukup untuk menjadi ancaman. Enzo Fernández, Alexis Mac Allister, Rodrigo De Paul, Leandro Paredes, Giovani Lo Celso, Exequiel Palacios, Thiago Almada, hingga Nico Paz memiliki kualitas untuk melepaskan tembakan keras dan akurat dari jarak jauh. Sementara para pemain seperti Nicolás González, Giuliano Simeone, dan Valentín Barco mampu memberikan ancaman melalui pergerakan, kecepatan, dan keberanian mengambil peluang. Dengan kata lain, lawan tidak pernah benar-benar aman meskipun berhasil menutup jalur masuk ke kotak penalti.
Argentina memulai Piala Dunia 2026 dengan sangat meyakinkan. La Albiceleste menyapu bersih Grup J dengan poin sempurna setelah mengalahkan Aljazair 3-0, Austria 2-0, dan Yordania 3-1. Namun, memasuki fase gugur, perjalanan mereka berubah menjadi jauh lebih keras. Di babak 32 besar, Argentina harus melewati Tanjung Verde dengan kemenangan 3-2 melalui perpanjangan waktu. Mereka sempat unggul 1-0 melalui Lionel Messi, kemudian disamakan lawan, kembali unggul lewat Lisandro Martínez, dan kembali kebobolan sebelum akhirnya memastikan kemenangan melalui gol bunuh diri Diney Borges pada menit ke-111. Itu bukan comeback murni karena Argentina tidak tertinggal sebelum menang, tetapi pertandingan tersebut memperlihatkan kemampuan mereka bertahan dalam perang 120 menit.
Drama terbesar terjadi saat Argentina menghadapi Mesir di babak 16 besar. La Albiceleste tertinggal 0-2 dan berada dalam situasi yang sangat sulit, tetapi mental juara mereka kembali muncul. Cristian Romero memperkecil ketertinggalan pada menit ke-79, Lionel Messi menyamakan skor empat menit kemudian, lalu Enzo Fernández mencetak gol kemenangan pada menit ke-92. Dari tertinggal 0-2 menjadi menang 3-2. Di perempat final, Argentina kembali menghadapi laga keras melawan Swiss dan harus melewati perpanjangan waktu sebelum menang 3-1, dengan Alexis Mac Allister turut mencatatkan namanya di papan skor.
Semifinal melawan Inggris kembali menunjukkan karakter yang sama. Argentina sempat tertinggal setelah Inggris mencetak gol lebih dahulu, tetapi tidak panik dan tidak kehilangan struktur permainan. Lionel Messi kemudian memberikan dua assist penting yang membuka jalan bagi kebangkitan Argentina. Enzo Fernández menyamakan skor pada menit ke-85, sebelum Lautaro Martínez mencetak gol kemenangan pada menit ke-92. Dengan demikian, Argentina menunjukkan tiga bentuk ketangguhan berbeda di fase gugur: bertahan dalam drama 120 menit melawan Tanjung Verde, melakukan comeback luar biasa dari ketertinggalan 0-2 saat menghadapi Mesir, serta bangkit dari ketertinggalan melawan Inggris.
Nah, Nah, Nah! Inilah yang membuat Argentina semakin berbahaya. Mereka bukan hanya tim yang mampu menang ketika menguasai pertandingan. Mereka juga tahu bagaimana bertahan ketika berada di bawah tekanan. Mereka tidak panik ketika tertinggal, tidak kehilangan struktur ketika pertandingan menjadi kacau, dan tidak berhenti berjuang ketika waktu pertandingan hampir habis. Argentina bukan sekadar memiliki pemain-pemain hebat. Argentina memiliki karakter.

