
SIDRAP — Langkah tenang di tepian Sungai Batu Tangnga berubah menjadi pesan besar yang menggema lebih jauh dari sekadar destinasi wisata. Bupati Syaharuddin Alrif menegaskan satu arah baru: kebangkitan ekonomi tidak harus dimulai dari kota besar, tetapi bisa tumbuh kuat dari desa, dari alam, dari pilihan sederhana masyarakatnya sendiri.
Kunjungan ke kawasan Batu dan Puncak Bila, Selasa (24/3/2026), menjadi lebih dari sekadar agenda lapangan. Ia menjelma menjadi momentum—bahwa ketika masyarakat memilih berwisata di daerah sendiri, maka saat itu pula roda ekonomi rakyat mulai berputar lebih cepat.
Di tengah suasana santai, Bupati hadir tanpa jarak. Ia menyapa warga, berdialog langsung, dan menyatu dalam kebersamaan yang terasa hangat. Tidak ada sekat antara pemimpin dan rakyat—yang ada hanyalah kesadaran bersama bahwa potensi daerah adalah kekuatan utama yang harus dijaga dan dimanfaatkan.
“Di sinilah kekuatan kita. Alam yang indah, masyarakat yang ramah, dan peluang ekonomi yang nyata,” ujarnya singkat namun tegas.
Pesan itu mengandung makna strategis. Ketika wisata lokal menjadi pilihan utama, maka dampaknya tidak berhenti pada kunjungan semata. Ia mengalir ke pelaku usaha kecil, pedagang, pengelola wisata, hingga masyarakat sekitar. Sebuah ekosistem ekonomi yang tumbuh dari bawah, kuat karena ditopang oleh kebersamaan.
Kehadiran Haslindah Syaharuddin semakin memperkuat nuansa tersebut. Ia berbaur dengan para pengunjung, khususnya ibu dan anak, menciptakan ruang interaksi yang sederhana namun penuh makna—bahwa pembangunan juga hadir dalam bentuk kedekatan dan perhatian.
Keindahan Sungai Batu Tangnga dengan airnya yang jernih berpadu dengan lanskap perbukitan Puncak Bila yang menenangkan. Namun lebih dari itu, kawasan ini kini memancarkan energi baru: optimisme bahwa daerah mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri.
Apa yang terjadi di Sidrap hari itu bukan sekadar kunjungan. Ia adalah pernyataan arah—bahwa masa depan ekonomi Indonesia bisa dimulai dari langkah kecil di daerah, dari keberanian untuk mencintai potensi sendiri, dan dari keputusan untuk tidak lagi bergantung pada yang jauh.
Dari Sungai Batu Tangnga, sebuah gerakan lahir. Tenang, tetapi pasti. Dekat, tetapi berdampak luas. Sebuah pesan yang tidak hanya milik Sidrap, melainkan untuk seluruh daerah di Indonesia.
Subscribe untuk mendapatkan pemberitahuan informasi berita terbaru kami.