
TANAH BUMBU – Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu di bawah kepemimpinan Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif memastikan Pesta Laut Mappanre Ritasi’e menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-23 Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2026.
Penegasan itu disampaikan Sekretaris Daerah Tanah Bumbu Yulian Herawati saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (25/3/2026). Dengan raut tenang dan sesekali tersenyum, ia menjelaskan berbagai rangkaian kegiatan yang telah disusun pemerintah daerah.
Di sela penjelasan, Yulian juga tampak beberapa kali membalas pesan WhatsApp yang terus masuk, mencerminkan aktivitas yang tetap berjalan di tengah padatnya persiapan kegiatan daerah.
Menurut Yulian, seluruh rangkaian peringatan tahun ini dirancang secara terpadu agar saling melengkapi dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Rangkaian kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus memperkuat kebersamaan lintas sektor,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peringatan hari jadi tahun ini tidak hanya diisi dengan Expo Tanbu dan tabligh akbar, tetapi juga menghadirkan pasar murah, bazar UMKM, lomba, seminar, hingga kegiatan kolaboratif bersama Dekranasda, perusahaan, masyarakat, serta pemerintah kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan.
Expo dan bazar UMKM dijadwalkan berlangsung pada 2–9 April 2026 di Lapangan Batfest, Simpang Empat. Sementara upacara resmi hari jadi digelar di halaman Kantor Bupati di Gunung Tinggi, Batulicin.
Setelah itu, rangkaian kegiatan berlanjut dengan Pesta Laut Mappanre Ritasi’e yang digelar di Pantai Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, pada 12–26 April 2026.
Dengan penyampaian yang tenang dan terukur, Yulian menuturkan bahwa pelaksanaan Mappanre Ritasi’e tahun ini dipercayakan kepada Dewan Adat Ade Ogi Tanah Bumbu agar tetap menjaga nilai-nilai tradisi.
“Pemerintah daerah mendukung penuh kegiatan Mappanre Ritasi’e. Kita ingin budaya lokal tetap lestari dan tidak hilang, sekaligus menjadi daya tarik wisata bagi daerah,” katanya.
Pembukaan Mappanre Ritasi’e pada 12 April akan dimeriahkan dengan karnaval budaya yang melibatkan berbagai etnis di Tanah Bumbu dengan mengenakan pakaian adat masing-masing.
Selain itu, rangkaian acara juga akan diisi dengan karnaval kanrejawa pute, tradisi manyorong atau melarung ke laut, serta hiburan rakyat dengan menghadirkan artis ibu kota dan pelaku UMKM.
Yulian Herawati menegaskan, peringatan Hari Jadi Tanah Bumbu dan Mappanre Ritasi’e merupakan dua agenda yang berbeda, namun berada dalam satu rangkaian yang saling menguatkan.
“Kegiatan ini saling melengkapi. Ada yang terpusat di Simpang Empat, ada juga yang berlangsung di Pagatan. Dengan begitu, masyarakat bisa merasakan kemeriahan dalam waktu yang lebih panjang dan di lebih dari satu lokasi,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, peringatan hari jadi tidak hanya berlangsung di satu titik, tetapi menyebar dan memberi ruang bagi berbagai potensi daerah untuk tampil.
Di satu sisi, geliat kegiatan di Simpang Empat menghadirkan wajah pelayanan dan pergerakan ekonomi. Di sisi lain, Mappanre Ritasi’e di Pagatan tetap berdiri sebagai penanda akar budaya yang dijaga bersama.
Keduanya berjalan beriringan—tidak saling menggantikan, melainkan saling menguatkan dalam satu semangat yang sama: merawat daerah, sekaligus menjaga jati dirinya.
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.