Enzo Fernández adalah salah satu gelandang paling komplet yang dimiliki Argentina. Ia bisa bermain sebagai gelandang bertahan, pengatur serangan, maupun gelandang yang bergerak maju ke kotak penalti lawan. Sebelum menjadi pemain penting Chelsea, Enzo berkembang melalui River Plate, Defensa y Justicia, dan Benfica. Ia membantu Defensa y Justicia menjuarai Copa Sudamericana 2020 dan kemudian menjadi bagian penting Argentina ketika menjuarai Piala Dunia 2022. Di Chelsea, Enzo berkembang menjadi gelandang modern dengan kemampuan mengatur tempo, melakukan pressing, memenangkan duel, dan mencetak gol dari lini kedua. Ia juga memiliki kemampuan menembak dari luar kotak penalti yang dapat menjadi senjata ketika lawan menutup seluruh jalur serangan. Di Piala Dunia 2026, ia membuktikan kemampuannya dengan mencetak gol melawan Mesir di babak 16 besar dan kembali membobol gawang Inggris di semifinal. Enzo bukan hanya penghubung antara pertahanan dan serangan. Ia adalah mesin yang bisa bekerja di seluruh area lapangan.

Mac Allister adalah gelandang dengan kecerdasan sepak bola yang luar biasa. Ia mampu bermain lebih dalam untuk mengatur sirkulasi bola, tetapi juga dapat bergerak ke depan dan menciptakan ancaman. Setelah berkembang di Argentinos Juniors dan Brighton, Mac Allister menjadi bagian penting Argentina yang menjuarai Piala Dunia 2022 sebelum bergabung dengan Liverpool. Bersama klub Inggris tersebut, ia memenangkan Piala Liga Inggris dan Premier League. Mac Allister memiliki ketenangan ketika menguasai bola, kemampuan membaca ruang, kualitas umpan, serta keberanian untuk melakukan pressing dan memenangkan duel. Ia juga memiliki kualitas tembakan dari luar kotak penalti dan kemampuan muncul dari lini kedua. Di Piala Dunia 2026, ia mencetak gol saat Argentina mengalahkan Swiss di perempat final. Ia adalah gelandang yang terlihat tenang, tetapi sebenarnya sangat agresif ketika pertandingan memasuki fase perebutan kendali.

Rodrigo De Paul adalah gelandang yang bermain dengan tenaga dan emosi. Ia memiliki stamina tinggi, agresivitas, keberanian dalam duel, serta karakter yang membuatnya tidak pernah takut menghadapi lawan. De Paul memulai perjalanan profesionalnya bersama Racing Club sebelum bermain di Valencia, Udinese, dan Atlético Madrid. Di Italia, ia berkembang menjadi gelandang komplet yang mampu mencetak gol sekaligus menjadi pengatur permainan. Bersama Atlético Madrid, ia ditempa dalam sepak bola yang menuntut disiplin dan kekuatan fisik. Kini bersama Inter Miami, ia membawa pengalaman panjang dari sepak bola Eropa. De Paul juga memiliki keberanian melepaskan tembakan dari luar kotak penalti, terutama ketika lawan terlalu dalam bertahan. Bagi Argentina, De Paul bukan hanya gelandang. Ia adalah pemain yang menjaga energi tim, menaikkan intensitas permainan, dan membuat lini tengah La Albiceleste tidak mudah dikuasai lawan.

Leandro Paredes memiliki karakter sebagai gelandang pengatur permainan sekaligus petarung. Ia mampu menerima bola dari lini belakang, mengatur tempo, mengubah arah serangan, dan melepaskan umpan panjang yang dapat langsung mengubah situasi pertandingan. Paredes merupakan produk Boca Juniors yang kemudian menjalani perjalanan panjang bersama Chievo, Roma, Empoli, Zenit Saint Petersburg, Paris Saint-Germain, dan Juventus sebelum kembali ke Boca Juniors. Pengalaman bermain di berbagai kompetisi membuatnya matang menghadapi pertandingan dengan tekanan tinggi. Paredes tahu kapan permainan harus dipercepat dan kapan harus diperlambat. Ia juga memiliki kualitas tendangan keras dari luar kotak penalti, termasuk kemampuan menciptakan ancaman melalui bola mati. Ketika pertandingan berubah menjadi duel keras, Paredes tidak akan mundur. Ia adalah gelandang yang mampu mengontrol pertandingan dengan bola sekaligus memberikan karakter keras tanpa bola.

