
Tanah Bumbu – Desa Tamunih, Kecamatan Teluk Kepayang, kini makin terbuka dan strategis berkat keberadaan jalan alternatif Batulicin–Banjarbaru. Jalur ini tak hanya menjadi rute vital bagi kendaraan umum, tetapi juga menjadi akses penting bagi para penambang emas tradisional yang menuju kawasan Batubulan.
Mungkin tak banyak pengendara yang menyadari bahwa mereka melintasi wilayah administratif Desa Tamunih di Kecamatan Teluk Kepayang, sebuah desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjar dan terletak di kaki Pegunungan Meratus. Dulu dikenal sebagai desa yang tertinggal, kini Tamunih menapaki jalan perubahan.

Di pertigaan menuju Desa Batubulan, suasana ramai oleh rombongan penambang emas tradisional dari berbagai daerah seperti Rantau, Kapuas, dan Hulu Sungai. Mereka menggunakan motor modifikasi untuk membawa logistik ke dalam hutan.
Yang menarik, saat ini mulai dibangun pos polisi di wilayah Desa Tamunih. Lokasinya tidak jauh dari perbatasan antara Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Banjar. Keberadaan pos polisi ini disambut positif oleh masyarakat dan para pengendara yang melintasi jalan alternatif tersebut—jalur yang dikenal sepi dan rawan tindak kriminal, terutama pada malam hari. Dengan adanya pos tersebut, diharapkan keamanan dan ketertiban bisa lebih terjaga, serta memperkuat kehadiran negara di wilayah perbatasan terpencil ini.

Seiring terbukanya jalan alternatif, desa ini menjadi akses penting menuju lokasi tambang emas tradisional di kawasan Batubulan. Rombongan penambang dari Rantau, Kapuas, dan Hulu Sungai pun rutin melewati pertigaan Tamunih, membawa logistik ke pedalaman.
Kepala Desa Tamunih, Taufik Hadarani, menjelaskan bahwa selain desanya, kini Desa Batubulan dan Desa Dadap Raya juga ikut terbuka dan diuntungkan berkat jalan ini. “Kalau ke Batubulan, belok kiri di pertigaan depan pos polisi. Kalau ke Dadap Raya, dari arah Batulicin belok kanan di dekat gerbang perbatasan Kecamatan Kepayang dan Kecamatan Mentewe,” ujarnya. Dua desa ini mayoritas juga dihuni oleh suku Dayak dan sebelumnya sangat terisolasi.

Abram, Kepala Dusun 1, menjelaskan bahwa Desa Tamunih terdiri dari tiga RT—dua berada di pinggir jalan raya dan satu lainnya, RT 3, terletak di pedalaman dan berbatasan dengan Desa Mangkal Api. “Sayangnya, jembatan menuju sana putus di Sungai Kusan. Tapi lewat sini juga akses menuju lokasi tambang emas,” ujarnya.
Kehidupan warga tercermin dari rumah-rumah kayu sederhana yang berdiri di tengah lebatnya hutan Meratus. Kabut tipis menyelimuti puncak bukit, menghadirkan suasana sejuk dan damai khas pegunungan.

Warga Desa Tamunih juga mengandalkan sepeda motor modifikasi sebagai alat vital untuk mengangkut hasil hutan atau kebutuhan pokok. Jalan berbatu dan berlumpur menjadi tantangan harian yang harus mereka hadapi dengan tekun.
Namun demikian, selain aspek keamanan, pengguna jalan juga perlu mewaspadai potensi bahaya lain seperti hewan peliharaan warga yang sering berada di badan jalan. Hal ini menjadi perhatian tersendiri karena jalan ini cukup sepi namun dilintasi kendaraan dengan kecepatan tinggi.

Kepala Desa Tamunih, Taufik Hadarani, menjelaskan bahwa dari total tiga RT, RT 3 dihuni oleh 43 Kepala Keluarga (KK), sedangkan RT 1 dan RT 2 yang terletak di pinggir jalan raya dihuni oleh sekitar 100 KK. “Ada pos polisi di sini. Awal tahun tadi sudah dibangun Pos Polisi 2025. Untuk Kantor Desa, masih kurang keramik, finishing, plafond, dan jendela aluminium kaca,” ungkap Taufik. “Totalnya sekitar Rp200 juta lagi, kami berupaya menyelesaikannya secara bertahap,” harapnya.
Mengenai jaringan listrik, Taufik menyebut pihaknya masih menunggu realisasi dari PLN. “Menurut PLN, rencananya tahun 2026 baru masuk listrik. Kelanjutannya menunggu arahan dari Pemda. Kira-kira perlu biaya kurang lebih 200 jutaan supaya ada terlihat kehidupan, terutama di Desa Tamunih yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjar,” ujarnya.

Sebanyak 90% penduduk Desa Tamunih berasal dari suku Dayak. Selama ini, warga menggunakan genset untuk penerangan, setelah sebelumnya mengandalkan tenaga surya yang kini sebagian besar telah rusak. “Keberadaan Pos Polisi sangat penting. Kami juga sudah siapkan lahan untuk puskesmas, sekolah, dan musholla, semuanya di pinggir jalan,” kata Taufik menambahkan.
Taufik juga menyoroti budaya hidup berpindah-pindah masyarakat Dayak setempat. “Mata pencaharian orang di sini berkebun di lahan berpindah-pindah. Dari dulu begitu, makanya lahan di sini tidak ada yang gundul. Karena berpindah, lalu subur lagi. Itu sudah adat kami, dua tahun berpindah, nanti tujuh tahun kemudian kembali lagi ke lokasi semula,” jelasnya. Ia juga menyebut bahwa tanah yang digunakan adalah tanah turun-temurun, mengikuti kawasan hutan adat.
Ketika ditanya tentang kemungkinan pemerintah menyediakan perumahan permanen, Taufik merespons positif. “Nah, itu yang kami harapkan,” ujarnya sambil tertawa ramah.

Sebagai bentuk kesiapan pembangunan, pemerintah desa telah menyiapkan lahan untuk fasilitas umum seperti sekolah, musholla, dan puskesmas.
Dengan semangat warga yang tak kenal lelah dan terbukanya akses jalan baru, serta dukungan keamanan melalui pos polisi yang mulai berdiri, Desa Tamunih kini menyalakan harapan untuk masa depan yang lebih cerah. Di tengah keterbatasan, desa ini mulai bangkit dan menunjukkan potensi yang selama ini tersembunyi.
KalimantanSmart.INFO – Om Anwar
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.