
BATULICIN, KALSMART.info – Di kawasan Siring Pagatan, Tanah Bumbu, berdiri sebuah usaha kecil menengah yang tengah berkembang pesat—Pentol Ikan 3R. Usaha ini digawangi oleh Riza Azwari, seorang pemuda berusia 28 tahun, asli Lombok dan kini menetap di Desa Sebamban III. Dengan semangat kewirausahaan dan komitmen pada kualitas, Riza membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi penggerak sektor pangan lokal berbasis kearifan dan inovasi.
Saat dijumpai di etalase bisnis Pentol Ikan 3R di Siring Pagatan, tepatnya di seberang Masjid Terapung Ziadatur Abrar Pagatan, pada Jumat, 30 Mei 2025, Riza Zuhari menyambut dengan senyum nyengir khasnya. Ia langsung bercerita, “Saya kuliah jurusan pemasaran, jadi awalnya lebih fokus ke distribusi dan pemasaran dulu,” ujarnya. Sikapnya yang sopan, terbuka, dan ramah saat menerima tim media membuat suasana wawancara terasa hangat dan penuh keakraban. “Tapi saya sadar, kalau mau berkembang, saya harus paham seluruh proses. Maka saya cari orang yang bisa produksi, lalu saya pelajari sambil jalan.”
Riza memulai usaha pentol ikan dengan pendekatan kolaboratif. Ia menggandeng tenaga lokal dari Desa Sungai Lembu, khususnya ibu-ibu rumah tangga yang biasa disebut “hacil-hacil”, untuk membantu produksi. “Ada lima orang setiap hari yang bekerja, dan kalau ada pesanan besar, kami tambah tenaga freelance,” jelasnya.

Produksi pentol ikan 3R berbasis pada bahan baku ikan tenggiri dan parang-parang yang diolah menjadi surimi—daging ikan giling bersih tanpa tulang. Istilah surimi berasal dari bahasa Jepang yang berarti “daging ikan olahan”, biasa digunakan sebagai bahan dasar berbagai produk olahan laut seperti bakso, nugget, dan sosis ikan. Ikan gelondongan dibeli langsung dari nelayan, kemudian dibawa ke mitra produksi di Humeirah yang sudah berizin BPOM, untuk diolah menjadi surimi. “Kalau dari 100 kilo ikan gelondongan, biasanya jadi 50–60 kilo surimi. Surimi ini yang kemudian kami cetak jadi pentol,” terang Riza.
Yang unik dari proses ini adalah tidak ada bagian ikan yang terbuang. “Kalau bikin surimi, kepala, perut, dan tulangnya itu dipisah,” katanya. “Tulang, kepala, dan sisaannya kami kelola lagi buat pakan ikan. Dicampur dedak, dijadikan tepung ikan. Jadi tidak ada yang terbuang.”
Salah satu kolam patin yang berada tepat di depan tempat produksi R3 kini menjadi tempat daur ulang limbah ikan tersebut. “Itu kolamnya Paman Iwan, yang biasa ambil limbah kami buat pakan patin. Jadi dari ikan untuk ikan,” ucapnya.

Saat ini, Riza masih menyewa tempat produksi sambil membangun fasilitas sendiri yang sesuai standar BPOM. “Bangunan itu kami siapkan khusus. Alurnya harus jelas—mana untuk penyimpanan, mana untuk produksi. Karena kalau mau pengajuan BPOM, minimal tempatnya di lahan sendiri dan terstandarisasi,” jelasnya. Bangunan itu dirancang dengan mengikuti alur industri pangan. “Iya, lebih ke alur sih. Harus jelas mulai dari penerimaan bahan baku, proses produksi, hingga penyimpanan produk akhir.”
Target Riza tahun ini adalah mendapatkan sertifikasi resmi dari BPOM. “Kami kejar tahun ini keluar izin, supaya bisa ekspansi lebih luas dan bisa masuk pasar oleh-oleh atau retail yang lebih besar,” ujarnya optimis.
Dalam sehari, produksi pentol ikan 3R bisa mencapai 200–250 bungkus. Penjualan rata-rata harian bisa menyentuh Rp4–5 juta. “Kalau rutin, sebulan bisa di atas Rp100 juta omzetnya. Tapi ya tetap ada tantangan, terutama pasokan ikan yang kadang mahal, apalagi kalau nelayan tidak melaut,” kata Riza.

Harga ikan di Tanah Bumbu memang fluktuatif. “Kadang ikan parang-parang di sini bisa sampai Rp20 ribu, padahal di Kintap cuma Rp15 ribu. Kami harus pintar-pintar cari selisih harga dan pasokan yang stabil,” tambahnya.
Riza bukan sekadar pelaku usaha lokal. Ia pernah mewakili Kalimantan Selatan dalam ajang BRILIAN Preneur 2022, sebuah kompetisi yang diadakan oleh BRI untuk menjaring pengusaha muda berbakat dari seluruh Indonesia. “Kami dari TDA Banjarbaru, Banjarmasin, dan saya sendiri ikut sebagai finalis. Itu pengalaman luar biasa, bisa belajar dari pengusaha lain,” kenangnya. Riza hanya diberi waktu dua menit saat sesi elevator pitching, namun selama enam bulan penuh ia dan para finalis lainnya diundang secara rutin ke Kantor BRI A. Yani Banjarmasin. “Kami diajari manajemen usaha, termasuk cara mengelola karyawan, analisa kompetitor, dan menyusun goal. Step by step. Coach-nya itu wirausahawan nasional yang kalau kita bayar sendiri mahal banget. Bisa konsultasi langsung, luar biasa manfaatnya,” katanya.
Dengan pendekatan maklon, yaitu sistem produksi di mana produsen menyediakan produk untuk merek lain sesuai pesanan, Riza juga membuka peluang kerja sama. “Kami bisa bantu produksi pentol untuk merek lain juga, asal bahan bakunya standar. Kita siapkan bahan bakunya, mereka kasih mereknya, sistemnya maklon,” ungkapnya.

Kini, Riza tak lagi bujangan. “Sudah punya istri, belum punya anak. Istri saya dari pondok pesantren Barabai,” ceritanya sambil nyengir khas.
Namun yang pasti, tekadnya untuk tumbuh dan memberikan dampak ekonomi bagi sekitar terus menyala. “Kalau usaha ini jalan, bukan cuma saya yang untung. Tapi masyarakat juga dapat kerja, dan produk lokal bisa bersaing,” tutupnya.
Bersama pengusaha muda seperti Riza Zuhari, wajah ketahanan pangan lokal di Tanah Bumbu tidak hanya bertumpu pada tradisi, tetapi juga inovasi dan keberanian. Pentol Ikan 3R adalah contoh bagaimana ekonomi kerakyatan bisa tumbuh dari semangat dan kreativitas generasi muda. (Om-An)
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.