Giovani Lo Celso adalah gelandang yang mengandalkan teknik, visi, dan kecerdasan. Ia mampu bermain di antara lini tengah dan pertahanan lawan, menerima bola di ruang sempit, lalu menciptakan peluang melalui satu umpan atau satu pergerakan. Lo Celso memulai kariernya bersama Rosario Central sebelum bermain untuk Paris Saint-Germain, Real Betis, Tottenham Hotspur, dan Villarreal. Kini ia kembali menjadi bagian penting Real Betis. Selain kreativitasnya, Lo Celso juga memiliki kemampuan untuk melepaskan tembakan dari luar kotak penalti ketika mendapatkan ruang. Dalam perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026, Lo Celso mencetak gol ketika menghadapi Yordania. Ia membuktikan bahwa lini tengah Argentina tidak hanya bertugas mengirim bola kepada para penyerang. Lo Celso juga mampu menjadi pencetak gol dan pembuka pertahanan.

Palacios adalah gelandang yang mungkin tidak selalu menjadi pemain paling banyak dibicarakan, tetapi pekerjaannya sangat penting. Ia aktif bergerak, menutup ruang, melakukan pressing, membantu sirkulasi bola, dan menjaga keseimbangan tim. Palacios dibentuk di River Plate dan menjadi bagian dari tim yang memenangkan Copa Libertadores 2018 sebelum pindah ke Bayer Leverkusen. Bersama klub Jerman tersebut, ia menjadi bagian dari tim yang memenangkan Bundesliga dan DFB-Pokal pada musim 2023-24. Palacios memiliki mobilitas tinggi, kemampuan bekerja tanpa bola, dan kualitas tembakan dari lini kedua. Ia adalah tipe gelandang yang membuat tim tetap seimbang dan tidak mudah kehilangan kendali ketika pertandingan berlangsung dalam tempo tinggi.

Valentín Barco membawa karakter yang berbeda. Ia adalah pemain muda yang berani mengambil risiko, membawa bola, menyerang ruang, dan bergerak dari sisi kiri menuju tengah. Barco berkembang di Boca Juniors sebelum melanjutkan karier ke Brighton, Sevilla, dan Strasbourg. Ia memang belum memiliki pengalaman sebesar Paredes, De Paul, atau Mac Allister. Namun, Barco memiliki energi muda dan keberanian yang membuatnya berbahaya. Ia dapat memberikan perubahan ritme ketika lawan mulai kelelahan dan juga memiliki keberanian untuk melepaskan tembakan ketika mendapatkan ruang di luar kotak penalti. Dalam situasi pertandingan yang membutuhkan pemain berani mengambil risiko, Barco dapat menjadi salah satu senjata Argentina.

Nicolás González adalah pemain yang memberikan kecepatan dan agresivitas dari sisi lapangan. Ia berkembang di Argentinos Juniors sebelum melanjutkan karier ke Stuttgart dan Fiorentina. Pengalamannya di Bundesliga dan Serie A membuatnya semakin matang sebagai pemain yang mampu menyerang ruang, melakukan pressing, dan membantu pertahanan. Kini bersama Juventus, González membawa kemampuan bermain melebar maupun bergerak ke area yang lebih dalam. Ia memiliki kekuatan fisik, kecepatan, kemampuan mencetak gol, dan keberanian untuk menembak ketika mendapatkan ruang. Bagi Argentina, González memberikan dimensi berbeda karena ia dapat mengubah serangan biasa menjadi ancaman hanya melalui kecepatan dan pergerakannya.

Giuliano Simeone adalah gelandang sayap dan pemain muda dengan karakter agresif. Sebagai pemain Atlético Madrid, ia berkembang dalam lingkungan sepak bola yang menuntut kerja keras, disiplin, keberanian, dan kemampuan bertarung. Giuliano memiliki kemampuan bermain melebar, menyerang ruang, melakukan pressing, dan terus bergerak mencari peluang. Ia membawa energi muda yang sangat penting bagi Argentina. Tidak seperti pemain yang menunggu permainan datang kepadanya, Giuliano lebih suka mengejar bola dan memaksa lawan melakukan kesalahan. Ia juga memiliki keberanian untuk mengambil peluang dari luar kotak penalti ketika ruang terbuka. Ia adalah tipe pemain yang dapat mengubah intensitas pertandingan ketika masuk ke lapangan.

Thiago Almada adalah salah satu pemain paling kreatif dalam kelompok gelandang Argentina. Ia berkembang di Vélez Sarsfield sebelum melanjutkan karier ke Atlanta United dan kemudian bergabung dengan Atlético Madrid. Almada memiliki kemampuan menggiring bola, kecepatan, visi, serta keberanian untuk menghadapi pemain lawan secara langsung. Ia juga dikenal memiliki kualitas tembakan dari luar kotak penalti yang membuatnya berbahaya ketika mendapat ruang di depan pertahanan lawan. Ia dapat bermain sebagai gelandang serang, bergerak dari sisi lapangan, maupun masuk ke ruang tengah untuk menciptakan peluang. Jika Argentina membutuhkan pemain yang mampu membuka pertahanan melalui teknik dan kreativitas, Almada dapat menjadi jawabannya.

Nico Paz adalah salah satu talenta paling menarik dalam generasi baru sepak bola Argentina. Ia tumbuh melalui akademi Real Madrid dan mendapatkan pengalaman di lingkungan sepak bola yang menuntut teknik, kecerdasan, dan kualitas tinggi. Setelah menembus level senior, Paz melanjutkan perkembangannya di Italia bersama Como. Ia bukan gelandang yang mengandalkan kekuatan fisik seperti De Paul atau daya jelajah box-to-box seperti Enzo Fernández. Senjata utama Paz adalah kreativitas, visi, dribel, dan kemampuannya menemukan ruang di antara lini. Ia dapat menerima bola di ruang sempit, melewati lawan, dan menciptakan peluang dari situasi yang tampaknya sudah buntu. Paz juga memiliki kualitas untuk melepaskan tembakan dari luar kotak penalti. Bagi Argentina, Nico Paz adalah gambaran masa depan—seorang pemain muda dengan kemampuan untuk memberikan ide baru ketika pertandingan membutuhkan kreativitas.
Inilah kekuatan lini tengah Argentina. Enzo Fernández membawa tenaga dan kemampuan box-to-box. Mac Allister membawa kecerdasan dan kontrol. De Paul menghadirkan agresivitas dan stamina. Paredes memberikan pengalaman dan pengaturan tempo. Palacios bekerja tanpa henti. Lo Celso menghadirkan kreativitas. Barco membawa keberanian muda. Nicolás González memberikan kecepatan dan kekuatan. Giuliano Simeone membawa agresivitas serta energi. Thiago Almada memberikan teknik dan kreativitas. Sementara Nico Paz menawarkan visi dan imajinasi. Di atas semua itu, banyak dari mereka memiliki satu senjata tambahan yang membuat pertahanan lawan tidak pernah benar-benar aman: kemampuan menghukum lawan melalui tembakan dari luar kotak penalti.
Argentina tidak memiliki sebelas gelandang dengan gaya yang sama. Mereka memiliki sebelas senjata dengan fungsi berbeda. Ada pemain yang mampu mengatur pertandingan, ada yang siap menghancurkan serangan lawan, ada yang berlari sepanjang pertandingan, ada yang mampu melakukan pressing, dan ada pula yang dapat mengubah jalannya laga melalui satu aksi individu atau satu tembakan keras dari luar kotak penalti.
Nah, Nah, Nah! Untuk mengalahkan Argentina, lawan tidak cukup hanya menghentikan Lionel Messi. Mereka harus lebih dahulu memenangkan perang di lini tengah. Dengan sebelas gelandang yang memiliki tenaga, pengalaman, agresivitas, kreativitas, disiplin, keberanian, dan kemampuan mengancam dari jarak jauh, perang itu tidak akan pernah mudah.
Argentina tidak datang ke Piala Dunia 2026 hanya dengan satu bintang. Mereka datang dengan sebuah pasukan. Dan pasukan itu tahu kapan harus menyerang, kapan harus bertahan, kapan harus bersabar, kapan harus berduel, dan kapan harus menghancurkan lawan.
Sebab sebelum Argentina memenangkan pertandingan, mereka terlebih dahulu harus memenangkan perang di lini tengah.
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.